Ancient Egyptian Allure in Chanel Metiers d’Art

Untuk koleksi Metiers d’Art 18/19, Chanel mentransformasi Metropolitan Museum of Art di New York menjadi sebuah utopia Mesir Kuno.

 

Melalui koleksi ini, sebuah dialog kreatif berlangsung antara inspirasi sebuah peradaban kuno dengan kode desain sang Mademoiselle. Bila dijajarkan dalam satu frame, kesamaan dari keduanya pun tampak; siluet yang clean, simpel, dan tegas. Alam dan tradisi yang berperan besar dalam eksistensinya. Elemen spesial yang membuatnya begitu timeless.

Emas, warna yang tak segan untuk menjadi pusat perhatian, adalah fondasi dari visi empire yang disuguhkan oleh Karl Lagerfeld. Emas bagaikan menjadi dewa omnipresent pada koleksi ini. Benang emas berkilau merangkai para tweed jacket, tunic dress, dan wrapped skirt. Para model berparade dalam boater hat dan boots leather berwarna emas. Mengkomplemen warna ini adalah warna-warna yang muncul di kotak perhiasan ratu firaun, seperti kuning topas, biru lapis lazuli, ungu ametis, oranye coral, hijau zamrud, dan merah rubi.

Tema Mesir Kuno dieksekusi dengan totalitas. Mengambil alih artefak Temple of Dendur di Met Museum, model-model tampil dengan cat-eye yang identik dengan beauty look Ratu Cleopatra. Collar megah menghiasi jaket, gaun, dan knitwear. Motif kulit buaya, salah satu binatang suci di Mesir Kuno, turut tampil dalam berbagai iterasi. Ikon scarab beetle dapat ditemukan pada detil-detil pakaian koleksi ini. Perhiasannya dramatis dan mencolok. Tasnya datang dalam bentuk piramida datang.

Graffiti tentunya adalah hieroglyphics versi kontemporer, and Chanel provided their own spin to it. Seniman graffiti Cyril Kongo mengkreasikan print graffiti emas pada jaket, gaun, dan tas dari koleksi ini. And so the theme went full circle, considering that the show is set at New York City, where street art thrives.

Runway kali ini juga turut dimeriahkan oleh kemunculan dua brand ambassador Chanel: penyanyi Pharrell Williams dan model Soo Joo Park.