Buahan Banyan Tree, Melebur di Lingkup Hutan Bali

A closer luxury experience with nature.

 

On the second night spend at Buahan Banyan Tree, Bali, just sitting at the Bale’s wooden sofa while staring at the canang sari made earlier felt so reflective somehow, and it’s to a certain higher degree of spiritual connectedness. Surrounded by the noble nature demacarted by only some curtains, the serene forest with its wild sounds of types of arthropod symphonized with the burbling Ayung River, it’s like the tounge of the soul is closer to the Divine’s ears; an intimate solitary moment to raise gratitude and prayer juts like what Balinese canang sari symbolizes. This deeper face of Bali is always captivating and enchanting. It is its beautiful nature merges with the esoteric tradition.

Saat itu, sebuah suguhan alkoholik bercita rasa kopi sesungguhnya tersedia (racikan berbeda dari minuman hari pertama di bale), tapi pilihan jatuh pada sesederhana membuat teh hangat sendiri dengan French press dan dikombinasikan beberapa kudapan lokal. Di tengah lingkup alam malam itu, masih teringat ketika perwakilan dari Banyan Tree pusat pada dinner pertama menyebut bahwa salah satu misi yang diemban resor Buahan, lini Escape pertama Banyan Tree di seluruh dunia, adalah meningkatkan populasi kunang-kunang di lingkungan tempatnya berada karena jumlah hewan berkerlip cantik itu merupakan indikator kesehatan ekosistem – dan secara kultur lokal diyakini sebagai penunjuk arah dari spirit yang berkelana. So this is more than just an immersive natural experience with touches of tradition, but simultaneously an endeavour to nurture the nature as well as local resources.

Bicara tentang alam dan suber daya lokal, pagi di Buahan Banyan Tree adalah kesinambungan antara usapan temperatur sejuk ke permukaan kulit dengan wangi segar udaranya mengecup lubang hidung yang berlanjut ke teduh hijaunya visual hutan dan gunung-gunung hingga berujung pada meja area Open Kitchen di mana tim pimpinan Chef Eka Sunarya yang lahir dan tumbuh di desa Buahan meramu ragam hidangan sarapan. Rasa cukup intens di kaki akibat jalur menanjak dari bale ke dining venueas our villa is pretty remote from the inclinator – terbayar dengan pengalaman berjalan kaki menelusuri jalur kecil dengan rindangnya pepohonan berlatar pemandangan puncak-puncak nan asri. Bunga, ranting, dedaunan yang berguguran dan hewan-hewan bersayap seolah menyapa. Terkadang juga tupai lompat melintas. Precious little surprises here and there that perfectly built a peaceful cheerful mood to begin the day; not to forget about the menu.

Secangkir susu moringa menjadi pendamping hangat bagi menu breakfast lokal maupun bergaya western yang pengolahannya banyak dilakukan secara homemade. Local mixed nuts hingga sosis dan keju yang disediakan punya sentuhan karakter rumahan yang kuat. Sebagian besar bahan masakannya bersumber dari wilayah setempat dan area Bali lainnya seturut dengan prinsip Farm to Table yang diterapkan resor Buahan. Beberapa langkah ke depan menuju area main pool, panorama puncak 7 gunung di Bali berdiri memesona yang makin dramatis dengan selingan kabut-kabut tersebar di hutan. Ketujuhnya adalah puncak Batukaru, Sengayang, Adeng, Pohen, Pucuk, Lesung, dan Tapak. Have a pause and enjoy your every second to absorb all this cleansing energy if later you’d be here. Thereafter, you’re ready to have fun with the activities included in the package.

For us, the first one was a little adventure to the waterfall with hundreds of stair steps. Tentu saja kegiatan ini dipandu oleh staf resor yang sudah mengenal topografi setempat. Semua perlengkapan yang dibutuhkan sudah teredia di bale/vila, mulai dari ransel, topi, hingga jas hujan. Selain pergi ke titik air terjun, ada banyak pilihan lain program kegiatan lain yang tersedia baik di area resor maupun ke luar resor. Beberapa yang tercakup adalah village cycling, rice paddy trekking, bamboo life adventure, juga Ayung stream explorer. Untuk yang berjenis self-healing tersedia macam-macam Yoga, mulai dari Melody Flow Yoga, Surya Yoga, Aerial Yoga, hingga Moon Yoga yang dilakukan di Yoga Pavillion dan spot lainnya.

Opsi yang bersifat lebih spiritual adalah Tri Hita Karana Journey yang melibatkan praktik-praktik spiritual berfilosofi tradisional Bali dengan penekanan pada hubungan manusia dan Tuhan, manusia dan sesamanya, serta manusia dan alam. Sementara Program Enlightenment Journey dimaksudkan untuk melihat diri ke dalam lewat panduan local priest hingga mengikuti Balinese blessing ceremony. Pilihan kegiatan Chakra and Sound Healer semakin melengkapi tawaran program bertema spiritual dari resor Buahan. Selain itu, ada pula pilihan memanjakan diri dengan spa maupun melihat lebih dekat tradisi pembuatan herbal treatment seperti jamu, loloh, dan scrub. One that you shouldn’t miss is the  Forage in The Wild program; we found it very exciting.

Dalam kegiatan Forage in The Wild, kita diajak oleh pemandu lokal untuk menjelajah wilayah sekitar untuk melihat dan mengenali tanaman-tanaman atau buah-buahan yang tumbuh hingga bahkan memetik dan mencobanya secara langsung. Bersama Chef Eka, The Editors Club mencoba salah satunya jamur liar yang tubuh di pelepah-pelepah kayu. Sembari membakar jamur dengan korek untuk bisa dimakan, sosok dengan pengalaman kuliner di hotel-hotel prestisius di Bali ini berkisah bagaimana masa kecilnya bahagia diisi dengan kegiatan seperti ini. Sekembalinya ke resor usai bertualang dengan tetumbuhan liar – hingga turut mencoba tuak yang diproses langsung di atas pohon – paon atau dapur tradisional Bali sudah siap untuk mengolah bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat menu makan siang. Tungku-tungku hingga bakaran mengepulkan asap hingga hidangan tersaji di meja.

Lunch di resor Buahan mengedepankan konsep sajian tradisional Bali. Metode-metode kuliner tradisional yang digunakannya menarik. Celeng Gesing dibuat dari daging free range pork yang dimarinasi kemudian dimasukkan ke dalam bambu untuk dipanggang perlahan. Udang galah dari sungai diolah sebagai sup yang dimasak dalam batok kelapa. Ares terbuat dari pelepah pohon pisang yang dirajang dan dibumbui sebelum dimasak. Lauk-lauk ini bersama dishes lainnya disantap dengan Nasi Laban organik bercampuran kelapa gongseng, dried fish, dan beans. Jelly dari daun Daluman yang berendam bersama kelapa, nangka, dan sagu hadir manis menyegarkan dengan sirup gula palem.

Untuk dinner, resor Buahan mengangkat gastronomi kontemporer yang sebagian besarnya plant-based. Tiap kreasi makan malam buatan Chef Eka bekerjasama dengan Agency X (yang juga menaungi Locavore) punya keunikan tersendiri. Pumpkin Leaf Tempura atau daun labu yang digoreng dengan bumbu Bali adalah salah satunya. Hidangan utama ikan kakap dimasak secara pan seared dengan saus bunga kecombrang. Salah satu strong point lain dari resor Buahan dalam hal kuliner adalah variasi cocktails yang diracik oleh mixologist di Botanist Bar. Most of them were exotic and tasted really nice. Expect components such as cinnamon, kombucha vinegar, ginger, marigold vinegar, mixed with gin or vodka and rum. Berbagai jenis arak pun tersedia. Pairing dengan minuman-minuman tersebut bukan hanya nikmat dikecap tapi juga fungsional untuk menghangtkan malam yang cukup dingin di sana. Pada dinner ke dua, sensasi kabut yang melintas area makan pun menjadi pengalaman tersendiri.

Saat kembali ke bale, terang lampu di dalam tirai tampak cantik menyambut untuk tubuh beristirahat. Sensasi hangatnya pancuran di dalam kamar mandi yang juga tak berpintu juga turut merelaksasi diri setelah seharian beraktivitas. Arsitektur karya Gede Kresena yang berbahan utama kayu ulin Kalimantan dari objek-objek tak terpakai dan interior woddy nan senada semakin meleburkan batasan dengan alam sekitar. Above all, if we’re asked to mention our favourite experience while staying at Buahan Banyan Tree, it’s swimming in the private pool of the villa surrounded by the lush forest and melody of the birds; and surely sunset sky in Bali always feels dreamy.