Bagaimana Nasib Kalendar Fashion seusai Pandemi COVID-19?

ALLYSHA NILA 

The reasons to change fashion calendar.

 

Tenaga kerja produksi industri mode sangat tertekan. Dunia ritel telah mengalami stagnasi yang cukup lama. Konsumen sudah terlalu dimanja sehingga menjadi normal bagi mereka untuk memiliki ekspektasi yang sangat tinggi dan mempertahankan siklus yang tidak berakhir. Semua hal tersebut sangat tercermin oleh jadwal yang diikuti seluruh pelaku fashion yang semakin amburadul, khususnya perihal fashion show (Cruise/Resort, berbagai capsule collection, kolaborasi, dan seterusnya). Jangan salah, masalah ini sudah berlangsung jauh sebelum dunia dilanda pandemi COVID-19. Apakah sebuah virus cukup untuk mengubah industri yang mempertahankan cara-cara kuno?

Pada bulan April lalu, Saint Laurent mengumumkan mereka tidak akan menggelar fashion show bulan September mendatang, dimana biasanya semua presentasi koleksi Spring/Summer diselenggarakan pada fashion week. Mereka akan menetukan kalendarnya sendiri. Marc Jacobs juga tidak akan mengadakan pagelaran di bulan September nanti – bahkan ia menghentikan produksi koleksi September 2019 lalu. Satu bulan kemudian, Gucci memutuskan untuk mengurangi jumlah fashion show per tahun dari lima menjadi dua yang seasonless dan menggabungkan womenswear dengan menswear secara permanen. Presentasi Gucci Epilogue telah diselenggarakan secara virtual beberapa waktu lalu.

Perlu dicatat bahwa perubahan di industri fashion tidak akan cepat. Pasalnya, meskipun ada konglomerat yang meninggalkan tradisi, dan walaupun terjadi ketidakpastian era pandemi, mayoritas brand internasional telah bersiap untuk kembali mengadakan show sesuai dengan kalendar mode tradisional. Paris Fashion Week, contohnya, akan mulai pada 28 September hingga 6 Oktober. Tentu tidak mungkin kita bisa mengharapkan semua fashion show berhenti begitu saja. Hal itu justru bisa membunuh berbagai industri relevan dan menghilangkan pekerjaan, yang sudah diperparah dengan adanya pandemi.

Namun yang jelas, ada gerakan besar untuk “memperlambat” fashion. Sebelum gerakan Saint Laurent, desainer Giorgio Armani menulis kepada WWD – sebagai responnya terhadap sebuah artikel berjudul “Tipping Point: Will the Flood of Collections Yield to Slower Fashion?” – menjelaskan bahwa pada titik balik ini, high fashion harus berhenti beroperasi seperti fast fashion, yang sudah jelas sangat merusak ekosistem, baik yang natural maupun industrial. “The moment we are going through is turbulent, but it also offers us the unique opportunity to fix what is wrong, to regain a more human dimension…This is perhaps the most important lesson we can learn from this crisis.” tulisnya.

Desainer Dries Van Noten mengusulkan pada open letter-nya agar siklus musim Fall/Winter dikembalikan pada bulan Agustus/Januari, kemudian Spring/Summer pada bulan Februari/Juli. Saat ini, sistem fashion justru terbalik dan ada ketidakselarasan antara cuaca dan musim. Para editor, jurnalis, merchandiser dari seluruh dunia berbondong untuk menyaksikan para model memperagakan beachwear saat suhu diluar dibawah 10℃. Para konsumen melihat serangkaian baju berbahan linen pada bagian new arrivals saat mereka sibuk mencari jaket windproof. Usulan Van Noten ini akan meringankan beban produksi, memastikan pengiriman yang lebih teratur dan relevan, meminimalisir dead stock, mempertahankan full retail price dan mengurangi adiksi diskon para konsumen. Para retailer besar seperti La Rinascente, Tres Bien, Bergdorf Goodman dan Selfridges, serta ratusan pelaku industri lainnya telah menandatangani surat tersebut.

Proposal kalender baru dari #RewiringFashion, dimana buying weeks dimulai pada bulan Juni untuk Spring/Summer, dan bulan Januari untuk Fall/Winter.

Demikian pula, The Business of Fashion juga telah memfasilitasi sebuah proposal, #RewiringFashion, yang memaparkan ide kalendar fashion baru secara mendetail. Inisiasi ini mengundang para desainer untuk memformat ulang bentuk fashion show agar tidak terkekang oleh aturan-aturan fashion council, memerlukan budget yang terlalu besar, dan membuatnya lebih teroptimasi untuk dunia digital dan lebih sustainable. Desainer seperti Proenza Schouler, Isabel Marant, Craig Green, serta retailer Joyce dan Machine-A, contohnya, mendukung forum ini.

Fashion jelas mengarah terhadap desentralisasi. Tentu menjadi tantangan untuk mengikuti perubahan, tapi hal ini akan mendukung para desainer independen maupun desainer ternama untuk mendorong kreativitas lebih jauh.