Chitra Subyakto and Her ‘Golden Cucumber’ Collection

The Creative Director of Sejauh Mata Memandang talks about women empowerment and other good causes in her latest pieces.

 

Salah satu hal yang menyenangkan di akhir tahun adalah kemunculan film-film animasi nan menghibur. Untuk penghujung 2018 ini, ‘Ralph Breaks The Internet’ patut diacungi jempol. Bukan hanya karena di dalamnya terdapat refleksi atas konsep persahabatan, melainkan juga lantaran film itu menyuguhkan adegan para Puteri Disney mengambil peran aktif, penuh keberanian dan ketangguhan sebagai agen penyelamat Ralph – alias bukan sekadar figur berparas rupawan dengan gaun cantik yang kebahagiaan hidupnya seolah amat bergantung pada bantuan sang pangeran.

Berbeda dengan Disney yang terlihat butuh waktu lama untuk mengusung nilai-nilai progresif mengenai peran gender – beberapa tanda evolusinya adalah kehadiran sosok Mulan yang tangkas berperang, juga kisah ‘Frozen’ yang mengangkat tema sisterhood ketimbang percintaan – khazanah dongeng Nusantara menyimpan permata kearifan lokal masa lampau yang tetap relevan untuk diinterpretasi dalam konteks pembentukan karakter perempuan masa kini. Pilihan Chitra Subyakto untuk isu ini adalah hikayat Timun Mas yang ia terjemahkan dalam koleksi busana terbaru Sejauh Mata Memandang dan sebuah pameran yang berlangsung di Senayan City pada 8 November 2018 – 8 Januari 2019.

 

The Independent Woman

Jika Anda masuk ke Senayan City melalui pintu yang berdekatan dengan store Gucci, ambil arah kiri dan naik satu lantai menggunakan escalator di depan butik Salvatore Ferragamo. Saat tiba di atas, dengan mudahnya akan terlihat sebuah dinding kaca bertuliskan “Sejauh Mata Memandang”. Sulur potongan-potongan kain putih menjuntai memenuhi ruang di balik dinding kaca itu; membentuk sebuah jalur kecil bagai labirin. Telusurilah sampai ke ujung tempat di mana Anda bisa bersantai pada kursi-kursi bean bag yang tersedia sembari menonton animasi cerita Timun Mas di layar besar.

There she is. Seorang remaja putri baik hati nan cantik yang lahir dari sebuah ketimun berwarna emas tampak berjuang sekuat tenaga agar tak tecengkeram oleh raksasa yang mengejarnya. Berbekal empat benda ajaib dari seorang petapa, yakni biji timun, duri, garam, dan terasi, Timun Mas berhasil menghentikan si raksasa. Langkah-langkah besarnya tertahan oleh taburan biji timun yang berubah menjadi ladang timun lebat, duri jadi pepohonan berduri, dan garam yang menciptakan lautan. Pada akhirnya, raksasa bernama Buto Ijo itu pun musnah dari penglihatan akibat tehisap lumpur yang berasal dari terasi milik Timun Mas.

Lepas dari bagaimana semua yang terjadi akan memengaruhi relasi Timun Mas dan ibu asuhnya – Timun Mas lahir berlatarbelakang problem etis di mana sang ibunda menuruti petunjuk raksasa demi memperoleh seorang anak dengan menyanggupi persyaratan untuk memberi kembali anak itu kepada raksasa untuk dimakan – kisahnya bertahan hidup secara mandiri (tanpa embel-embel pertolongan pemuda tampan) menjadi poin penting untuk digarisbawahi. “Dia menyelamatkan dirinya sendiri tanpa bergantung pada kehadiran sosok pangeran. Timun Mas adalah perempuan independen,” ucap Chitra secara khusus kepada The Editors Club beberapa waktu lalu. Nilai independensi perjuangan seorang perempuan bernama Timun Mas tersebutlah – yang pengunjung bisa rasakan secara simbolis melalui representasi artisitik berupa labirin kain – yang juga diangkat Chitra pada koleksi terbaru Sejauh Mata Memandang.

 

“Sejak awal, Sejauh Mata Memandang tidak berorientasi kepada sesuatu yang trendi. Kami menciptakan rancangan-rancangan yang timeless bermaterial nyaman dan cocok dengan iklim tropis Indonesia. Desain koleksi kami adalah turunan dari busana-busana tradisional Indonesia.”

 

Berpadu niat memperkenalkan dongeng Tanah Air yang semakin tergilas oleh fiksi-fiksi asing, value of women empowerment dalam kisah Timun Mas diterjemahkannya dalam siluet-siluet simpel bernafaskan tradisionalitas keindonesiaan yang nyaman sekaligus mengakomodasi mobilitas kehidupan perempuan urban. “Sejak awal, Sejauh Mata Memandang tidak berorientasi kepada sesuatu yang trendi. Kami menciptakan rancangan-rancangan yang timeless bermaterial nyaman dan cocok dengan iklim tropis Indonesia. Desain koleksi kami adalah turunan dari busana-busana tradisional Indonesia, seperti kebaya, baju kurung, baju bodo, dan sebagainya, yang cutting-nya diolah kembali agar nyaman dan praktis. Lebih Gojek-able,” kata perempuan yang mengaku suka dongeng Timun Mas sejak masa kanak-kanak. Teknik batik tulis, batik cap, dan sablon tangan diaplikasikan para pengarin menjadi motif biji timun, duri, garam, terasi, dan beberapa tokoh di dalam desain-desain karya Sejauh Mata Memandang Rintik 2018, baik kain, selop, tas, busana dewasa maupun anak.

 

Take It Slow

Berlalu dari ruang teater, di eksibisi ‘Timun’ Mas Anda akan menemukan sebuah dinding berisi kolase foto-foto. Sebagian di antaranya adalah campaign koleksi Timun Mas buatan Davy Linggar yang juga merupakan co-creator pameran. Seperti dituturkan Chitra, Davy yang adalah sosok di balik ide sulur-sulur kain di pameran bukan orang baru di keluarga Sejauh Mata Memandang. Sedari semula, branding Sejauh Mata Memandang melalui foto selalu ditangani oleh Davy.

Beberapa karya fotografi lain di kolase tersebut mengekspos keindahan Indonesia. Hal ini juga yang ingin diketengahkan oleh Sejauh Mata Memandang melalui pameran ‘Timun Mas’. Bahkan lebih dari itu, pendiri brand yang berdiri sejak tahun 2014 tersebut berharap agar foto-foto bentang berbagai penjuru Tanah Air yang ditampilkan dapat “menyadarkan” khalayak kembali bahwa negeri ini bukanlah hanya Jakarta. “Jakarta bukanlah representasi Indonesia yang utuh. Dengan melihat foto-foto tersebut semoga orang-orang bisa ingat lagi dengan sisi-sisi atau wajah-wajah lain Indonesia,” ungkap Chitra. Baginya, keindahan dan kultur Indonesia di luar Jakarta mampu memberi jeda bagi kepenatan yang dialami penduduk kota besar itu; kota yang ia sebut pretentious, di mana segala sesuatu berjalan sangat cepat.

Ide “melawan” karakter instan khas kehidupan modern tersebut juga menjadi napas dari kreasi-kreasi Sejauh Mata Memandang yang terwujud dalam aplikasi teknik hand-crafting. Kata Chitra, “Kalau proses produksi kami dilakukan di pabrik memang akan lebih efisien dalam hal waktu, harga jual pun bisa lebih murah, dan produknya juga lebih precise. Akan tetapi kami tetap bertahan dengan mekanisme handmade – yang notabene lebih memakan waktu – karena itulah karakter kuat Indonesia. Proses yang tidak instan itu sekaligus mengingatkan kita akan sisi manusiawi. Menjalani hidup tak perlu ‘ngebut’ dan merupakan hal manusiawi untuk mengambil rehat-rehat dalam proses tersebut. Kita bukan robot,” ucapnya.

Apa yang dibahas oleh sosok di balik brand Sejauh Mata Memandang tersebut terepresentasi pula dalam pengalaman menikmati pameran ‘Timun Mas’. Lewat platform ini, pengunjung diberi kesempatan untuk membangun apresiasi terhadap kreativitas sartorial secara perlahan dan mendalam di mana seseorang diajak untuk mengeksplorasi cerita pun nilai yang melatarbelakangi lahirnya sebuah koleksi busana sebelum akhirnya berjumpa langsung dengan busana-busana itu sendiri di area store-nya. Hal ini jelas berbeda dengan pengalaman berbelanja produk fashion pada umumnya yang menempatkan konsumen sebagai objek/target untuk dibombardir dengan instant gratification nan rawan akan risiko hampa pemaknaan.

 

Care & Collaboration

Ini bukan pertama kali Sejauh Mata Memandang menghelat sebuah pameran untuk mempromosikan koleksi. “Sejak awal, Sejauh Mata Memandang selalu membuat pameran instalasi. Saya lebih suka memperkenalkan koleksi lewat pameran karena dibanding fashion show, pameran memungkinkan lebih banyak orang untuk bisa melihat secara langsung koleksi baru itu. Selain itu, di pameran orang-orang lebih punya banyak waktu untuk menginterpretasi dan menikmati rancangan-rancangan yang ditawarkan.” papar Chitra.

Mengenai pemilihan lokasi pameran yang berada di pusat perbelanjaan, Creative Director Sejauh Mata Memandang itu menjelaskan bahwa hal tersebut dilakukan dengan tujuan menjangkau market secara lebih luas. Di matanya, mall yang adalah titik temu masyarakat umum di Indonesia merupakan sarana efektif untuk membuka akses publik pada pameran ketimbang galeri. Beriringan dengan upaya untuk memasarkan koleksi terbaru, melalui eksibisi ‘Timun Mas’, Chitra Subyakto dan Sejauh Mata Memandang juga mewujudkan kepedulian kepada isu-isu sosial.

“Saya lebih suka memperkenalkan koleksi lewat pameran karena dibanding fashion show, pameran memungkinkan lebih banyak orang untuk bisa melihat secara langsung koleksi baru itu. Selain itu, di pameran orang-orang lebih punya banyak waktu untuk menginterpretasi dan menikmati rancangan-rancangan yang ditawarkan.”

 

Seperti yang dikatakan Chitra kepada The Editors Club, di koleksi terbaru ini Sejauh Mata Memandang merilis buku cerita Timun Mas yang dibuat dalam dua varian, yakni yang berbahan kain dan kertas. Keuntungan penjualan buku-buku tersebut akan disalurkan kepada organisasi Bantu Guru Belajar Lagi yang digagas penyanyi Tulus di mana peningkatan kualitas guru menjadi perhatiannya, dan Beasiswa Dian dari Yayasan Dian Satrowardoyo yang dikhususkan bagi anak-anak perempuan. Keterlibatan kedua figur publik itu di koleksi Timun Mas juga terwujud dalam pamerannya. Dian menjadi pengisi suara animasi Timun Mas di pameran dan Tulus bekerjasama dengan Petra Sihombing membuat karya musik di film animasi tersebut.

Masih merupakan rangkaian pameran dan pengenalan koleksi Timun Mas, pada 18 Desember 2018, Dian akan membacakan dongeng Timun Mas pada anak-anak PAUD asuhan Senayan City. Sebagaimana sudah disebut sebelumnya, kegiatan itu diharapkan bisa turut membantu pelestarian budaya tradisional Indonesia yang menurut Chitra merupakan karakter khas dan kekuatan negeri ini. “Penting bagi kita untuk mengenal dan mengekplorasi apa yang ada di negeri sendiri supaya kita bisa standout dengan karakter sendiri di kancah internasional,” pungkas Chitra.