Dior in Borderland.
Busana merupakan representasi budaya di mana ia berasal. Untuk koleksi Fall 2025 dari Dior, Maria Grazia Chiuri menjembatani budaya-budaya berbeda dari berbagai belahan dunia dan menggabungkannya menjadi satu. Elemen lain yang membuatnya semakin istimewa: koleksi ini dipertunjukkan di Kyoto, Jepang. Pohon sakura yang bermekaran, hawa misterius malam hari, kilauan lembut lampu, serta pemandangan Kuil Toji membentuk atmosfer yang menawan.
In its history, Dior has a longstanding connection to Japanese culture and garments. Presentasi koleksi 1953 di Tokyo, Kyoto, dan Nagoya merupakan momen perdana bagi sebuah couture house menggelar fashion show di Jepang. Pada tahun yang sama, Monsieur Dior menjadi couturier barat pertama yang menghadirkan koleksi-koleksinya di Negeri Sakura. Sang perancang juga mengkreasikan gaun Tokio serta setelan haute couture Jardin japonais yang mengambil inspirasi langsung dari keindahan Jepang, sementara Diorpaletot dan Diorcoat merupakan luaran yang dapat dikenakan di atas kimono. Dalam show Dior di Tokyo pada tahun 1971, Marc Bohan juga membuka sebuah dialog dengan teater tradisional Jepang.
Pada koleksi Fall 2025 ini, Chiuri memadukan siluet tradisional kimono dengan signature style-nya sebagai Creative Director. Hasil dari pertemuan tersebut adalah gaun yang mengalir di atas tubuh, jaket yang memeluknya, serta wide pants dan rok panjang yang bergerak indah sesuai irama langkah kaki. Warna hitam membangkitkan aura misteri dan kedalaman intens. Embroidery emas bersinar seperti kehendak para seniman fashion, dan motif-motif bunga merekah seperti pohon sakura di latar belakang runway-nya. Pada sisi lain, lukisan taman bunga ala Jepang menjelma menjadi wearable art dalam bentuk luaran dan atasan.