Journey to Art Movements in the Early 19th Century

Di penghujung 2017, The Editors Club mengunjungi sebuah galeri seni di Singapura. Salah satu eksibisi yang sedang digelar membahas tentang era Impressionism yang mempengaruhi cara pandang pelukis dunia.

 

Kala berada di Singapura, saya disambut dengan cuaca yang sedikit bipolar. Sebentar hujan, kemudian cerah, lalu mendung kembali. Namun hal ini tidak menghentikan saya untuk berburu hal menarik di negeri kecil ini.

Saya menyempatkan diri untuk datang ke National Gallery Singapore, salah satu tempat favorit saya di sini. Berdiri sejak 2015, galeri kontemporer ini selalu membawa cerita menarik dari seluruh dunia melalui seni. Sebut saja karya-karya Yayoi Kusama dengan tajuk “Life is the Heart of the Rainbow” yang dipamerkan hingga September lalu dan “Reframing Modernism” yang mengemas ulang cara memahami paradigma lukisan-lukisan Modernist.

Kali ini, cerita yang dibawa menampilkan rangkaian lukisan karya Claude Monet, Pierre-Auguste Renoir, Raden Saleh, Juan Luna, dan beberapa nama besar era Impressionism lainnya. Dipecah dalam dua eksibisi, pameran ini dibuka dengan perjalanan seniman Impressionist melalui warna-warna yang digunakan pada setiap tahap berbeda dalam karier mereka.

Colours of Impressionism: Masterpieces From the Musée D’orsay

Masuk dalam eksibisi ini saya dibawa dalam perjalanan warna yang atraktif. Karya Édouard Manet menyapa saya dengan warna-warna gelap. Dalam ruangan lain, dominasi hijau dan biru menceritakan sejarah bagaimana pelukis seperti Cézanne dan Monet menerjang cuaca demi menghasilkan lukisan-lukisan lanskap.

Zona biru menarik perhatian saya karena ruangan ini diisi dengan lukisan salju. Saya bertanya-tanya, bagaimana para seniman ini bertahan di tengah badai salju untuk melukis dan menghasilkan karya yang sangat berpengaruh dalam sejarah? Membayangkan betapa dinginnya kondisi tersebut membuat saya tak habis pikir.

Monet menghasilkan kurang lebih 140 lukisan salju. Meski begitu, para lukisan ini hanya mewakili segelintir dari karya Monet yang influensial. Dalam badai salju, warna yang terlihat bisa jadi hanyalah putih, abu-abu, dan sedikit cokelat atau hitam. Tetapi Monet bisa mengabadikan indahnya suasana matahari terbenam di tengah salju ke dalam kanvasnya.

Fakta menarik, Édouard Manet sempat bereksplorasi untuk melukis lanskap salju di akhir era 1870-an, namun ia menyerah, menyatakan bahwa tidak ada yang bisa melukis salju sebaik Claude Monet.

Lanjut ke sudut lainnya, karya Renoir ditampilkan dalam balutan warna merah muda yang lembut. Figur perempuan yang feminin memenuhi ruangan terakhir dalam eksibisi ini.

“Colours of Impressionism” merangkum betapa pentingnya penggunaan warna dalam proses pembentukan sejarah lukisan di era Impressionist yang radikal di abad ke-19, mengekspos bagaimana para seniman di era ini mematahkan norma tradisional melalui warna dan teknik-teknik seperti quick brush strokes. Pameran ini menampilkan lebih dari 60 karya masterpiece koleksi Musée d’Orsay, Paris.

Mengakhiri eksibisi ini, saya dibawa memasuki sudut pandang seniman Asia Tenggara yang juga hidup dan berkarya di era yang sama.

Between Worlds: Raden Saleh & Juan Luna

Setelah menyaksikan warna-warna dari Eropa, lukisan Raden Saleh (Indonesia) dan Juan Luna (Filipina) terasa suram dengan tone cokelat kekuningan. Awalnya saya sedikit tergelitik oleh ironi karena harus menyaksikan hasil karya seniman lokal di negeri orang. Namun tak henti-hentinya saya dibuat kagum dengan hasil goresan tangan Raden Saleh sehingga saya mengabaikan pikiran tersebut.

Berlatar belakang periode socio-political era akhir abad ke-18, ketika sebagian besar Asia Tenggara dikuasai kolonialisme, “Between Worlds” mengungkap proses perkembangan Raden Saleh dan Juan Luna. Keduanya memang tumbuh di dua negara Asia Tenggara yang berbeda, namun perjalanan mereka menceritakan kisah serupa – dua pemuda, pergi mengembara ke Eropa hingga menjadi sukses dan kini dianggap sebagai tokoh inspirasi nasional di negaranya masing-masing.

Eksibisi ini menuntun saya masuk ke dalam petualangan komparatif mereka. Menampilkan setiap fragmen yang signifikan dalam perjalanan keduanya, dari awal kemunculan di Jawa dan Filipina, masa-masa berlatih, dan keterlibatan mereka dalam dunia artistik dan lingkaran sosial Eropa, hingga kembalinya Saleh dan Luna ke Asia Tenggara.

Satu hal yang membekas di benak saya adalah bagaimana sentuhan tangan Raden Saleh dalam setiap lukisannya mengangkat realisme subyeknya, terlebih dari matanya yang memberi gambaran emosi yang kompleks.

Meski saya harus menikmati karya seorang seniman lokal di negeri orang, saya sangat senang dapat menyaksikan puluhan karya seni, termasuk “Six Horsemen Chasing Deer” karya Raden Saleh dan kedua versi “España y Filipinas” karya Juan Luna yang populer.

Melalui kegigihan mereka, para seniman ini telah membawa apa yang dianggap sebagai gerakan seni modern pertama. Kedua eksibisi tersebut, “Colours of Impressionism” dan “Between Worlds”, menawarkan sebuah pengalaman langka, yaitu melihat karya seni fundamental pertama kalinya dipersatukan di bawah atap yang sama di Asia Tenggara. Menitikberatkan pada abad ke-19, “Century of Light” membahas bagaimana dunia seni bertransformasi kala memasuki era modern.

“Century of Light”
National Gallery Singapore
Singapore
16 Nov 2017 – 11 Mar 2018
Entrance fee: SGD 25