Jakarta Concert Orchestra Whimsically Wraps up the Year with Disney Pieces

Once upon a dream…

 

December dan dream adalah dua kata yang saling terkait. Keduanya merujuk pada satu titik proyeksi masa depan baru yang indah. Perpaduan elemen-elemen ini yang menyusun karakter konser penghujung tahun 2019 dari Jakarta Concert Orchestra. Oleh Avip Priatna sang konduktor, December spirit dan soul of dream diramu melalui tema Disney yang terejawantahkan dalam bentuk pertunjukan musik ‘When You Wish Upon A Star’. Melalui suguhan sekitar 20 soundtrack film dari studio kreasi Walt Disney, musical performance yang dilangsungkan di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki dan didukung oleh Galeri Indonesia Kaya ini berhasil membawa tetamu terhanyut dalam suasana nan dreamy.

Ketika tirai merah panggung terangkat pada sore itu, formasi orkestra yang didirikan Avip Priatna bersama Prof. Dr. Toeti Heraty Rooseno pada tahun 2002 tersebut tampil di samping set tangga di mana sebuah layar besar untuk menampikan animasi Disney menjadi latar dari panggung tingkat ke dua. Overture berisi komposisi penggalan-penggalan berbagai lagu Disney menjadi gerbang dari rangkaian musical fantasy pimpinan konduktor alumni Hochschule fur Muzick und Darstellende Kunst di Vienna, Austria itu. Pada detik-detik terakhir konser berakhir, lantunan harmonisasi balok-balok not dari permainan biola, cello, contrabass, flute, oboe, trombone, ditugaskan sang konduktor untuk menjadi pengiring para tamu yang dimintanya secara bersama menyanyikan potongan bait-bait beberapa lagu Disney. On that night, every single one seems to come home with smile of joy. Applause.

Who’s on earth can’t be mesmerized by Disney magic? Dalam konser ini, formula ajaib dari lagu-lagu ragam film Disney tertuang dalam rupa-rupa format vocal show, seperti trio yang membawakan ‘How does a Moment Last Forever’ dari ‘Beauty and the Beast’, duet ‘A Whole New World’ ala ‘Aladdin’ ataupun ‘I See the Light’ dari ‘Tangled’, Quartet dengan lagu ‘How Far I’ll Go’ dari ‘Moana’, solo untuk ‘Reflection’ milik ‘Mulan’ atau ‘Colors of the Wind’ milik ‘Pocahontas’, dan lain sebagainya. Elemen-elemen “non-musik” yang ditampilkan tiap performer, seperti ekspresi wajah, bahasa tubuh, koreografi, hingga kostum, berkontribusi pada totalitas pembangunan atmosfer. The magical spell of Disney yang tersalur melalui kombinasi hal-hal tersebut mampu menutup kerikil-kerikil kecil yang lumrah ditemui pada sebuah pertunjukan seni musik, misalnya kesalahan teknis pada eksekusi vokal

Di antara keseluruhan pengisi pertunjukan yang masing-masingnya menuai tepuk tangan, sesi tampil anak-anak tentu selalu mencuri perhatian. Tak satupun dapat menahan senyum melihat betapa cute personel The Resonanz Children’s Choir menyanyikan ‘Mickey Mouse March’ sambil mengenakan bando kuping Mickey berlatar animasi tikus legendaris itu, ataupun saat mereka menyanyikan ‘Under the Sea’ dari ‘The Little Mermaid’ dengan dikelilingi soap bubbles. Akan tetapi jika harus menyebut satu persembahan yang memukau, maka itu adalah duet Farman Purnama dan Jessica Januar dalam melantunkan ‘True Love’s Kiss’ dari ‘Enchanted’ dalam latar olah vokal Batavia Madrigal singers yang kala itu berjejer memenuhi tangga pada set panggung. Secara general, pertunjukan Jakarta Concert Orchestra yang terselenggara pada tanggal pertama Desember 2019 ini cukup sukses menyuguhkan dream-like feel khas Disney. Karakter tersebut mengingatkan pada konser ‘Spirit of the Season’ di Desember 2014 silam dimana rangkaian Christmas carols dibawakan oleh Avip Priatna beserta orkestra asuhannya.

Finally, if we could ask for more, we’d like to see Avip Priatna infuse more twists or even a lil bit of “madness” in producing the arrangement.