Beyond Unmasking: A Closer Look on Diet Prada

Akhirnya pengungkapan misteri @diet_prada datang langsung dari mulut pendirinya.

 

Siapa sangka bahwa segala substansi kritis akun Instagram yang fenomenal di dunia fashion itu ternyata berawal dari niat sekadar melempar joke? Begitulah yang diakui duo dibalik Diet Prada, Tony Liu dan Lindsey Schuyler, kepada Business of Fashion dalam sebuah artikel unmasking yang dirilis pada awal Mei lalu. Dibungkus dengan kalimat-kalimat provokatif sekaligus menggelitik, postings Diet Prada bagai kudapan renyah yang kaya akan nutrisi fashion references. Let’s take a closer look on them and find out what their significance to fashion is.

 

The Diet: An Attitude towards the Fashion Plate
Liu yang adalah pemilik label You As dan Schuyler yang berprofesi di bidang konsultansi memulai “aksi” Diet Prada pada tahun 2014, yakni saat mereka bekerja bersama sebagai researcher untuk perancang topi Eugenia Kim dan melihat bahwa banyak kreasi runway berbagai label yang inspirasinya tampak berasal dari buah karya brand lain atau bahkan seolah menjiplaknya.

Jika diperhatikan secara umum, ekspresi keterkejutan merupakan reaksi yang lazim setelah mencerna foto perbandingan antara dua look serupa dari brand berbeda yang dihidangkan Diet Prada. Siapapun tentu sadar bahwa sebagaimana lingkup kreatif lainnya, fashion memang akan selalu diintai oleh penyakit plagiarisme. Sejarah jelas menunjukkan bahwa tindak peniruan desain sudah hadir sejak lama di realitas mode.

Pada tahun 1930-an, Gabrielle Chanel dan Madeleine Vionnet besatu menuntut Suzanne Laneil yang mengkopi desain-desain mereka. Namun melalui apa yang tersaji di Diet Prada, kesadaran kita akan risiko plagiarisme di dunia fashion itu tampak berubah menjadi mimpi buruk di mana kejut, tawa, miris, muak, geram, dan kecewa bercampur dan bertambah besar terhadap lansekap fashion yang hingga kini terlihat semakin penuh “keabu-abuan”. Semua itu juga jadi tampak semakin keruh kala menyadari bahwa bukan sembarang pihak tak dikenal yang menjadi tersangka tindak penyontekan di Diet Prada, melainkan pemain-pemain ternama industri mode.

Mengenai fenomena ini, kita perlu bertanya tentang apa yang salah atau absen dari cara kerja dunia fashion sehingga hal-hal buruk itu bisa terjadi. Jawaban pertanyaan tersebut bisa kita temukan dengan mengamati peran dan sikap Diet Prada di tengah industri mode saat ini. Meski terbilang sebagai entitas yang baru lahir, Diet Prada lantang meneriakkan suara mereka mengenai apapun dan siapapun tanpa pandang bulu. Berapa banyak pihak yang berani menjalankan aksi serupa secara konsisten pada saat ini?

Bila menengok ke belakang, kita bisa menyebut nama besar Cathy Horyn sebagai kritikus mode senior The New York Times yang oleh karena ketajaman tulisannya dibenci oleh banyak brand dan desainer. Giorgio Armani, Gucci, Dolce & Gabbana, Helmut Lang, dan Oscar de la Renta adalah beberapa perancang yang memasukkan Horyn di daftar black list untuk fashion show mereka. Terkait isu copycat, dalam sebuah artikel tahun 2002 berjudul Is Copying Really a Part of the Creative Process?, Horyn mengatakan “Today, under the postmodern rubric of ‘referencing’, copying flourishes so openly that nobody bothers to question it”.

Pernyataan Horyn mengenai aksi copycat di industri mode yang didorong oleh kaburnya batas antara rujukan dan jiplakan di kondisi postmodern memang benar, namun sepertinya tak cukup lengkap untuk menjelaskan fenomena diamnya segenap pihak terhadap tindak-tindak peniruan tersebut. Hal yang sangat patut dicurigai bagi jarangnya oknum seperti Horyn atau Diet Prada dalam menyuarakan keganjilan dan kejanggalan dunia fashion adalah relasi mutualistik antara advertisers dan media beserta jurnalisnya yang dibangun atas dasar pendapatan iklan dan segala benefit lainnya.

Hasil wawancara antara Lucinda Chambers dengan jurnal akademis fashion tahunan Vestoj yang booming pada pertengahan tahun lalu mengenai pemecatan dirinya dari posisi Fashion Director British Vogue mengungkap bagaimana kekhawatiran soal mendapatkan undangan ke fashion show atau posisi duduk di event itu membayangi kehidupan para jurnalis mode. Selain hilangnya pendapatan, pengeksklusian adalah ancaman nyata di jurnalisme fashion. Hal senada juga dituturkan oleh mantan Creative Director Vogue, André Leon Talley. “Certain friends have dropped me,” ucapnya kepada The New York Times pada akhir Mei lalu terkait kekecewaan terhadap beberapa figur fashion yang mengabaikan dirinya setelah ia tak lagi memegang jabatan prestisius tersebut.

Berkaca pada pengalaman tak menyenangkan Horyn, Chambers, dan Talley, wajar jika terus muncul kecurigaan mengenai rendahnya integritas para kritikus fashion untuk berani berkata jujur tentang hal negatif yang mereka lihat di koleksi desainer dan rumah mode, entah itu plagiarisme atau yang lainnya (misal rasisme atau seksisme), akibat ketakutan atas ganjaran penghentian iklan dan pengekskulsian. Selama ini, Diet Prada tampaknya terlindungi dari risiko-risiko seperti itu karena anonimitasnya serta ketidaktergantungannya pada pendapatan iklan. Akan tetapi setelah membongkar identitasnya, apakah Diet Prada akan tetap berani mewujudnyatakan sikap dan nilai yang tampak semakin langka di dunia mode? Tidakkah mereka akan gentar dengan “serangan” yang mungkin muncul esok hari? Ataukah mereka akan berubah haluan ke wilayah mainstream dan menggantungkan penghidupannya pada pendapatan iklan atau konten berbayar?

 

Mission Impossible?
Meski keterbatasan platform Instagram tak memungkinkan Diet Prada mengulas isu-isu fashion secara luas dan mendalam, apresiasi tetap pantas untuk diberikan kepada Diet Prada yang telah berkontribusi dalam menstimulasi percakapan mengenai berbagai tema di industri mode, termasuk tentang plagiarisme. Dibutuhkan ruang bahasan tersendiri untuk secara cermat menginvestigasi topik contek-mencontek tersebut. Pastinya akan menjadi sangat rumit dan panjang.

Hal pertama yang menyita energi intelektual terkait problema ini adalah batasan yang semakin kabur antara aktivitas menggali inspirasi dan meniru. Menariknya, di tengah percakapan tersebut, beberapa desainer justru melihat bahwa peniruan terhadap kreasi mereka sebagai sebuah harga dari kesuksesan. Gabrielle Chanel pernah berkata “Being copied is the ransom of success”. Sementara itu, sehubungan dengan maraknya aksi peniruan yang dilakukan high street brand, Olivier Rousteing dari Balmain bahkan mengatakan kepada The Independent pada tahun 2014, “I’m really happy that Balmain is copied.” Rousteing melihat bahwa hal tersebut merupakan satu jalur yang memungkinkan penikmat fashion dengan budget terbatas untuk “mencicipi” kreativitasnya.

Ketika menyentuh aspek hukum, diskusi terhadap kasus fashion copycat memiliki keunikan tersendiri. Masing-masing negara punya pendekatan yang berbeda. Di Amerika Serikat, karya-karya mode tak mendapat perlindungan hukum copyright karena dianggap tidak termasuk ke dalam kategori original works of authorship in tangible medium of expression sebagaimana karya sastra, komposisi musik, lukisan, film, koreografi, arsitektur, dan sebagainya. Namun pihak perancang maupun brand bisa mendaftarkan ornamen khas dari produk-produk mereka untuk mendapat perlindungan design patent. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan di Prancis dimana kreasi fashion mendapat perlindungan ekstensif karena tergolong sebagai original work of the mind.

Ragam pendekatan legal mengenai fashion knockoff, termasuk yang berkaitan dengan topik design patent dan trademark, tentu memiliki implikasi tertentu terhadap persoalan kreativitas dunia mode. Area kreativitas mode seolah berada dalam sebuah dilema dengan sebuah mata pisau di masing-masing sisinya.

Bayangkan jika tiap brand mengklaim hak legal eksklusif atas seluruh detail elemen dari kreasi mereka. Bukankah kondisi seperti itu justru bisa membatasi atau bahkan mematikan greak kreatif di dunia mode itu sendiri karena tak ada perancang yang berani menghadirkan referensi terhadap karya desainer atau label lain dalam koleksinya? Namun bila produk kreativitas mode hanya mendapat perlindungan hukum sangat minimal, risiko plagiarisme pun otomatis semakin besar. Yang paling dirugikan dari kondisi semacam itu adalah para desainer atau label yang tak berdaya melihat karyanya ditiru oleh pihak yang lebih powerful dan meraup keuntungan besar dari aksi peniruan tersebut.

Haruskah Diet Prada terbentuk lebih awal di garis sejarah fashion agar semua kekacauan ini bisa diatasi? Rasanya tidak ada kata terlalu terlambat untuk memantik kepedulian orang terhadap persoalan kreativitas. Langkah dan tujuan Diet Prada sangat relevan dengan masa kini, upayanya akan lebih berhasil apabila didukung oleh pejuang lainnya, baik itu pengamat mode, ahli hukum, pakar ekonomi, atau bahkan filsuf. We should be optimistic!