Amotsyamsurimuda Melebur Spirit Teddy Boy dan Era 80’an

Through a virtual fashion show.

 

Savile Row selalu menginspirasi. Tailoring pieces dari sebuah jalan di Mayfair, London, tersebut tak hanya memesona high fashion designers tapi juga perancang-perancang genre highstreet. Nigo – sosok kreatif asal Jepang di balik eksistensi A Bathing Ape, Human Made, dan Billionaire Boys Club – memanifestasikan kecintaannya pada Savile Row dalam sebuah koleksi kolaborasi bersama Virgil Abloh untuk Louis Vuitton yang meluncur belum lama ini. Di tanah air, elemen tailoring juga menjadi bagian dari koleksi terbaru label Amotsyamsurimuda, namun dalam racikan berbeda.

Tak seperti rujukan LV Squared yang kental bernuansa dandy nan polished – not a surprise as Nigo loves the style of Prince Charles – Amot lebih memilih street attitude yang terdapat pada subkultur Teddy Boy di Britania Raya era 1950’an; dimana revitalisasi gaya Edwardian dari Savile Row direinterpretasi oleh pemuda-pemudi rebellious masa itu. Referensi tailoring pada inspirasi Teddy Boy di koleksi terbarunya ini pun diolah melalui pendekatan lain. Tak terpaku pada Brit looks, koleksi yang diluncurkan secara online di Instagram pada akhir Juni lalu ini meleburkan Teddy Boy dengan suasana mode dekade 1980’an sebagai materi utamanya.

Hasilnya adalah rancangan-rancangan highstreet kontemporer yang daringdynamic dan magically lebih meresonansi the soul of Seoul street style of today. Sebuah koleksi dengan sartorial feel bersentuhan eksentrik, ekspresif, sekaligus wearable. Winged denim jacket, model-model outerwear ber-lapel, oversized cropped vest, cropped jacket dengan bishop sleeves, jumpsuit berkerah lapel menjadi beberapa statement pieces yang ada pada koleksi berjudul “Judgement-free Zone” tersebut. Beberapa diantaranya menampilkan motif polka dot, sebagian hadir dalam pola plaid, stripes, dan skema dying dan patch-work. Meski sebagian besar bukan berwarna neon layaknya palet 80’an, Koleksi yang tailoring effect-nya diperkuat berkat kehadiran trousers ini mampu menghasilkan fun mood di tengah suasana muram saat ini.

Indeed the message of this collection is about hope and restoration. Melalui koleksi berisi 22 looks ini, Amot menyatakan sikapnya untuk menolak terkurung dalam kecemasan. Sikap yang dipilihnya jelas memiliki tantangan. Dikerjakan di tengah keterbatasan kegiatan produksi dan logistik bahan selama masa self-quarantine, desain-desain seasonless pada Annual Collection 2020 tersebut adalah hasil kerjanya dalam mengulik kembali arsip-arsip koleksi terdahulu dan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang available maupun dari koleksi sebelumnya. Penggunaan metode virtual fashion show untuk koleksi ini pun bukan tanpa “beban”. Dirinya mengaku bahwa memang ada hal-hal yang terasa “missing” ketika membandingkan format creative video dengan fashion show.

“Banyak hal yang memang “missing”, apalagi kita sudah terbiasa dengan suasana fashion show namun dalam video ini kita berusaha untuk membangun itu semua,” ungkap Amot kepada The Editors Club. Terlepas dari keterbatasan-keterbatasan yang ada, bagi desainer yang dulu berkarya melalui label Isis – yang kemudian berganti nama menjadi Sky Inc – video garapan fotografer Glenn Prasetya dan koreografer Edwan Handoko untuk koleksi ini merupakan sarana yang baik dan tepat dan mempermudah konsumen untuk mengetahui kreasi-kreasi terbarunya.

Belum ada yang bisa memastikan kapan pandemi COVID-19 ini akan berakhir. Di sudut pandang seorang Amot Syamsuri Muda, hal ini akan membawa banyak perubahan bagi dunia fashion. Entah seperti apa kondisi seperti ini akan berkembang dan perubahan apa yang akan dibawa, ia melihatnya sebagai part of life, yang pada akhirnya harus disikapi secara kreatif. “When life gives u lemon, make lemonade,” ujar Amot.