An Escape to the New Artotel in Semarang

As artsy as its name.

 

Artotel Group kembali berekspansi. Dengan menggandeng arsitek Andra Matin dan seniman Eko Nugroho, hotel lokal yang mengangkat tema seni ini hadir di Semarang. The Editors Club meliputnya secara langsung.

Menjejakkan kaki di Semarang, kami disapa oleh teriknya sinar matahari yang disertai cuaca berangin. Perjalanan dari bandara ke hotel memakan waktu sekitar 30 menit. Singkatnya waktu perjalanan karena lokasi hotel berada di salah satu jalanan pusat kota Semarang menyadarkan kami akan mungilnya kota ini. Jalanan yang tidak terlalu macet serta pemandangan kegiatan anak-anak bermain dan para penjual makanan kaki lima di kota kecil ini memberikan suasana yang nostalgic, jauh dari hiruk pikuk Jakarta.

Artotel Gajahmada – Semarang berdiri secara minimalis di tepi Jalan Gajahmada. Bangunannya dirancang khusus oleh arsitek Andra Matin atas permintaan langsung sang pemilik. Ciri khas Andra Matin pekat terlihat mulai dari façade hotel ini. Kami masuk dengan menaiki lapisan anak tangga dan jalur concrete hingga ke lobby yang terletak di lantai 2. Warna abu-abu, hitam, dan aquatic blue menghias setiap level dari hotel ini; memberikan impresi yang teduh. Karya seni Eko Nugroho yang terpampang di bagian dalam pada sebuah sisi tembok lantai 1 hingga lantai 2 memberikan aksen kontemporer yang gagah, sekaligus menyeimbangkan minimalisme bangunan ini.

Hotel ini terdiri dari 12 lantai dengan total 80 kamar dan pilihan tipe Studio 25, 30, dan 55. Selain Eko Nugroho, ada lima seniman lokal yang menyumbangkan guratan muralnya pada setiap lantai hotel ini. Mereka adalah Diela Maharani, Ummi Damas, Horestes Vicha, Bunga Jeruk, dan Zaky Arifin. Tema besar yang diangkat untuk arahan seninya ialah “Semarang Reimagined”, yang mana setiap artwork menyiratkan cerita tersendiri tentang kota ini – masing-masing dengan ciri khas sang seniman.

Lantai teratas merupakan tempat bertenggernya 11/12 Rooftop Bar. Kami kembali disambut oleh karya seni Eko Nugroho ketika melangkah keluar dari lift. Restoran ini dikelilingi oleh tumbuh-tumbuhan dan sentuhan kayu-kayu. Di dalam, sisi barnya didesain dengan warna turquoise, menjadikannya aksen mencolok pada tempat ini. Bagian luar rooftop bar ini menjajakan 360-view, sebuah spot yang cantik untuk menikmati matahari terbenam. Pada lantai dasar, restoran Fat Elephant siap melayani breakfast dan pertemuan kasual selama 24 jam. Sebuah outlet yang menjadi rumah utama bagi makanan fusion Asia dan official coffee blend dari Artotel, Buka Mata.

Artotel Gajahmada – Semarang resmi menjadi gedung pertama di kota ini yang terinspirasi dari seni. Ia sekaligus menambahkan jajaran bangunan ikonis di Semarang. Pihak Artotel berharap hotel ini bisa menjadi sentuhan baru dalam scene gaya hidup anak muda Semarang.