From court to cocktail.
Sports and St. Regis have a solid relationship. Hal ini bisa ditelusuri hingga ke masa hidup John Jacob Astor IV, pendiri St. Regis. Ia lahir pada tahun 1864 di Ferncliff, sebuah estate ribuan hektar yang dibangun ayahanda William Backhouse Astor Jr hasil pembelian tanah dari masyarakat lokal di New York, Amerika Serikat. Merupakan lahan pertanian dengan sebuah mansion dilengkapi dengan kuda-kuda peliharaan, properti itu mengalami pengembangan di tangan Astor IV ketika ia mewarisinya; it was about sports.
Pada tahun 1902, Astor IV meminta arsitek Stanford White untuk mendesain Ferncliff Casino yang merujuk pada sebuah sports pavilion bagi kepentingan guest entertainment, atau juga dikenal sebagai Tennis House. Rampung dua tahun setelahnya, venue tersebut mencakup lapangan tenis indoor dan outdoor, serta fasilitas squash, bowling, indoor swimming pool, dan shooting range. Sepeninggal Astor IV dalam kecelakaan kapal Titanic pada 1912, Ferncliff Estate diwariskan kepada sang anak Vincent Astor dan mengalami ragam perubahan serta kepemilikan hingga kini – now the so-called Astor Courts is reportedly owned by Former Google CEO Eric Schmidt.
Spirit of sports dari keluarga Astor terus termanifestasi dalam ragam rupa. Contohnya adalah St. Regis Aspen Snow Polo World Championship yang digelar St. Regis pusat secara tahunan. Di Malaysia, The Editors Club menjumpai soul of sports serupa pada The Astor Club dari St. Regis Kuala Lumpur. Digelar beberapa waktu lalu, The Astor Club merupakan sebuah afternoon soirée untuk menghormati legasi keluarga Astor dalam bidang olahraga.
Berlangsung di Kuala Lumpur Golf & Country Club, vibrant figures of Malaysian society menghabiskan fun moment dengan bermain tenis di acara Astor Club. Termasuk di antaranya adalah aktris asal Indonesia, Whulandary Herman, yang kini sudah membangun keluarga di Negeri Jiran. Melengkapi pengalaman bermain tenis, para tamu disuguhkan dengan koktail ikonis Red Snapper, variasi Bloody Mary karya St. Regis New York dari tahun 1934. Opsi cocktail lain adalah Asam Boi Mary, sebuah twist dengan khasanah bahan alam lokal. Layanan gentle massages tersedia di lounge untuk tennis players rehat sejenak dan merelaksasi diri.
Di properti St. Regis Kuala Lumpur, jiwa tenis dibawa ke dalam bentuk afternoon tea The Tennis Tea Affair di The Drawing Room. Kreasi-kreasi kudapan terinspirasi olahraga raket tersebut merefleksikan afternoon tea legendaris Caroline Astor, ibu dari Astor IV yang merupakan matriarch dari American Astors. Caroline merupakan sosok signifikan dalam high-society New York era Gilded Age dan memperkenalkan tradisi afternoon tea di St. Regis.
Kala waktu berganti dari siang ke malam lewat prosesi Champagne Sabering khas St. Regis, court style yang sporty beralih menjadi cocktail flair nan glam dalam jazz night di Jack’s Club, Astor Bar – Jack was the nickname of Astor IV. Bespoke concoctions dan curated bites yang disuguhkan meleburkan New York charm masa 1920-an dengan energi kota Kuala Lumpur. Jack’s Club di Astor Bar tersedia pada Kamis terakhir di setiap bulan.
As we attended its debut, The Astor Club brought the original elegance and sporty spirit of the St. Regis family into today’s lifestyle scene.