Is Luxury Flight Worth the Price?

TANTRA TOBING

From menu by Michelin star chef to Rolls Royce service.

 

For me, travelling is not just about the destination, but also the journey. Bahkan terkadang saya lebih enjoy dan excited ketika berada di pesawat udara dibanding saat tiba di tujuan liburannya itu sendiri. Hal-hal seperti goncangan kecil saat take off dan landing memberikan sensasi luar biasa.

Papa dan Mama saya memang merupakan avgeek (singkatan dari aviation Geek, panggilan informal untuk para penggila aviasi seperti saya) dengan frekuensi traveling yang tinggi. Sampai sekarang pun saya masih menganggap mereka guru terbesar saya di dunia aviasi. Ketika saya kecil, mereka lebih sering mengajak saya menghabiskan weekend ke bandara Soekarno Hatta untuk melihat deretan pesawat yang terparkir rapi di apron. Saat itu, melihat pesawat take off dan landing terasa jauh lebih menyenangkan saya dibanding pergi ke toko mainan. Jelas bahwa kekaguman saya terhadap dunia aviasi sudah dimulai sangat awal.

Ketertarikan pada dunia penerbangan nyatanya punya peran penting dalam hidup saya. Hasrat untuk mencoba berbagai macam airlines mendorong saya untuk memiliki penghasilan sendiri di usia 17 tahun. Karena passion itu pula saya melakukan solo traveling ke berbagai penjuru dunia. Selain menjadi faktor pendorong traveling, kesukaan saya pada in-flight experience tersebut membentuk gaya traveling yang unik. Setiap traveling (terutama ke luar negeri) yang menjadi pertimbangan utama saya adalah airlines yang ingin dinaiki. Setelah itu barulah saya menentukan negara yang ingin dikunjungi.

Saya punya beberapa pertimbangan dalam memilih maskapai penerbangan. Sebagai seorang yang antusias mencoba berbagai airlines, saya prioritaskan maskapai yang belum pernah saya coba. Setelah itu pertimbangan harga, jaringan rute, kredibilitas, dan yang tak kalah penting adalah fasilitas-fasilitas. Perihal fasilitas bahkan menjadi poin substansial yang benar-benar saya perhatikan. Many of them are exquisite. Sejauh ini, saya sudah menaiki premium cabin (First atau Business Class) di 18 dari 20 airlines terbaik di dunia versi Skytrax. Saya menulis banyak review – secara independen – mengenai luxury flight (selain juga luxury hotel dan fine dining di berbagai negara).

Salah satu yang menjadi favorit saya dalam hal penerbangan premium adalah Singapore Airlines. Berdasarkan pengalaman pribadi, slogan “a standard of service that even other airlines talk about” dari mereka bukan omongan belaka. Para penumpang Suites dan First Class bisa menggunakan jalur khusus di Changi Airport, dan bersantap a la carte sambil menyeruput Dom Pérignon Champagne di lounge The Private Room. Singapore Airlines juga sangat unggul dengan hard product di kabin. Headset Bang Olufsen, selimut dan amenity kit Lalique (untuk penerbangan jarak jauh) tersedia di seat.

Mereka juga memiliki jajaran chef Michelin Star berbagai restoran berkelas dunia untuk menjamin pilihan kuliner mewah seperti lobster dan caviar yang akan dipersiapkan khusus untuk penumpang di kabin premium. Dom Perignon atau Krug Champagne akan menjadi pendampingnya. Singapore Airlines bahkan menyajikan Jamaican Blue Mountain coffee dan Feng Huang Dan Cong tea, yang merupakan varian paling eksklusif dari masing-masing jenis minuman itu.

Sebagian orang mungkin akan mempertanyakan apa poin dari memilih penerbangan mewah. Beberapa bahkan mungkin berpikir bahwa hal seperti itu pointless. Well, luxury travel or flight might not be everybody’s cup of tea. Bagi saya, sebagaimana sudah disebut di awal, traveling bukan cuma tentang destinasi melainkan perjalanannya. I try to be comfortable in both aspects; destination and journey. Luxury flight and travel fulfill those needs. Berada di suite atau first class, penumpang akan dimanjakan dengan berbagai fasilitas dan layanan untuk memastikan kenyamanan mereka selama perjalanan. I strongly believe this will be beneficial to help you reach your final destination in prime and mint condition.

Lebih dari soal kenyamanan, luxury flight juga berkaitan dengan penciptaan memorable experience. I believe everybody wants to have a seamless and memorable journey to remember in each of their flight – be it for pleasure or business trip. Penerbangan kelas satu tentu akan menyuguhkan hal tersebut, mulai dari titik awal keberangkatan hingga destinasi akhir. Contohnya adalah pengalaman yang ditawarkan oleh airlines favorit saya yang ke dua, Oman Air. Maskapai ini menyediakan berbagai fasilitas super eksklusif di lounge mereka. Di barnya, Anda bisa menenggak Hennessy XO Paradis cognac dan Balvenie 30 years old whisky. Toiletries dari Amouage (merk yang dipakai keluarga kerajaan Oman) tersedia di toiletnya.

Oman Air juga merupakan satu-satunya maskapai yang menyediakan caviar Beluga. Bila memang “penting” untuk Anda, Anda bisa memilih opsi naik ke pesawat dengan menggunakan Rolls Royce Phantom J. So, flying premium class is not just about the visible perks that you can enjoy in the flight, but beyond that, it is also about creating good memories to share with your loved ones; a treasure for a lifetime. Sekali lagi, ini semua adalah soal pilihan. Bahkan orang-orang yang mampu membeli pengalaman itu pun tak seluruhnya menganggap hal tersebut bernilai. When earlier I said, “it might not be a cup of tea for everybody,” the wealthy is not an exception.

Mendengar istilah first class, jangan mengira bahwa semua perusahaan penerbangan berhasil memberi kualitas yang setimpal dengan harga. Unfortunately, not all airlines’ services in premium class worth the cost. Sedikit berbagi tips bagi Anda yang ingin menikmati penerbangan “istimewa”, you might want to subscribe to newsletters of your favourite airlines, so you can be one of the first to snatch the promotional fares. Sebagai penutup, saya merekomendasikan satu maskapai penerbangan favorit lainnya, yakni Air France. Di benua Eropa, Air France merupakan maskapai terdepan dalam memanjakan para penumpang La Premiere-nya. Setiba di airport, Anda akan dipersiapkan seorang escort terlatih yang akan selalu berada di sisi anda untuk mengurus semua kebutuhan selama di airport terpenuhi dengan baik dan personal.

Air France First Class Lounge di Paris juga merupakan salah satu yang paling elegan di dunia. Dijamin Anda akan mengharapkan pesawat delay agar bisa berlama-lama menunggu di tempat itu. Yang paling istimewa adalah menu a la carte dari Alain Ducasse – celebrity chef yang memiliki restoran Michelin Star terbanyak di dunia, dan juga merupakan duta besar untuk kuliner Prancis di kancah internasional. Anda juga bisa melakukan wine tasting dengan pilihan vintage terbaik dari para sommelier ternama. Selama penerbangan, 7-course meal Anda akan dimulai dari caviar, foie gras, dan berbagai pilihan lain dari Guy Martin, salah satu chef Michelin Star terbaik dunia. Para cabin crew juga sangat knowledgeable untuk memberikan saran wine pairing yang cocok untuk setiap hidangan Anda.

Bagaimana penerbangan mewah di masa mendatang? Tentu akan sangat menarik melihat perkembangan produk luxury flight kedepannya. Para maskapai ternama di dunia berkompetisi secara intens untuk memberikan produk, fasilitas, dan servis terbaik kepada para penumpang premium mereka. For this, I believe the sky is the limit. Literally.