Harry Halim Spring/Summer 2026, Kebangkitan Pasca Duka

A bold new chapter.

 

Nuansa misterius malam itu hidup di Brickhall, Fatmawati, Jakarta. Di sana, berlangsung presentasi koleksi Harry Halim Spring/Summer 2026 dengan atmosfer khas yang dark. Dinding bata dipancarkan pencahayaan redup dan lampu rona merah. Harry memberi tajuk koleksinya “11/11”, yang juga menjadi tanggal kelangsungan show. Angka itu memiliki makna kebangkitan dan awal baru akan duka yang dialami sang desainer pasca wafatnya sang ayah tercinta, satu bulan lalu.

Di momen konferensi pers, sebelum presentasi koleksi berlangsung, Harry mengutarakan bahwa koleksi ini bermakna chapter yang baru. Makna kekuatan di dalamnya direpresentasikan oleh rupa burung gagak hitam. Rupa itu hadir sebagai format looks koleksinya. Pada opening look, tampil peraga dalam paduan fedora hat, tuxedo coat bernuansa strong shoulders, shorts dan over-the-knee boots serba hitam.

Tone monokrom merupakan chapter pertama dari dua bagian yang disuguhkan. Siluet dramatis dari zipper balloon mini dress bermaterial kilap tampil dengan aksen detail lilit di bagian pundak hingga wrist. Ada pula bomber jacket dengan motif dahan yang dramatis. Diikuti oleh motif stripes dalam rupa tuxedo set, drawstring dress, dan kemeja dengan elongated tail yang flowy.  

Harry menciptakan siluet arsitektural yang solid dengan mengkreasikan triptych pada crinoline skirt. Dalam palet hitam, ia mengolah siluet tuxedo jacket menjadi hoodie jacket dengan aksen tailored. Look ini menjadi penanda transisi ke chapter kedua dari rangkaian koleksinya.

Busana yang disuguhkan tampil lebih lembut di chapter terakhir. Hadir suit dress asimetris dalam palet abu-abu dengan paduan platform Kitana boots khas Harry Halim. Material denim turut hadir dengan imbuhan leather pada salah satu lapel, atau konstruksi corsetry di bagian torso. Palet pastel seperti nude didesain dalam kreasi suit dress aksen lipit, bersamaan dengan suit warna sage green dengan potongan jacket asimetris.

Harry turut mengungkapkan bahwa dirinya baru saja menyelesaikan project acting perdana dalam dunia seni peran. Kehadiran aktor dalam daftar peraga koleksinya menguatkan keseriusan itu, seperti Chicco Jericho dan Jihane Almira. Luna Maya yang menutup presentasi mengenakan dress dan siluet rok crinoline berpalet pastel. Kontras dan indah, terasa seperti doa mengenai perpisahan, penerimaan, dan kebangkitan yang lembut.