Cara 6 Figur Perempuan Maknai Kebebasan

Talking about the meaning of Libre.

 

Yves Saint Laurent adalah seorang couturier yang kuat percaya bahwa relasi antara perempuan dan busana yang dikenakannya haruslah empowering. Tak mengherankan bila Saint Laurent merancang pantsuit yang kemudian dikenal sebagai “Le Smoking” di era 60’an dimana kultur Prancis masih cukup konservatif – bahkan perempuan mengenakan celana di ruang publik pun dipandang tabu. Melalui karya-karyanya, batasan-batasan megenai apa yang mendefinisikan perempuan dan laki-laki ditantang. “Freedom” atau dalam kosa kata Prancis disebut “Libre” menjadi esensi dari kreativitas sang desainer.

Nilai kebebasan yang ditekankan seorang Saint Laurent tampil dalam wujud wewangian melalui YSL Beauty LIBRE, yang pada tahun 2020 dirilis di Indonesia. Sebagaimana sang desainer mendobrak konstruksi sosial mengenai cara berpakaian dalam konteks gender dengan mendesain pakaian bergaya tuxedo untuk perempuan, parfum LIBRE memainkan peran serupa dimana perfumers Anne Flipo dan Carlos memformulasinya sebagai golongan fougère berkandungan lavender yang lebih lazim dijumpai sebagai wewangian maskulin. LIBRE lady is the one who chooses how her femininity should be defined! Aroma lavender Prancis berpadu orange blossom dan musk accord menjadi selebrasi aromatik akan spirit kebebasan yang unik pada setiap individu.

Jelang akhir tahun 2021, The Editors Club bersama dengan YSL Beauty menghadirkan sebuah campaign of freedom dengan menggandeng 6 selected profiles berbagai bidang. Interplay dari maskulinitas dan feminitas, maupun boldness dan sensuality, yang meradiasi dari LIBRE termanifestasi melalui gerak, pose, dan ekspresi Kelly Tandiono, Ufa Sofura, Nicoline Patricia Malina, Michelle Maryam, Nazla Alifa, dan Hessy Aurelia dalam sebuah video berdurasi 60 detik serta rangkaian karya fotografi. Kesuksesan profesional dari masing-masing figur di campaign ini menjadi benang merah dari keunikan cara setiap profil menginterpretasi kebebasan yang tertuang lewat gesture hingga facial expression.

Lebih jauh, masing-masing juga mengutarakan pemaknaan akan kebebasan dan bagaimana hal tersebut ditranslasi ke dalam profesi masing-masing. Bergerak anggun dalam campaign ini, Ufa Sofura mengetengahkan ekspresi diri, perasaan, dan opini dengan caranya sendiri sebagai arti dari freedom. Dalam membuat koreografi, ia bebas mengeksplorasi perasaannya dan mencari inspirasi dari berbagai hal. “The ability to liberate your self from any expectations and realize your won magic,” demikian persepsi Michelle Maryam akan kebebasan. Dalam merancang, fashion designer ini memanfaatkan kebebasannya untuk mengekspresikan karakter, emosi, dan sudut pandangnya.

Bagi seorang Nicoline Patricia Malina, memiliki kebebasan berarti memiliki privilege untuk membuat pilihannya sendiri, memiliki kontrol terhadap hidupnya, dan mengekspresikan diri yang sesungguhnya. Fotografer yang bermain dengan kameranya di campaign ini menggunakan kebebasannya untuk mengikuti passion dan berjuang melawan stigma. Juga turut menggarisbawahi perihal membuat pilihan sendiri dan menjadi diri sendiri sebagai arti kebebasan, content creator Nazla Alifa dengan kebebasan yang ia miliki memilih caranya sendiri untuk tampil di hadapan dunia dan berupaya menginspirasi orang-orang.

Model yang juga aktif mengkampanyekan gaya hidup sehat, Kelly Tandiono, mendefinisikan freedom sebagai “a state of being independent to pursue your own happiness.” Kebebasan seorang Kelly diisi dengan ekspresi diri melalui kreativitas, gaya pakaian, dan olahraga. Sementara, poin tentang respect diutarakan oleh Hessy Aurelia, Editor-in-Chief The Editors Club. Being respectful dalam memimpin tim maupun menyatakan sudut pandang adalah caranya memanifestasikan kebebasan. “Bebas harus selalu jalan berdampingan dengan tanggung jawab,” ungkapnya.

LIBRE Eau de Parfum tersedia di YSL Beauty Indonesia stores dan online di www.yslbeauty.co.id.