Cara Eksentrik Alessandro Michele Apresiasi Legasi 100 Tahun Gucci

A celebration of changes. 

 

Tahun ini, Gucci mencapai usia satu abad. One hundred years of style. Selama masa tersebut, sejarah sang rumah mode Italia bentukan Guccio Gucci tahun 1921 itu ditandai dengan berbagai regenerasi. Melihat kembali deretan legasi Gucci, Alessandro Michele sang creative director seperti menemukan dirinya di sebuah hacking lab, tempat semua elemen dari masa lalu bukan untuk diulang melainkan ditransformasi. Terciptalah koleksi Gucci Aria. 

Michele memberikan homage untuk sisi equestrian sang rumah mode dengan interpretasi yang lebih twisted. Era Tom Ford di Gucci yang penuh provokasi sensual juga dikunjungi kembali, seperti dalam kembalinya velvet tuxedo merah yang merupakan salah satu rancangan terlegendaris Ford untuk Gucci. Pesona glamor Old Hollywood bertemu dengan aura bourgeoisie. Glitter dan kilauan bertaburan pada detil-detil kreasi Michele. Kode-kode menswear dijalin dalam tailoring-nya. 

And of course, the talk of the town was dominated by the pieces showing Balenciaga’s reference heard all around the internet. Beberapa contohnya adalah blazer berpundak tegas yang dipenuhi oleh logo Balenciaga, jaket khas Demna Gvasalia penuh tabrak motif monogram Gucci dan logo Balenciaga, hinga tas Balenciaga Hourglass dengan kanvas monogram Gucci.

Pendekatan Michele dalam merayakan legasi 100 tahun Gucci tergambar jelas pada kalimatnya yang menyatakan, “To the ability to renew and get back to life after Winter has passed.“ Fashion selalu bergerak seiring dengan waktu yang berjalan, dan selalu memperbaharui dirinya, melewati musim apapun. Gucci telah melalui ratusan musim, ribuan sejarah, dan jutaan kreasi. And they have stayed here for a hundred years (and more) by constantly reinventing themselves.