Cari Panggung di atas Masa Lalu Pihak Lain

Where was Diet Prada?

 

Kematian George Flyod berdampak panjang. Sudah barang tentu tidak akan ada asap jika tanpa api. Namun, saya tak mau lagi membahas soal rasisme dan sejarahnya di sini. Saya hanya mau berbagi opini tentang apa yang saya rasakan di hari Selasa, jam 08:16 pagi.

Jujur saja, CNN menjadi tontonan auto-pilot di rumah. Dari jaman Trump menjadi presiden, dan berita-berita menghebohkan yang diciptakannya sejak itu, hingga soal Covid-19, dan yang terakhir soal ‘black lives matter’, saya selalu haus akan segala updates agar terdepan. Tetapi hari ini berbeda. Saya malah kesal dengan tayangan CNN yang di mata saya terlihat (dan terdengar) seperti hater. Hampir atau bahkan seluruh beritanya negatif. Nyinyir dan punya tendensi untuk menjatuhkan pihak lawan, (in this case, Republicans). Saya mengerti ini politik, tapi hati ini tetap saja terusik.

Lalu saya mencoba untuk mengalihkan perhatian ke handphone dan beralih ke Instagram. There I saw, @dietprada dengan postingannya yang memojokkan Anna Wintour. Sebagai Editor in Chief dari Vogue Amerika, yang bisa diberi gelar‘the strongest publishing brand ever lived’, selama lebih dari tiga dekade, Anna diserang karena dianggap rasis selama masa jabatannya. Diet Prada memasang 9 postingan gambar yang diambil dari archive Vogue dan membuat caption yang memaparkan bagaimana rasisnya Wintour.

Ketika melihat itu, terus terang di benak saya pertama kali adalah sebuah pertanyaan untuk Diet Prada sendiri. Apakah di masa itu (sebelum black lives matter campaign lahir) perasaannya telah terusik ketika melihat jenis foto seperti yang diunggahnya? Saya paham, jika ditanyakan hari ini, jenis foto yang mempertontonkan polisi, riots, black people, dan hispanik, it will surely be visually disturbing. Tapi dulu? Bukan tidak mungkin malah dianggap hasil kreatif yang berani – dan tidak bertentangan.

Jangan-jangan Diet Prada dulu merupakan penggemar Anna Wintour. Jangan-jangan dulu ketika melihat majalah Vogue malah terinspirasi. Sekarang saja karena tersedia platform untuk hal-hal seperti ini, ia langsung “naik panggung”dan berkoar-koar. Jika sedari dulu Diet Prada sudah terusik hatinya, saya tak akan segan untuk angkat topi. Hebat. Tapi jika dia menyudutkan orang lain, apalagi mengungkit masa lalu demi spotlight-nya sendiri… hmm… mungkin ia harus mencoba untuk jadi kritikus yang lebih baik lagi. Mengkritik yang benar bisa dikiritik – dengan timeline yang relevan.

Saya jadi berpikir ke belakang. Dulu di Zaman SD, becandaan para siswa-siswi sering menyertakan kalimat “gila deh lu!” tanpa mengerti bahwa ‘gila’ merupakan sebuah penyakit saraf, yang diderita oleh orang nyata, dan mungkin saja mengakibatkan kematian. 50 tahun dari sekarang, mungkin kalimat tersebut sangat terdengar insensitive dan super kasar. Karena manusia terus belajar, menambah ilmu dan wawasan.

Jangan sampai, ini jadi masalah bagi pemimpin masa depan.