Edward Hutabarat Transforms Ulos into Simple and Classy Collection

And more about the treatment towards wastra.

 

Lantunan tembang-tembang khas Sumatera Utara oleh kelompok musik yang menyambut tetamu peragaan busana tunggal Edward Hutabarat pada Oktober lalu bukan hanya melengkapi suasana cantik tepi kolam The Dharmawangsa yang berhias deretan lampu gantung. Pertunjukan tersebut menjadi pernyataan pembuka dari substansi koleksi desainer yang akrab disapa Bang Edo itu. Ulos, kain peradaban tanah Batak, kampung halaman sang perancang, menjadi garapan utamanya. Momen seorang Edward Hutabarat menyuguhkan koleksi tekstil dari bumi kelahirannya memang memunculkan curiosity tersendiri. Selain jelas karena perihal keterkaitan latar belakang sang desainer, namun juga lantaran sosoknya yang “militan” dalam cara pandang terhadap bagaimana seharusnya kain-kain dari berbagai penjuru Nusantara diperlakukan.

Sebagaimana “Batik Journey’ di tahun 2016 dan lurik “Tangan-tangan Renta” pada tahun 2017, Edo kini pun menunjukkan kehebatan sentuhan tangan dinginnya pada ulos yang ditransformasi menjadi busana-busana ready-to-wear berkualitas untuk perempuan dan laki-laki. Cara khas perancang kelahiran Tarutung itu menerjemahkan kata “simple” pada kreasi-kreasinya – sebagai wujud pemahamannya akan makna modern –  bagai sebuah magic formula yang sampai saat ini terus memukau mata. Dalam garis-garis yang sleek, koleksi berjudul “Ulos in Innovation” tersebut memancarkan elegansi nan berkelas. Wastra dengan tekstur, corak, hingga paletnya berkontribusi signifikan dalam membangun kuatnya karakter koleksi ini. It’s loud yet not noisy. Satu hal lain yang perlu juga dicatat ialah bahwa dari koleksi ke koleksi Edo menampilkan konsistensi identitas desain tanpa jatuh atau terjebak kebosanan. The silhouettes are timeless.

 

Wastra, Kesantunan, Nusantara

Sleeveless jumpsuit corak garis dengan neckline cukup lebar, oversized coat berhias pesona ulos di ujung lengan, strapless dress padu ethnic outerwear, menjadi sebagian perwujudan visi estetika Edo yang dikoridori oleh prinsipnya dalam mengolah tekstil-teksil hasil peradaban penjuru-penjuru tanah air. “Tampilkan akar dengan kualitas dan santun,” demikian Edo lugas menyatakan kredo yang dipegangnya kepada hadapan tetamu peragaan busana saat itu yang meliputi desainer Didi Budiardjo, Adrian Gan, Samuel Wattimena, Oscar Lawalata, Denny Wirawan, Ivan Gunawan, hingga tokoh publik lain seperti jurnalis kawakan Rosianna Silalahi dan Ketua DPR Puan Maharani. Dengan melihat ekspresi dan merasakan energi kecintaan Edo pada negeri ini, dapat dipastikan bahwa apa yang menjadi intensinya melalui pernyaataan tersebut dilandasi oleh sikap batin yang positif. Akan tetapi pembicaraan mengenai kesantunan berbusana dalam kaitannya dengan ragam budaya daerah di Indonesia punya risiko untuk justru mematikan akar kulturalnya.

Sebagai konsekuensi logis, statement Edo mengenai kesantunan akan menuju pada pertanyaan tentang ukuran kesantunan yang menyentuh persoalan batasan keterbukaan helaian pakaian. Lalu standar mana yang valid untuk diterapkan menjadi rambu-rambu kesantunan bagi penciptaan busana? Setertutup apa sebuah pakaian perlu didesain untuk dapat dikategorikan santun dan seterbuka apa rancangan pakaian dapat dikategorikan tidak santun? Seberapa panjang atau pendek busana dan lengan busana perlu dibuat? Sebanyak apa dan di bagian mana saja bahan  transparan dapat digunakan? Bagaimana dengan ketat atau longgarnya sebuah pakaian? Bagian tubuh mana yang boleh diekspos? Di atas segalanya, apakah pula yang menjadi dasar dari penetapan tingkatan dan aspek-aspek ketertutupan dan keterbukaan dalam konsep santun tersebut?

Sebagai bangsa yang dianugrahi keragaman, Indonesia amat kaya dengan pluralitas adat istiadat, termasuk dalam hal berpakaian. Melalui pendekatan historis kebudayaan dapat terlihat bagaimana produk kultur sartorial sebagian wilayah Nusantara mewujud pada ekspresi tampilan kulit maupun lekuk tubuh yang lebih terekspos. Kebaya ketat yang menampilkan siluet torso dengan bahan transparan di beberapa bagian kulit adalah hal lazim dalam penampilan para sinden sejak lama. Mengutip situs Indonesia Kaya, Baju Bodo suku Bugis dan Makasar yang memanfaatkan bahan see-through mulanya dipakai tanpa inner-wear sehingga memperlihatkan payudara pemakainya. Deretan dokumenter gadis-gadis Bali zaman dahulu jelas menampakkan keseharian tanpa atasan alias topless. Begitu pun dengan banyak daerah di Kalimantan maupun timur Indonesia dulu (bahkan hingga kini di beberapa wilayah). Masing-masingnya dipandang santun dalam kerangka budayanya sendiri. Seiring berjalannya zaman menuju masa modern, konsep keagamaan yang masuk maupun aspek-aspek lain budaya negri asing melalui jalur perdagangan dan kolonialisme mendorong evolusi kultur lokal, termasuk dalam hal berpakaian dalam kaitannya dengan konsep kesantunan.

Berlatar kilasan etnografis tersebut, diperlukan sebuah olah pemikiran kritis dalam berbicara soal ide kesantunan berbusana seperti apa yang mampu mengakomodasi sejarah dan keberagaman  budaya daerah-daerah lokal. Sebab penerapan konsep kesantunan yang “sempit” secara esensial justru akan melukai diversitas kebudayaan Indonesia sekaligus akar-akar budaya terkait. Alih-alih berkutat soal batasan kesantunan yang berisiko mendiskreditkan sejarah perkembangan kebudayaan daerah mulai dari akarnya, akan lebih berfaedah bila yang menjadi fokus dalam proses olah wastra menjadi busana adalah penggalian khazanah sosiologis, historis, dan kultural dari suatu peradaban budaya sebagai bahan referensi dan inspirasi dalam mengembangkan kreasi-kreasi. Melalui cara tersebut, estetika koleksi bermaterial kain-kain hasil peradaban berbagai penjuru tanah air dapat dieksplorasi untuk meresonansi spirit macam-macam era – kuno hingga kontemporer dimana elemen-elemen dua masa berbeda dapat bertemu, termasuk dalam soal konsep kesantunan terkait terbuka atau tertutupnya pakaian bahkan ide mengenai sensualitas dari tiap-tiap era dan wilayah  (of course by being classy instead of trashy) – tanpa tercerabut dari konteks historis dan kultural dari wastra terkait.

 

Creativity with Cultural Respect

Usai lebih dari 50 looks karya Edo disajikan, suguhan makan malam pun menyambut tetamu di area taman samping outdoor pool. Berlatar pemandangan pepohonan pinggir kolam yang dihias cahaya-cahaya lampu bundar, atmosfer obrol kasual instan tercipta sembari ditemani kuliner Sumatra Utara racikan The Dharmawangsa. Lontong Medan adalah salah satunya. Kebudayaan Indonesia, baik dalam hal kuliner, busana, musik, sastra, bela diri, dan sebagainya memang merupakan harta berharga yang patut lestari, terus diolah, dan dikembangkan. Anugrah bagi Indonesia untuk memiliki insan kreatif seperti Edo yang sepenuh hati sekaligus rendah hati mengapresiasi serta mendalami aspek-aspek kultur tanah air. Perhatian selama tiga dekade yang dikenyam untuk melihat lebih dalam budaya Indonesia, terkhusus wastra, diakui Edo belum cukup untuk menggali kebudayaan Indonesia yang begitu kaya. Satu sikap Edo dalam mendekati dan mengolah kain-kain peradaban Nusantara tersebut penting untuk dibahas: Respect.

Dikisahkan oleh sang desainer bahwa dalam memperlakukan ulos-ulos untuk diangkat ke dalam koleksi Ulos in Innovation yang didapatnya dari Samosir, Tarutung, Muara, Silalahi, Siborong-borong, ia melakukan riset dengan terjun langsung ke masyarakat setempat, termasuk para pengrajin dan sesepuh selama kurun waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk mendapat pemahaman mendalam perihal kain-kain tersebut sehingga ketika diangkat dan diolah secara kreatif menjadi busana ready-to-wear tak rusak makna kulturalnya. Poin mengenai penghormatan terhadap kebudayaan asal yang menjadi inspirasi sebuah koleksi mode mendapat perhatian serius pada kancah global dalam beberapa tahun terakhir. Istilah ‘Cultural Appropriation’ menjadi buah bibir dari para pelaku dan pengamat fashion industry lewat kasus-kasus yang melibatkan penggunaan elemen-elemen kultural berbagai kebudayaan oleh brand mode ternama. Sebagai contoh sebut saja rumah mode Carolina Herrera yang dimintai penjelasan oleh pemerintah Meksiko tentang penggunaan corak khas indigenous Mexican dalam koleksi Resort 2020, serta kecaman soal turban Gucci koleksi Fall/Winter 2018 yang menyinggung komunitas Sikh.

Pelik memang untuk berkecimpung di isu cultural appropriation; yang didefinisikan sebagai adopsi elemen-elemen kebudayaan lain tanpa persetujuan masyarakat kebudayaan terkait. Wajah diskursus ini bukan hanya menyangkut problem plagiarisme versus inspirasi, melainkan juga terkait relasi kuasa atau dominasi antar budaya yang bersangkutan dengan representasi kultur marginal, pelanggaran hak properti intelektual atas produk kebudayaan suatu masyarakat adat, eksplotasi dan objektifikasi kebudayaan daerah demi kepentingan ekonomi korporat modern, lepas atau hancurnya pemaknaan kultural serta historis elemen-elemen budaya lokal, respect and insensitivity, soal dapat atau tidaknya suatu produk kebudayaan diklaim original dan dimiliki pihak tertentu, hingga gap antara kebebasan interpretasi artistik dan etika berseni. Pemikir-pemikir dunia akademis juga pelaku-pelaku kreatif saling silang argumen dalam menyikapi wacana tersebut. Pertanyaan tentang apakah memang sepatutnya insan kreatif hirau akan “rambu-rambu”dalam memperlakukan aspek-aspek budaya lain ataukah memiliki kebebasan mutlak untuk tak acuh pada substansi makna historis-kultural sebuah produk budaya sehingga dapat mengisinya seliar mungkin dengan interpretasi artisik baru memerlukan telaah kritis menggunakan pisau teoretis yang tajam.

Akan tetapi, mengenai stand Edo untuk “kula nuwun” guna melihat, mempelajari, dan mengolah wastra Nusantara – termasuk yang berasal dari tanah kelahirannya sendiri – secara ringkas bisa dilihat manfaat-manfaat positifnya. Selain berfungsi sebagai bentuk penghormatan langsung kepada cipta, rasa, dan karsa dari subjek-subjek budaya sebuah wilayah, cara tersebut pun memperkaya pelaku artistik dalam mengeksplorasi inspirasi melalui penambahan pengetahuan historis-kultural yang digali yang berdampak pada perluasan cakrawala perspektif dalam melihat suatu kebudayaan. Mencakup kedua aspek tersebut, koleksi Ulos in Innovation karya Edo yang ditampilkan di The Dharmawangsa pada 17 Oktober lalu merupakan hadiah spesial bagi Hari Ulos Nasional yang jatuh setiap tanggal tersebut. Kini yang juga perlu untuk lebih didengar darinya adalah kisah seorang Edward Hutabarat mengolah desain-desain kimono asal Negeri Sakura yang signifikan hadir dalam koleksinya. Lebih dari mengenai alasan ketertarikanya, tapi juga tentang bagaimana, sejauh mana, dan apa saja yang didapat melalui penggalian terhadap budaya kimono. Sebagaimana ulos, kimono pun merupakan produk peradaban berusia ratusan tahun yang salah satu fungsinya juga menandai berbagai seremoni atas tahapan-tahapan kehidupan manusia sehingga patut untuk mendapat porsi apresiasi yang setara dengan hasil-hasil kultur peradaban lainnya.