Batik for The World: Bringing Local Culture to UNESCO’s Front Row

Tiga perancang Indonesia mendapat kesempatan untuk memamerkan budaya nasional ke tanah Eropa bersama UNESCO.

Dengan keanekaragaman suku, adat, dan budaya, Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan tradisi dan kultur. Hal tersebut bisa dibuktikan dari sekadar membuka percakapan kasual dengan kerabat Anda mengenai topik ini. Pelajaran baru tentang kekayaan negeri kita – sekecil apa pun – pasti akan terpetik.

Tidak sedikit orang berdatangan untuk menyaksikan warisan budaya Indonesia, mulai dari keindahan alam, upacara adat, seni tradisional, dan bahkan batik. Batik merupakan satu dari sekian banyak daya tarik warga dunia ke Indonesia. Bagi masyarakat Indonesia sendiri, batik memiliki ekspresi budaya yang mengandung makna simbolis dan nilai estetika tinggi. Jadi, bukan hal mengherankan jika batik menjadi barang mewah yang kerap dicari masyarakat global saat berkunjung ke Tanah Air. Meski begitu, batik tidak dilihat sebagai oleh-oleh semata. Berkat keunikan dan kecantikannya, jenis kain ini berhasil membuat dunia terkagum.

Dalam sebuah pagelaran bertaraf global yang digelar di headquarter UNESCO di Paris, Indonesia bersama Bakti Budaya Djarum Foundation mempersembahkan karya-karya dari tiga desainer berprestasi, Denny Wirawan, Edward Hutabarat, dan Oscar Lawalata, ke atas panggung Hall Salle 1 – ruangan yang biasa digunakan untuk konferensi para anggota UNESCO dari seluruh dunia.

Oscar Lawalata membawa nama daerah-daerah di Jawa Timur dengan suguhan pattern batik dari kota Madura, Surabaya, Ponorogo, Trenggalek, dan Tuban. Varian batik ini ia pamerkan dalam seri ready-to-wear. Sedangkan, Edward Hutabarat memboyong motif batik dari daerah pesisiran Megamendung dan Sawung Galing – Cirebon, dengan tetap menonjolkan identitas stripe sebagai ciri khasnya. Sementara, Denny Wirawan hadir dengan inspirasi koleksi terbaru dari kain Batik Kudus, warisan budaya pesisir Jawa Tengah yang berkembang sejalan dengan proses kemajuan kerajaan di Jawa.

  • “Tak mungkin sendirian dalam memperjuangkan budaya Indonesia yang keren dan kaya di mata dunia. Kita harus melakukannya bersama-sama: pemerintah dan swasta.”

    — Renitasari Adrian, Program Director of Bakti Budaya Djarum Foundation

 

Batik telah menjadi sebuah seni yang dibanggakan oleh bangsa Indonesia. Setiap kain batik khas daerah memiliki berbagai macam pola dan motif yang berbeda, dan selalu melalui proses pembuatan yang ekslusif, membuat setiap jenisnya spesial dan sangat berharga. Oleh  karena itu, apresiasi Nusantara terhadap batik jatuh pada tanggal 2 Oktober setiap tahunnya pada Hari Batik Nasional.

Sejak dulu kita telah menyaksikan banyak warisan budaya Indonesia yang dikampanyekan ke panggung dunia, namun tetap saja, selalu hanya segelintir orang yang dapat benar-benar memperjuangkannya sampai ke garis akhir. Kali ini giliran Bakti Budaya Djarum Foundation yang berhasil menyelesaikan perjalanannya, setelah tentu saja melalui proses yang tidak singkat. Kami bangga menjadi bagian dari perkembangan ini dan untuk terus mendukung gerakan yang berdampak positif.

Batik For The World dibuka mulai tanggal 6 Juni selama sepekan. Selain pagelaran busana yang menjadi pembuka kegiatan ini, terdapat pula pameran Batik Indonesia. Ada sekitar 100 kain batik Indonesia yang dikurasi bersama Yayasan Batik Indonesia (YBI), Rumah Pesona Kain, dan Oscar Lawalata Culture. Setiap batik yang dipamerkan di sini memiliki ragam kekuatan motif, dari tradisional hingga modern. Bravo!