Equestrian Fashion: From Channeling Masculinity To Deconstructing Femininity

Across the time and culture, how women dress for horse riding has never been merely about the style itself. Equestrian fashion speaks on emancipation and deconstruction of being a woman.

 

Perdana Menteri Dubai Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum boleh berbahagia karena kudanya Masar berhasil memenangkan pertandingan bergengsi Epsom Derby tahun ini dan membawa pulang hadiah sebesar dua juta dollar. Namun bagi masyarakat luas, euforia akan horse racing tampaknya akan tercurah pada Royal Ascot di akhir Juni nanti, di mana pacuan mode antar pengunjungnya akan lebih mendapat perhatian (terutama terhadap anggota keluarga Ratu Elizabeth) dibanding kompetisi berkuda itu sendiri.

Kegiatan berkuda memang punya pengaruh signifikan pada urusan fashion. Perjalanan relasi antar keduanya bahkan bukan sekadar tentang inspirasi elemen sartorial. Ornamen maupun siluet a la equestrian juga merupakan kisah pergulatan kehidupan perempuan.

 

Equal Equestrianism
Sejak dahulu hingga saat ini, kegiatan berkuda yang pada masa lalu diasosiasikan sebagai budaya kaum bangsawan terus menstimulasi kreativitas desainer dalam berkarya. Pada tahun 1837, rumah mode Hermès mengawali sejarahnya sebagai harness workshop. Begitu pula dengan Gucci yang merupakan saddlery shop pada awal rintisan di tahun 1906. Namun berbeda dengan Hermès yang konsisten dengan jejak tapak kudanya meski identitasnya berkembang juga sebagai pencipta opulensi Birkin buaya (Hermès bahkan memiliki horse event sendiri bernama Saut Hermès yang diadakan sejak tahun 2010), Gucci kini tampak semakin jauh dari citra originalnya di area pacu-memacu dan fokus kepada tema garden dan flower power.

Selain Hermès dan Gucci, pemain lain dunia mode yang lekat dengan image kegiatan berkuda adalah Ralph Lauren. Gambaran polo shirt tentu akan muncul di benak banyak orang kala mendengar nama desainer Amerika tersebut. Untuk musim Fall/Winter 2018, inspirasi equestrian menjadi salah satu garapan dari koleksi Zimmermann. Mengenai isi koleksinya yang didominasi dress aksen ruffle romantis itu, Nicky Zimmermann menjelaskan bahwa ia membayangkan gadis imajiner yang hidup terkekang di era Victorian dan merasakan kebebasan saat menunggang kuda. Mempertimbangkan keterkekangan Victorian sebagai konteks referensi equestrian dari koleksi Zimmermann, kita bisa berfantasi bahwa gadis khayalan yang cantik nan malang tersebut mungkin juga berharap agar kelak suatu saat bisa mengendarai kuda dengan mengenakan pakaian laki-laki yang memberi kebebasan lebih dalam bergerak.

 

 

Faktanya, pada tahun 1881 di London terbentuk organisasi Rational Dress Society. Grup ini merupakan bagian dari gerakan Victorian Dress Reform yang sudah dimulai sejak tahun 1850-an dengan tujuan merombak kultur busana zaman itu yang sangat membatasi aktivitas perempuan dan membahayakan kesehatannya. Gaun dan rok yang sangat bervolume serta berat jelas tak luput dari kritik. Fenomena ini membuahkan ragam inovasi solusi berpakaian hingga akhirnya celana diperkenankan untuk menjadi bagian dari isi lemari perempuan meskipun hanya boleh digunakan untuk melakukan kegiatan tertentu saja, seperti bersepeda dan berkuda (FYI: Seperti dilkutip dari situs berita Time, baru pada tahun 2013, Prancis secara resmi menghapus aturan bahwa perempuan hanya diperbolehkan memakai celana untuk bersepeda atau berkuda. Ini menunjukkan semakin seriusnya perhatian publik untuk perempuan mendapat pengakuan yang sah atas kesetaraannya).

Mengiringi isu busana yang layak bagi perempuan pada zaman tersebut adalah diskusi tentang bagaimana cara terbaik untuk perempuan berkuda dan bersepeda. Melalui gerakan-gerakan emansipatif seperti Women’s Suffrage, praktik side saddling (menunggang kuda dengan posisi duduk miring) yang dianggap sebagai bentuk kesopanan perempuan pun tersudut. Pada awal abad ke-20, perempuan yang berkuda dengan posisi astride atau mengangkang sudah menjadi hal lumrah. Tiap kemajuan yang diraih dalam wacana gender tersebut membawa dampak positif bagi posisi perempuan di bidang olahraga pacuan kuda. Kini olahraga tersebut merupakan salah satu dari sedikit jenis olahraga di mana perempuan dan laki-laki bertanding satu sama lain, yang berarti bahwa perempuan dianggap memiliki level kompetensi setara dengan laki-laki – walaupun secara faktual para jockey perempuan masih mengalami rupa-rupa diskriminasi berdasarkan gender.

Pencapaian perjuangan kesetaraan gender dalam mengakses hal-hal yang sejak lama identik dengan ketangguhan laki-laki maskulin, termasuk soal cara menunggang kuda juga pakaian berkuda, semakin memperkuat terbangunnya citra perempuan yang tangguh dan memiliki kompetensi serius dalam berbagai segi kehidupan. Legasi dari fenomena sosial tersebut bisa jelas terbaca pada dunia mode. Sebagai contoh, tengok bagaimana nuansa gallant sekaligus intelligent terpancar dari sentuhan elemen equestrian nan maskulin pada beberapa look Salvatore Ferragamo Fall/Winter 2018. Bukan hanya terbatas pada tema equestrian, attire perempuan dalam tema apapun mengalami suatu kondisi dimana penggunaan komponen maskulin dari wardrobe laki-laki, misalnya jas dan celana, meradiasi kesan smart juga dauntless. Apakah kini Anda teringat dengan istilah power suit?

Pada ranah feminisme, anggapan mengenai efek powerful dari busana-busana perempuan bernuansa maskulin menyulut pertanyaan tersendiri. Ketika perempuan tak lagi dikekang dalam mengakses ragam jenis busana yang dulunya dieksklusifkan untuk laki-laki oleh karena polarisasi peran gender, apakah berarti perempuan benar-benar terbebas dari jajahan gender stereotype? Ataukah sesungguhnya dalam kegiatan berbusana yang telah mengalami reformasi tersebut justru terjadi pengukuhan lanjutan atas pengkutuban antara maskulinitas sebagai simbol ketangguhan dengan feminitas perlambang kelemahan? Adilkah bila perempuan yang memakai dress seketika dipandang sebelah mata atau dicap “kurang meyakinkan” terkait intelektualitas, kompetensi serta integritas kerja, dibanding rekannya yang memakai pantsuit? Haruskah perempuan “mengimitasi” laki-laki, baik dalam cara berpakaian atau apapun, untuk bisa dilihat, diukur, dan diperlakukan secara proper?

Haruskah perempuan “mengimitasi” laki-laki, baik dalam cara berpakaian atau apapun, untuk bisa dilihat, diukur, dan diperlakukan secara proper?

 

Femininity ≠ Flaw
Pernyataan baru mengenai topik tersebut datang dari koleksi Dior Resort 2019 yang terinspirasi dari Escaramuza, yakni kegiatan olahraga berkuda asal Meksiko yang penunggangnya adalah perempuan. “I wanted to show that there are so many different ways to be strong,” ucap Creative Director Dior, Maria Grazia Chiuri, kepada The Telegraph terkait koleksi Resort 2019. Salah satu cara yang dimaksud oleh Chiuri tersebut pastilah feminitas mode sebagaimana nyata terlihat pada rancangan-rancangannya di koleksi tersebut. Printed dress dengan bagian dada dan lengan berbahan lace, gaun bustier berskema tumpuk, dan berbagai kreasi lain yang kental akan DNA feminin Dior disuguhkan Chiuri dalam kerangka inspirasi ketangguhan para penunggang kuda Escaramuza, yakni kompetisi berkuda khas Meksiko yang pesertanya adalah perempuan.

Menggunakan rancangan Dior yang merekah seperti bunga, delapan Escaramuza rider membuka show dengan koreografi mengendarai kuda putih di bawah hujan yang tidak bersahabat pada akhir Mei lalu. Dalam praktik Escaramuza yang sebenarnya, koreografi yang dilakukan lebih berbahaya. Kurangnya presisi dalam mengeksekusi koreografi secara bergrup sembari memacu kuda dengan kecepatan tinggi (galloping) membawa risiko cidera fisik yang sangat serius, contohnya patah leher atau kelumpuhan. Apalagi dengan busana yang sedemikian rupa dan metode tunggang side saddling. Mereka memang tampak sangat cantik dan feminin bagai seorang putri, tapi tentu sangat keliru jika mereka dianggap lemah dan tidak berani. Perempuan-perempuan Escaramuza adalah sintesis sesungguhnya antara feminitas dan keberanian, ketangguhan, serta ketajaman riding skill.

Meskipun demikian, bila kita selidik lebih lanjut, mengangkat Escaramuza sebagai perlambang feminisme – sebagaimana Chiuri melakukannya terhadap berbagai hal lain semenjak awal berkiprah selaku Creative Director perempuan pertama Dior – sesungguhnya merupakan hal yang berisiko. Peserta Escaramuza memang semuanya adalah perempuan, namun kegiatan Escaramuza itu sendiri hanyalah satu bagian dari keseluruhan event warisan budaya Eropa berumur sekitar 500 tahun bernama Charrería yang berisi sejumlah jenis pertandingan berkuda eksklusif bagi laki-laki. Menurut para peneliti antropologi, Escaramuza baru muncul pada tahun 1950-an. Itupun hanya sebagai pertunjukkan “pemanis”. Pada tahun 1991 barulah kegiatan tersebut disahkan sebagai salah satu ajang kompetisi di Charrería. Lantas kenapa sampai saat ini perempuan tak dapat mengikuti pertandingan-pertandingan lain di Charrería?

Penggunaan pakaian feminin serta teknik side saddling di Escaramuza juga menimbulkan tanda tanya. Apakah sedari lahirnya Escaramuza peserta diwajibkan untuk tampil feminin dan berkuda side saddling oleh karena adanya pembatasan terhadap perempuan agar tidak terlalu jauh “memasuki” dunia laki-laki? Segala inquiry mengenai latar historis dari Escaramuza memang perlu diinvestigasi untuk bisa mendapat gambaran lebih kritis mengenai sifat empowering maupun discriminating di kegiatan tersebut. Namun demikian, pemaknaan-pemaknaan baru yang diberikan terhadap Escaramuza – termasuk dari sudut pandang Chiuri – juga tak boleh diabaikan karena bagaimanapun juga Escaramuza adalah produk budaya yang signifikansinya bergantung pada proses interpretasi dan reinterpretasi dari masa ke masa.

 

 

Saat Chiuri mengatakan, “The reason I like the Escaramuza is because they do something that is so macho – rodeo – in our vision, but they decided to do that in their traditional dresses which are so pretty, so feminine,” kita bisa membaca perihal isu pilihan. Yakni bahwa para penunggang Escaramuza memilih untuk merayakan dan melestarikan elemen feminin dari tradisi Escaramuza. Meski sama-sama menggunakan busana feminin serta menerapkan teknik side saddling, perempuan penunggang kuda di era Victorian jelas tak bisa disamakan dengan penunggang Escaramuza saat ini. Letak perbedaannya terdapat pada ada atau tidaknya pengakuan atas kebebasan perempuan untuk memilih cara ekspresi diri. Sebuah artikel tahun 2017 di The Texas Observer mengenai Escaramuza memperlihatkan bahwa di luar kegiatan Escaramuza, penungganggnya melakukan aktivitas berkuda lainnya dengan metode astride atau mengangkang. Di video Dior berisi interview dengan seorang penunggang kuda Escaramuza pun dapat dilihat mereka berlatih dengan mengenakan jeans.

Dalam dunia modern di mana hak perempuan untuk berekspresi sudah cukup banyak terakomodasi, tugas lain yang diemban oleh perjuangan gender adalah mempertanyakan dan mendekonstruksi pemaknaan simbol-simbol maskulin sebagai segala kehebatan dan simbol-simbol feminin sebagai segala kelemahan. Mengenakan rok atau celana harusnya tak boleh menjadi tolak ukur kompetensi perempuan maupun bagaimana perempuan diperlakukan. Chiuri telah lantang menyerukan hal ini lewat koleksi Dior Resort 2019 di mana inspirasi busana penunggang Escaramuza, yang merujuk pada kostum sosok Adelita atau pejuang-pejuang perempuan semasa Mexican Revolution, berbicara soal feminitas yang tangguh.

Diskusi dan debat mengenai cara perempuan bereksistensi melalui mode, olahraga, maupun hal lain dalam kaitannya dengan isu equality, empowerment, juga identity, harus terus berlanjut demi kemanusiaan yang lebih baik. Dalam proses tersebut, yang patut disyukuri dan dibanggakan adalah bahwa kita sudah bergerak sedemikian jauh hingga sampai pada kondisi dimana tersedia ruang yang cukup luas bagi tiap pendapat untuk dibagikan dan dipercakapkan bersama. We have not arrived at the best place, therefore we must keep riding all the conversation in the right direction.