Butik Pertama Sapto Djojokartiko Berdiri di Plaza Senayan

And a little reflection about Indonesia fashion realm.

 

Kala mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan berlevel high-end, mungkin hampir selalu yang menjadi fokus pengalaman Anda adalah “kemilau” serangkaian international fashion brand papan atas. Akan tetapi jika ditelaah lebih lanjut, kondisi tersebut sesungguhnya menyiratkan sebuah representasi atau gambaran mengenai situasi realita mode tanah air – yang masih jauh dari impian. Pertanyaannnya adalah: berapa banyak Anda bisa menjumpai butik perancang mode Indonesia di A-class shopping center seperti Plaza Indonesia, Pacific Place, atau Plaza Senayan? Meski terkesan glam dan lucrative, profesi high fashion designer di Indonesia sangat penuh tantangan. Sapto Djojokartiko membuktikan buah kerja kerasnya selama lebih dari 12 tahun baik dalam hal kreatifitas desain dan strategi bisnis dengan membuka butik pertamanya yang berlokasi di Plaza Senayan level 1.

Awal Maret lalu, teman dan mitra dekat sang desainer diundang untuk menjadi orang-orang pertama yang bertandang ke butik tersebut. Mulai dari selebriti, social media influencer, hingga stylist, dan jurnalis mode melebur dalam sebuah private reception di butik rancangan Brian Gondokusumo dan Julia Lestari yang merupakan pendiri dari Gondojules Studio. Hadir dengan facade kaca di bagian depan, entrance butik ini dibuat agak menjorok ke dalam sehingga tercipta space kecil dimana salah satu sisi dindingnya bertuliskan label sang desainer asal Solo tersebut. Sisi lainnya menampilkan display kaca yang menampilkan sepatu-sepatu. Memasuki butik, mata disapa dengan beberapa pilar-pilar pahatan bermaterial kayu. Di antara elemen yang memancarkan ethnic feel – sebagaimana juga dapat terasa pada karya-karya brand ini – terselip manekin-manekin yang menampilkan rancangan-rancangan Sapto.

Beberapa bagian dinding butik tersebut terbuat dari batu sedimen dan sebagian lainnya berbalut cat dinding bertekstur dalam palet earthy. Berpadu dengan lantai marmer serta tata cahaya yang lembut di mata, ruang butik meradiasi kesan elegan nan hangat dengan karakter desain minimalis bersentuhan artistika tradisional lewat penempatan patung-patung. Aspek kenyamanan pun tercipta melalui keberadaan set sofa di tengah area yang sekaligus menjadi penunjang dekoratif dari rancang interior butik ini. Lengkap dengan kamar ganti yang nyaman, butik ini beroperasi pukul 10 pagi hinga 10 malam. “Ada persyaratan-persyaratan untuk bisa memiliki store di sini,” ucap Sapto kala berbincang kecil dengan The Editors Club saat grand opening event berlangsung; sebuah keterangan sekaligus petunjuk bahwa pembukaan butik perdananya bukan cuma merupakan selebrasi tapi juga gerbang baru dari tahap perjuangan berikutnya.

Jelas milestone seorang Sapto hingga memiliki butik di prime location adalah hal yang patut dirayakan. Apa yang dicapainya menjadi inspirasi bagi desainer-desainer maupun calon-calon desainer tanah air. Akan tetapi, seperti disinggung di awal, fakta bahwa hanya segilintir high fashion designer tanah air yang mampu bereksistensi hingga ke tahap memiliki butik adalah sebuah isu yang perlu dikaji lebih lanjut. Mengapa perancang mode tanah air belum berjaya di pasar domestiknya sendiri? Apakah ini terkait masalah produksi yang menghambat insan kreatif mode terhambat berkembang – mulai dari tantangan terkait bahan-bahan baku hingga tenaga kerja? Ataukah hal itu berkaitan dengan mindset konsumen Indonesia yang mungkin kurang bergairah dengan label lokal dan lebih mengagungkan rumah mode internasional? Atau lemahnya strategi pemasaran maupun image building dari sebuah local brand? Mungkinkah mengenai business skill dan management yang belum mumpuni atau juga hambatan dalam permodalan dan akses ke fasilitas pendanaan?

Di luar pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu ada banyak pertanyaan lain yang bisa diulik untuk meriset faktor-faktor yang menahan pertumbuhan desainer-desainer mode tanah air. Komitmen untuk terus belajar dan berusaha, serta keterbukaan maupun keberanian untuk menerima kritik, memproduksi kritik, bahkan melakukan self-critic perihal berbagai aspek – termasuk mengenai kualitas desain, kerjasama antar lembaga-lembaga mode, keterlibatan pemerintah, dan sebagainya – menjadi keywords penting bagi segenap pihak terkait dalam upaya memajukan industri fashion Indonesia. Jalan menuju destinasi impian dari realita mode tanah air memang tampaknya masih panjang. Untuk saat ini, biarlah sejenak luangkan waktu untuk mengapresiasi pencapaian Sapto Djojokartiko lewat pembukaan butik yang kini menampilkan koleksi musim dingin 2020 dengan inspirasi dari karya lukis seniman Austria bernama Egon Schiele. Selamat Sapto!