An Exclusive Talk with Dina Oktaviani, the Quirky Faux Parisian

Berkarier menjadi seorang penulis bukanlah hal yang mudah. Membutuhkan konsistensi dan inspirasi yang konstan dalam menjalaninya. TEC berbincang dengan Dina Oktaviani, seorang penulis puisi asal Indonesia yang kini tinggal di Inggris. Mulai dari awal perjalanannya, inspirasi dalam kesehariannya, hingga caranya melihat hidup, semua membubuhkan keunikan tersendiri bagi pribadi perempuan yang baru saja menyelesaikan shooting film pertamanya di Paris ini. Meet the interesting mind of the ‘dedicated faux Parisian’.

 

Hi Dina, thank you for having this interview with TEC. How are you?

Hi Alexa, I’m a narcissist so pleasure is all mine. I’m managing, as always, thank you.

 

Ceritakan sedikit tentang background Anda. Bagaimana awalnya Anda terjun ke dunia menulis?

Saya lahir di Tanjungkarang dari sebuah keluarga besar yang menarik. Mendiang Mama seorang perempuan yang jago masak, cekatan mencari uang, keras kepala dan liar yang lari dari keluarga Jawanya pada umur 12 tahun. Papa keturunan Cina, mantan bos gangster yang intelek, jadi di rumah ada banyak buku menarik yang saya curi-curi baca sejak kecil. Mereka akhirnya berpisah ketika saya beranjak remaja dan saya tumbuh sebagai remaja yang tidak ‘kekinian’. Bukannya baca Aneka Yes!, saya baca Marquis de Sade; tidak pacaran, hanya sering naksir berat di dalam kepala; tidak nongkrong di mall, malah nongkrong dengan tunawisma di Pasar Bawah. Saya kira, sama seperti kebanyakan penulis, awal terjun ke dunia penulisan adalah dari membaca, membaca tulisan dan membaca hidup.

 

Apa yang menginspirasi Anda untuk mulai menulis puisi?

Waktu SMA, saya bergabung dengan sebuah kelompok teater profesional, Teater Satu Lampung. Sutradara dan pimpinannya, Iswadi Pratama, adalah seorang jurnalis dan penyair. Ia juga punya mata elang yang bisa melihat bakat penyair pada seseorang, bakat isi kepala yang gila lebih tepatnya. Suatu malam, usai latihan, ia mendekati saya dan bilang, “kamu mau belajar menulis puisi?” Saya pikir dia bertanya begitu karena saya nggak bakat akting, tapi nadanya serius banget tentu saya jawab, “mau”. Mulai saat itu, saya belajar menulis puisi dengan Kak Is, panggilan akrabnya.

 

Anda telah menulis beberapa buku sepanjang karier Anda, what was your first big break?

Saya tidak pasti soal ledakan pertama saya terkait buku yang saya terbitkan. Saya lebih ingat, jauh sebelum buku pertama saya terbit, waktu puisi-puisi saya ditayangkan di Kompas. Waktu itu editornya Sutardji Calzoum Bachri, sang Presiden Penyair. Tahun 2000 kalau tidak salah, umur saya belum 16 tahun. Lumayan geger di Lampung waktu itu, dan mau nggak mau honornya dipakai mentraktir teman-teman teater dan penyair.

 

Dalam perjalanan Anda sebagai penulis, adakah orang-orang yang berpengaruh bagi Anda, yang memberikan pelajaran layaknya seorang mentor?

Seperti saya kisahkan sebelumnya, Mas Is (begitu saya memanggilnya sekarang) adalah orang pertama yang memperkenalkan saya ke dunia penulisan puisi. Lalu ketika saya hijrah ke Jakarta tahun 2002, ada Sutardji Calzoum Bachri atau Om Tardji. Kami sangat dekat selama setahun tinggal di Jakarta, mungkin karena saya satu-satunya orang yang berani mendebatnya terus-terusan, anak kecil pula. Bedanya, Mas Is mengajari saya mulai dari teknik menulis dan menggali puisi-puisi yang sudah dikaruniai kehidupan yang carut-marut dalam diri saya dengan cara-caranya yang metodis (meskipun secara permukaan kelihatan acak), sedangkan Om Tardji selalu bilang bahwa ia “tidak akan mengajari saya puisi”, ia “akan mengajari saya kehidupan” dengan cara-caranya yang slengean.

 

Selain menulis buku, Anda juga telah menerjemahkan buku dari bahasa Spanyol dan Inggris ke bahasa Indonesia. Apa Anda menguasai bahasa lain selain ketiga bahasa tersebut?

Bahasa Spanyol saya sudah nggak bagus sama sekali sekarang, karena nggak pernah dilatih, tapi kalau baca masih ngerti. Saya lebih lancar bahasa Inggris dan bahasa Prancis sekarang, tulisan dan lisan, karena saya sering bolak-balik Inggris-Prancis. Bahasa Jawa saya juga lumayan, bisalah kalau ngobrol sama Sultan.

 

Jika dapat merekomendasikan buku untuk orang-orang yang ingin menjadi penyair atau penulis, buku apa yang Anda pilih?

Demian karya Hermann Hesse, Zarathustra karya Frederich Nietzsche, dan Portrait of A Youngman as An Artist karya James Joyce. Mungkin aneh saya merekomendasikan ketiga buku ini karena semuanya bukan buku puisi, tapi lebih aneh kalau ada penyair di dalam dirimu dan setelah membaca ketiga buku ini kamu tidak bisa menulis puisi.

 

Apakah ada saran penting yang perlu diketahui para pemula dalam menulis?

Banyak membaca dan latihan menulis. Banyak memperhatikan dan mengevaluasi orang-orang dan kehidupan. Kalau semua ini sudah dilakukan dan masih tidak bisa menulis, just forget it!

 

The way I think influences my style.”

 

Boleh ceritakan tentang film “Cinta Itu Bangsat”? Siapa karakter yang Anda mainkan?

Ada tiga kisah cinta di tiga negara berbeda (Islandia, Prancis, Indonesia) dalam film ini, ketiganya dikaitkan oleh karakter-karakter yang saling berhubungan. Saya memainkan karakter Bice (Beatrice), seorang aktris dan penyair yang tinggal di Paris dan berpacaran dengan sutradara dan produser kaya Indonesia yang juga tinggal di Paris. Bice orang yang idealis dan mengagungkan kebebasan, dalam keberlawanannya dengan kemapanan finansial dan kemapanan status.

 

Bagaimana ceritanya ketika ditawarkan bermain dalam film ini?

Ceritanya lagi asyik merokok di rumah, dapat SMS dari kamrad lama Rahung Nasution, “mau nggak bantuin main film temanku?” Karena saya narsis, langsung bilang mau dong. Belum tahu judulnya apa, ceritanya gimana, sutradaranya siapa. Setelah berkenalan jarak jauh dengan Amir Pohan, sutradaranya, saya baru tanya kenapa saya? Ia bilang, “karena lo penulis, dulu di teater and I like your personal style”—ia merujuk ke akun instagramku @imaginedparis.

 

Ini merupakan pengalaman pertama Anda berakting di depan kamera. Bagaimana proses shooting-nya? Apakah ada persiapan spesial atau latihan dalam melakukan scenes Anda?

Prosesnya berbeda sekali dengan proses teater yang pernah saya jalani dulu sekali. Untuk film produksi kecil dan mendadak ini, hampir tidak ada waktu untuk latihan. Persiapan saya adalah membaca skrip secara keseluruhan dan mempelajari karakter sedikit demi sedikit dengan ngobrol banyak dengan sutradara dan penulis-penulis skrip (Mas Amir dan Rahung) dan kembali ke Paris satu bulan sebelum mulai syuting.

Prosesnya asyik dan penuh kegilaan. Saya beruntung karena kru kecil kami saling membantu satu sama lain. Lawan peran utama saya, Chicco Jerrikho, juga lawan main pertama yang asyik. Pertama kali ketemu, rencananya kami akan ngobrol bareng-bareng dengan sutradara di apartemen kru di Paris, tapi akhirnya Chicco saya ‘culik’. Waktu Chicco sudah sampai apartemen, saya minta dia turun ke bawah ke kafe sebelah di mana saya sudah menunggu sendirian. Kami jadi ngobrol banyak berdua sambil café-hopping di Paris sampai larut malam.  Sebelum take, kami biasanya sudah nggak banyak ngobrol lagi, sudah saling percaya saja.

 

Ada kejadian menarik apa selama proses shooting berlangsung?

Ada deh. Ha ha. Setiap hari syuting ada kejadian menarik yang tidak semuanya bisa diceritakan.  Kru kecil dan akrab yang terdiri dari orang-orang berkarakter kuat dan berbeda-beda, jadi bisa dibayangkan dinamikanya. Salah satu yang menarik yang bisa diceritakan adalah waktu turun salju di Paris, semua kru yang lagi asyik makan siang langsung sibuk siap-siap ambil gambar dan menciptakan scene-scene baru supaya salju tidak jadi mubazir.

 

Apakah Anda berencana untuk terlibat lagi dalam industri film?

Belum tahu. Saya nggak pernah ikut audisi atau tahu bagaimana dunia perfilman bekerja. Kata Mas Amir sih tunggu dipinang (untuk main film) Gaspar Noë aja habis Cinta Itu Bangsat. Ha ha.

 

To me Paris is home. My Parisian life is so lively, so dark, so inspiring.”

 

You have such a unique sense of style. Who influenced your style?

The way I think influences my style.

 

Dengar-dengar, Anda sempat mengambil mata kuliah Psikologi setelah dropout dari sekolah bahasa Prancis. Apa yang mendasari keputusan ini?

Karena saya sakit jiwa. Serius, kalau orang tidak merasa sakit jiwa mengambil mata kuliah Psikologi, mereka bukan mahasiswa Psikologi beneran.

 

It seems like you travel a lot, apa pengalaman yang paling Anda ingat ketika travelling? 

Not as much as I would love to, actually. Pengalaman yang paling saya ingat sekarang adalah ditodong tiga anak muda laki-laki maghrib-maghrib waktu jalan di pasar menuju riad tempat saya menginap di Marrakech, Maroko. Pasar ramai tapi tidak ada yang menolong. Lalu ada mas bule ganteng tinggi besar jalan ke arah saya, saya langsung lari ke masnya dan minta jalan bareng. Rejeki anak solehah lah.

 

Sebutkan tempat atau kota favorit yang telah Anda kunjungi. Mengapa?

Paris. Klise ya? Tapi bukan Parisnya turis-turis kebanyakan. To me Paris is home. My Parisian life is so lively, so dark, so inspiring. Ada banyak tempat dan aktivitas yang membuat Paris tetaplah Paris yang menginspirasi seniman-seniman besar di sana. Underground cabaret, cave jazz, small bars where brilliant people hang out. Pertumbuhan Paris ke arah ‘modernisasi’ juga terhitung lambat dibanding kota-kota besar lainnya seperti London atau Jakarta, misalnya, and that’s a plus for me! And, oh, they speak French there!

 

Di mana Anda tinggal sekarang? Apa yang Anda lakukan sehari-hari di sana?

Saya tinggal di Inggris sejak tahun 2012, di Dorset, one of the most beautiful counties in England. Sejak 2016 saya mencoba tinggal di Dorset beberapa bulan dan di Paris beberapa bulan setiap tahunnya.

Kalau di Dorset, sehari-hari leyeh-leyeh sambil mendengarkan musik di tempat tidur, membaca, diam-diam menulis, mainan Instagram, nonton film atau driving through the countryside in my little car with the roof down comes rain or shine. Saya juga penerjemah resmi di Inggris, jadi sesekali menggarap terjemahan tertulis atau melakukan perjalanan dalam dan luar kota untuk menerjemahkan secara lisan.

Kalau di Paris, je kiffe, menikmati hidup! Ngelayap sana-sini, from bar to bar, from one jazz club to another, from pyjama parties to more sophisticated pyjama parties, ke bioskop-bioskop tua nonton film-film lama, ketemu orang-orang baru, menggarap terjemahan juga because how else am I supposed to afford Chanel bags, dan mengerjakan proyek-proyek kecil seperti menulis puisi dan jurnal pribadi Imagined Paris, menulis lagu dengan teman-teman musisi, atau jadi koki gadungan di bar favorit dan pesta-pesta kecil teman-teman. Saya juga senang jalan-jalan sendirian, melalui gang-gang Paris yang bau pesing, ngopi dan minum sendirian sambil mengkhayal dan memperhatikan orang-orang lewat.

 

Out of curiosity, apakah ada cerita tersendiri di balik nama ‘Imagined Paris’?

Nama ‘Imagined Paris’ terinspirasi dari ‘Imagined Community’ karya Benedict Anderson. Saya jatuh cinta dengan konsep ‘komunitas yang dibayangkan’ itu sejak ketemu buku itu saat SMA. Menurut buku Om Ben (panggilan akrabnya di Yogya) itu, nasionalisme diciptakan oleh media melalui citraan-citraan dan bahasa keseharian sekelompok orang. Nah, Imagined Paris adalah citraan-citraan akan Paris yang kulemparkan melalui media Instagram untuk dipungut oleh publik. Tentu saja citraan-citraan Paris yang kutawarkan adalah Paris yang saya bayangkan, saya hirup, adalah Paris yang saya tapaki, adalah Paris di dalam kepala saya, di dalam diri saya.

 

Menulis buku, bermain teater, hingga bermain film sudah, apa target Anda berikutnya?

Target berikutnya adalah menjadi terkenal, so thank you for this interview!