Edward Hutabarat Angkat Keunikan Teknik Tenun Sumba

Kabakil, a uniqueness of Sumba’s textile.

 

Budaya Indonesia begitu sarat akan keanekaragaman. Jika dilihat saksama dan mendetail, pada produk-produk budaya tersebut terdapat ciri khas yang menjadi representasi dari asal dan nilai masyarakatnya. Hal ini juga dapat ditemukan pada kreasi tenun Sumba yang kekhasan sentuhan finishing-nya dinamai “Kabakil”.

Teknik kabakil dikerjakan dengan arah tenun berlawanan dan dipelintir di bagian ujung pada penyelesaian sehelai kain agar benang-benang tidak keluar dari kain sehingga tampak rapi. Craftsmanship unik ini diambil Edward Hutabarat sebagai judul koleksinya yang ditampilkan di area Candi Borobudur beberapa waktu silam.  Dalam riset dan pembuatan koleksinya, Edward Hutabarat menggandeng Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk turut memberdayakan artisan wastra dari tanah Sumba.

Keanggunan perempuan nusantara yang dibidik Edward Hutabarat terlihat dari rangkaian koleksinya yang menyatu bersama alam lewat rangkaian palet warna khas pewarnaan alami, namun dinamis akan gaya masa kini. Dalam sebuah look, hadir kreasi cape tenun dalam palet biru gelap sepanjang mata kaki dipadu bersama wrap top yang juga tenun, flare pants putih gading yang diperagakan oleh Izabel Jahja. Melengkapi nuansa dinamis look tersebut, ia tampil dalam balutan sneakers yang merupakan ekstensi kesan effortless yet comfortable.

Turut hadir sisi romantis lewat aksen ruffle pada bagian lengan berpotongan lonceng pada kreasi long coat. Menariknya, di pola bagian punggung, motif kuda khas Sumba dihadirkan diagonal. Ia dipadu bersama maxi shirt dress kerah tinggi. Visi luxe comfort selanjutnya juga hadir pada kreasi kaftan yang hadir dalam transisi motif kuda warna biru dan putih gading bertekstur, juga full motif Mamuli. Keduanya tampil semarak dengan aksen payet bulat transparan di bagian betis maupun tepi.

Untuk evening look tampil sebuah halterneck dress hitam aksen kancing penuh tekstur menjuntai dengan kerah yang menghiasi bahu. Versi wearable dari look ini adalah padu padan mantel hitam bertekstur dengan giant pocket motif ayam khas Sumba bersama atasan stripes multi-warna dan rok see-through kilap nan sensual.  Bersamaan dengan momen show koleksi ini, Edward Hutabarat turut menggelar sebuah pameran dokumentasi visual perjalanannya ke tanah Sumba dalam bentuk tulisan, foto dan film.