Art Deco Reference in Sebastian Gunawan Couture 2020

Pretty yet problematic.

 

Diselenggarakan di Hotel Mulia, Jakarta, pada hari pertama di bulan Oktober lalu, peragaan busana tunggal dari desainer senior Indonesia, Sebastian Gunawan, menyuguhkan koleksi made-to-measure premium untuk tahun mendatang. Sesaat sebelum model berlenggok, suara pemandu acara mempersiapkan kerangka pandang tetamu dengan menjelaskan perihal inspirasi koleksi. Berjudul ‘Incantesimo’, rancangan-rancangan desainer yang akrab disapa Seba itu disebut mengambil inspirasi dari dunia arsitektur di awal abad ke-20. Termasuk di dalamnya adalah referensi genre Art Deco.

Garis-garis geometris Art Deco tertuang baik pada motif maupun ornamentasi busana. Salah satu contoh paling kentara adalah pola lengkung dari puncak Chrysler Building di kota New York – gedung gaya Art Deco yang rampung pada tahun 1930. Elemen ikonis dari bangunan yang masih satu kawasan dengan Empire State Building di area Manhattan itu – juga merupakan produk Art Deco yang dirujuk pada koleksi ini – menjadi motif yang menghias sebuah tube dress palet perak-hitam. Percikan vibe dunia fashion pada masa itu terwakili bukan melalui siluet flapper melainkan oleh penggunaan feather.

Jelas bahwa lebih dari 80 look berbahan  tulle, velvet, hingga jacquard yang tampil pada malam itu memancarkan kecantikan. Aksen-aksen busananya yang mengindikasikan kerumitan proses hand-work mencerminkan skill dan dedikasi yang tak main-main dalam membuat koleksi ini. Nuansa glam melalui penggunaan materi-materi berkilau pun mengukuhkan citra kemewahan rangkaian rancangan. Kesemuanya itu membuktikan Seba sebagai perancang adibusana papan atas Indonesia yang dengan komitmen dan seperangkat keahlianya mengakomodasi luxurious living dari para upscale client di daftarnya.

Akan tetapi, dalam soal olah tema, koleksi ini terbilang rapuh. Kekayaan arsitektur masa awal abad 20 yang menjadi api kreatif di balik terciptanya koleksi tersebut malah meredup lantaran hanya disalurkan sebatas permukaan pada permainan motif ataupun konstruksi dekoratif dan potongan yang tak cukup kuat meradiasi atmosfer arsitektur masa 1900’an sampai 1930’an. Rona koleksi ini terbatas pada konsep dasar modern dress yang di dalamnya justru ditemukan sebaran unsur kultural era lain nan cukup signifikan untuk melemahkan soliditas tema koleksi yang sesungguhnya. Sebut saja siluet-siluet 50’an, sapuan nuansa disco 70’an pada beberapa karya sequins, maupun twist yang lebih menggambarkan suasana era Victorian – terlihat pada puff sleeve – bahkan retro sci-fi.

Satu-satunya benang merah yang menjadi pengikat kuat antar looks adalah bahwa helaian-helaian itu dieksekusi dengan metode yang kuat mencerminkan gaya desain Seba. Hal ini menjadi poin problematis yang bukan hanya menyangkut koleksi ini tapi juga runtutan koleksi sebelumnya. Dari hasil akhir yang dipertunjukkan, koleksi-koleksi Seba bagai  terbuat dari set cetakan-cetakan yang bisa dibongkar pasang, yang oleh sang desainer dirangkai secara beragam lalu dituang dengan pasta-pasta tematik yang cantik. Tak dapat disangkal bahwa Seba secara lihai mengeksplorasi cetakan-cetakan itu dan memadankannya dengan isian tema indah sehingga menghasilkan visually eye pleasing looks. Are they pretty? Yes. Are they glamorous? Yes. Do they reflect strong interpretation of a theme? They don’t.

Bisa dipastikan bahwa Seba mengenal baik apa yang disukai klien-klien loyalnya sampai saat ini. The brand continues to present solo show which means his design formula, business-wise,  is still working well. Nevertheless the question is about how would the brand respond to the changing demography of fashion market. Dari waktu ke waktu, klien lama akan tergantikan oleh generasi baru; generasi yang selera estetikanya dibentuk oleh keragaman dan kecepatan pertukaran informasi. Mereka terbentuk oleh situasi kaburnya batas antara haute couture dan high street wear. Mereka mengenal Balenciaga bukan dari perspektif Cristobal Balenciaga melainkan Demna Gvasalia dan merayakan kolaborasi Louis Vuitton dengan Supreme. Risiko dari jalan yang ditempuh setiap established fashion brand untuk mempertahankan formulasi lama di tengah berbagai perubahan adalah berkurangnya energi antusiasme terhadap brand tersebut.

Tentu hal tersebut tak serta merta berarti bahwa Seba harus menjungkirbalikan dan melakukan perombakan radikal pada DNA desainnya. What the brand really needs is at least to re-energize its face through a refreshed approach. Mungkin bisa dilakukan secara perlahan sebagaimana Virginie Viard menyusupkan nuansa-nuansa baru dalam beberapa look di koleksi Spring/Summer 2020 Chanel yang menandai dimulainya era Post-Karl Lagerfeld. Jika ingin membuat “kejutan” yang lebih terasa, Gucci di tangan Alessandro Michele bisa menjadi rujukan yang baik perihal cara menciptakan kesegaran. Koleksi terbaru Spring/Summer 2020 darinya tampil refreshingly different; lebih sleek dan meninggalkan beratnya motif maupun embellishment khas koleksi-koleksinya terdahulu; namun pada saat sama juga tetap meradiasi identitas sartorial Michele.

Sebagai karya anak bangsa yang telah berusia lebih dari seperempat abad, fashion brand yang didirikan Seba di dekade akhir abad 20 itu – tepatnya pada tahun 1992 – tentu diharapkan bisa berkarya dan berjaya hingga ke dasawarsa-dasawarsa berikutnya. Dalam mengarungi perjalanan tersebut, metamorfosis brand menjadi bagian tantangan yang perlu dipikirkan secara matang. Apakah masyarakat mode Indonesia akan melihat perubahannya? Ataukah bahkan akan menikmati kreasi adibusana Seba yang bukan hanya bisa dikenakan di ball room maupun cocktail event tapi juga kesempatan lainnya? Pergerakan waktu akan menjawabnya. Untuk saat ini, patutlah apa yang telah dilakukan Sebastian Gunawan dan partner kreatifnya, Christina Panarese, diapresiasi dengan memberi ucapan selamat atas penganugerahan Order of The Star of Italy yang diterima dari pemerintah Italia, dimana keduanya dinilai berkontribusi mengangkat aspek kultural Italia melalui karya mode.