Fashion that transports us to a different realm.
Fantasi tampaknya menjadi komponen dasar dari koleksi Haute Couture Valentino, Chanel, dan Christian Dior untuk Spring/Summer 2025. Di tengah kejenuhan realita, koleksi-koleksi ini mengingatkan kembali akan bagaimana fashion, terutama couture, bisa menjadi dunia impian di mana khayalan menjadi kenyataan. Here, we will share our review on the collections from Valentino, Chanel, and Dior.
Valentino
As Alessandro Michele’s debut couture collection for Valentino, this particular presentation has attracted a lot of anticipation. Untuk koleksi ini, Michele memilih judul “Vertigeneux” yang memiliki arti “berputar” dalam bahasa Prancis. Pada setiap kursi di fashion show-nya, Michele juga mempersiapkan dokumen 100 halaman berisi daftar bahan, teknik, referensi, dan waktu yang dibutuhkan untuk mengkreasikan setiap look.

Bersama tim barunya di Valentino, Michele telah mengkreasikan 48 karya couture yang meninggalkan kesan mendalam. “Each dress is not just an object, it’s rather the knot of a net of significance: a living cartography that keeps traces of visual and symbolic memories,” ujar Michele. Tampilan pembuka koleksi ini, sebuah gaun ala Harlequin yang mereferensi kreasi sang rumah mode di tahun 1992, membutuhkan waktu 1.300 jam untuk dibuat. Di dokumen Michele, tertulis sebagai referensi-referensi untuk look tersebut adalah abad pertengahan, mosaik, hingga ikan mandarin. The plethora of inspirations can be observed in all of the couture looks, delivered in Michele’s signature maximalist fantasy.
Seperti konstelasi visi, berbagai inspirasi melebur di setiap kreasi. Ada unsur tulisan Shakespeare, era dinasti Tudor, referensi ke archives Valentino, Marie Antoinette, hingga sosok femme fatale. Peleburan itulah yang menjadi intensi Michele di balik nama “Vertigeneux”. Ruffles, feathers, pleats, and sequins further imbue the collection with charm and drama. Melengkapinya adalah topeng-topeng ornat dengan rantai yang menjuntai menutupi wajah.
Chanel
Koleksi haute couture ini sekaligus memperingati 110 tahun di mana sang rumah mode berkarya dalam seni tersebut. Mungkin kata “Chanel” kerap diasosiasikan dengan warna hitam dan putih, tetapi pada kenyataannya Gabrielle Chanel juga merupakan colourist yang berbakat. “Comfort has forms. Love has colours.” she said.

Di tengah Grand Palais, logo Double C membentuk simbol infinity. Presentasi koleksi ini kemudian dibuka dengan apa yang sekilas terlihat seperti jaket tweed putih. Look closer, and you realise that it’s actually painted in watercolour pastels. Warna-warna lembut seperti beige, pink, lavender, aqua, hingga sky blue memang mendominasi koleksi Couture musim ini.
The looks are romantic and dreamy. Salah satu showstopper koleksi ini adalah jubah flouncy berwarna biru yang bernuansa Cinderella. Gaun-gaun hadir dalam peach datang dengan lengan dramatis bagaikan bunga merekah, atau dalam warna hitam dan bertabur bintang. Dalam koleksi ini, tweed warisan sang rumah mode mengambil wujud baru sebagai jubah berwarna champagne, setelan berwarna kuning pastel, dan jacquard dress ungu muda.
Christian Dior
Seperti Alice in Wonderland, Maria Grazia Chiuri mengeksplorasi sebuah realita berbeda untuk Dior Spring/Summer 2025 Haute Couture. Di dunia fantasi di mana flower-woman dan bird-woman berkelana dengan bebas, impian fashion menjadi kenyataan. Koleksi ini kemudian menjadi petualangan wonderland tersendiri, menjelajahi referensi ke masa lalu dan masa sekarang di tengah luapan imajinasi.

“Recompositions as fleeting as they are fantastic.” ungkap sebuah kutipan dari rilisan pers untuk koleksi ini. Memetik inspirasi dari Trapèze line yang dikreasikan Yves Saint Laurent untuk Dior pada tahun 1958, siluet-siluet musim ini mengembang dengan surealis. Lace-trimmed tulle culottes menyiratkan memori masa kecil seorang perempuan, sementara headdress bulu yang dikenakan para model memberikan referensi kepada subkultur punk.
Sebuah crinoline, fashion item yang mengingatkan kami ke era yang telah lewat, hadir dalam versi modernnya. Merekah pada strukturnya adalah fantasi dan benang menjuntai dalam warna hitam, pink muda, putih, hingga emas. Siluet Cigale yang dikaryakan Monsieur Dior untuk koleksi haute couture Fall/Winter 1952 disuguhkan ulang sebagai rok yang dipasangkan dengan fitted tailcoat. Aksen bulu dan embroidery metalik menambahkan lebih lagi elemen fantasi kepada koleksi yang merayakan kebebasan kreativitas dan khayalan.