A Fresh New Face in the Celebration of a Decade of Saptodjojokartiko

Marking his 10 years of fashion designing, Sapto Djojokartiko held his first solo fashion show.

 

Kala mayoritas pekerja urban ibukota pada Kamis pagi itu, tepatnya 20 September 2018 pukul 10.00, mulai sibuk bergelut dengan problema perkantoran – dan sangat mungkin sudah hampir kehabisan tenaga sembari menantikan akhir pekan – seberkas energi kreatif memuncak di Istora Senayan, Gelora Bung Karno. Bukan dalam bentuk pertandingan olahraga melainkan sebuah peragaan busana. Peristiwa yang tak lazim pada lansekap mode Indonesia ini, baik dalam hal pemilihan tempat maupun waktu pelaksanaan, dihelat oleh Sapto Djojokartiko untuk menampilkan koleksi Spring/Summer 2019.

Sejenak fashion insiders negeri ini memalingkan perhatiannya dari gempita maraton Big 4 Fashion Weeks – saat itu merupakan giliran Milan – untuk mengapresiasi buah karya sosok perancang mode Tanah Air kelahiran Solo itu. Lebih dari itu, tamu-tamu undangan elok rupawan yang terdiri dari wajah-wajah selebriti papan atas, fashion journalists, dan tentunya Indonesian high society, bahkan juga siswa-siswi sekolah mode, menjadi saksi perayaan satu dekade kontribusi Sapto bagi palet industri mode Indonesia. Melalui fashion show tunggal perdananya, sang desainer menempatkan refleksi atas sepuluh tahun perjalanan karirnya dalam satu latar imajinatif mengenai evolusi peradaban masa depan, di mana Artificial Intelligence (AI) mengendalikan dunia manusia.

Bagaimana seorang Sapto memproyeksikan masa depan canggih dalam helaian-helaian busana? Would it be artificial or intelligent?

 

The Future of The Past

At its peak, AI must be indistinguishable with the human natural intelligent. Goal inilah yang tengah diupayakan oleh raksasa-raksasa teknologi. Satu elemen mendasar dari pencapaian hal tersebut adalah kualitas mesin dalam hal natural language understanding, yakni kemampuan memahami bahasa manusia dan memrosesnya secara canggih untuk menghasilkan respon tepat. Dalam sebuah interview tahun lalu, John Giannandrea yang dulu bekerja untuk Google dan kini menjabat posisi Chief of Machine Learning and AI Strategy dari Apple sejak April 2018 menyebut natural language understanding sebagai “holy grail for applied artificial intelligence.” Seperti diberitakan oleh situs The Verge beberapa waktu lalu, Giannandrea saat ini berkutat untuk memperbaiki Siri sehingga interaksi virtual assistant itu dengan manusia bisa minim error dan mengakomodasi lebih beragam kebutuhan.

 

 

Alih-alih terasa “palsu” dan kerap keliru sebagaimana respon yang saat ini kita terima dari Siri yang dikembangkan Apple atau dari robot Sophia buatan Hanson Robotic yang dipimpin oleh David Hanson, produk-produk berteknologi AI di masa depan tampaknya akan dengan lancar dan cerdasnya berkomunikasi dengan manusia, bahkan melibatkan aspek ekspresi emosi. Setidaknya seperti robot Ava di film Ex Machina (2015) yang dibintangi oleh aktris Alicia Vikander. Ketika membayangkan semua itu tercapai, yakni saat kecerdasan robot tak ubahnya intelegensi manusia, pertanyaannya yang muncul kemudian adalah bagaimana sikap dan perilaku para warga robot akan memengaruhi kehidupan kita. Ada banyak kemungkinan untuk menjadi jawaban inquiry tersebut yang bergantung pada pelbagai faktor; dan tentu salah satunya adalah moralitas manusia itu sendiri. Skenario terburuk dari masa depan manusia dan AI adalah robot-robot itu berhasil menjajah manusia secara non-human.

Tak mau semua itu terjadi? Semoga saja para politisi, technopreneur, ilmuwan dan akademisi, Anda, serta segenap penduduk Bumi lainnya berbagi visi dengan Sapto Djojokartiko yang menuangkan mimpinya tentang situasi masa depan manusia dan AI ke dalam peragaan busana Spring/Summer 2019. Pikiran Sapto menatap waktu mendatang dalam pendekatan harmonis. Di alam fantasinya, future civilisation adalah relasi mutual nan sustainable antara teknologi modern dan alam sebagaimana set peragaan busananya yang berlatar kombinasi gedung-gedung pencakar langit dan pepohonan rimbun. Tak hanya itu, era super-teknologi di semesta mimpi Sapto pun tidak bersifat “ikonoklastik” melainkan akomodatif dalam mempertahankan ruang bagi ekistensi nilai-nilai – termasuk estetika tradisional dari zaman-zaman sebelumnya. Tengok bagaimana siluet-siluet minimalis modern label Saptodjojokartiko pada koleksi terbarunya mewadahi kentalnya eksotika motif-motif yang menyerupai arsitektur candi-candi di Asia Tenggara maupun India.

Meski mungkin nanti seseorang akan memutuskan untuk mengenakan busana tersebut dengan satu motivasi apresiasi historis-kultural tanpa perlu mengorbankan garis-garis kekinian, intensnya ethnic print pakaian tersebut rasanya akan aktif dan kuat “memaksa” si pemakai untuk secara lebih mendalam menghayati makna dan peran cultural heritage bagi keberlangsungan hidup manusia. Sudut pandang seperti ini jelas bukan merupakan kelaziman dalam mengolah isu tentang masa depan manusia yang diisi oleh sophisticated technology. Melalui koleksi tersebut, Sapto terlihat membelot dari fiksi-fiksi umum mengenai future civilisation dan melempar satu proposal alternatif yang tegas menyatakan bahwa masa depan dengan kehebatan teknologi tak mutlak harus diisi oleh hanya hal-hal bergaya futuristik.

Negeri masa depan yang diciptakan benaknya terlihat menganut arahan berbeda dengan imaginary realm bernuansa futuristik dari desainer Iris van Herpen yang koleksinya bercirikan 3D-printing, maupun Hussein Chalayan yang mana rancangan-rancangan busananya bertransformasi dari wujud furnitur. Kreasi-kreasi Sapto yang terinspirasi oleh angan tentang masa depan manusia dan AI, baik yang mengusung nafas etnik ataupun sebagian yang mengolah klasikalitas Eropa (misalnya tampak pada sepotong gaun beraksen ruffle di bagian bahu) hingga yang sepenuhnya berjiwa kasual kontemporer, menyuarakan bagaimana artistika berbagai masa dan muasal akan terus diolah dan diapresiasi sampai ke masa depan. Relevansi ide itu bahkan sudah terbukti terjadi pada masa kini. Salah satu contohnya adalah lukisan yang tak punah bahkan sampai kamera digital berkembang.

The question is: how many people will buy it?

 

Sapto: Between Identity and Business Strategy

Dalam hal komodifikasi kreativitas, terkhusus dalam konteks ini adalah industri mode, tak perlu menunggu hingga masa depan ultra-canggih untuk berbicara mengenai dampak perubahan sosio-kultural pada perihal creative direction dalam kaitannya dengan volume penjualan. Demografi pengunjung pasar kini berganti dan mulai semakin dipenuhi oleh generasi muda, yang dilabeli sebagai milenial, sehingga tuntutan bagi adjustment pada seluk-beluk bisnis fashion pun tak terelakkan. Kondisi ini bukan hanya dihadapi oleh Sapto. Rumah-rumah mode besar berskala global juga tak imun terhadap situasi baru ini. Reaksi brand dan desainer beragam. Ada yang memilih untuk tak mengubah apapun, sementara yang lain melakukan perombakan signifikan, baik dalam hal wajah desain, strategi pemasaran, hingga mekanisme produksi dan penjualan.

Sapto menentukan level komprominya sendiri. Simetri dengan idenya tentang masa depan high-tech yang di dalamnya tetap ditemukan jejak warisan kultural, helaian-helaian rancangan Sapto pun memamerkan suatu transformasi yang banyak di antaranya diiringi dengan pelestarian signature kreativitasnya. Yang paling kentara pastinya adalah suntikan cita rasa tradisionalitas Asia and its mystical charm (dalam koleksi ini termanifestasi dalam motif etnikal). Sebuah selera khas Sapto yang bisa ditelusuri ke beberapa koleksi sebelumnya dalam rupa-rupa elemen (tak selalu motif), seperti pada koleksi Iabadiu, Mata Hari, dan Penara. “Jalan tengah” ini patut mendapat apresiasi positif. Selain karena hal tersebut menunjukkan bagaimana ia membela identitas desainnya sembari membuktikan bahwa dirinya adalah perancang yang mampu mengeksplorasi skema sartorial berbeda dari rekam jejaknya selama ini, juga karena melalui komprominya itu Sapto menghembuskan opsi baru dan berbeda bagi wardrobe milenial yang selama ini terkesan typical.

Apakah pengunjung bursa mode Tanah Air akan antusias menyambut kreasi-kreasi semacam itu? Ada sangat banyak faktor penentu bagi kesuksesan sebuah koleksi dan bukan porsi tulisan ini untuk mengupas apalagi memprediksi consumer’s appetite serta tingkat penjualannya. Apakah nantinya suguhan graceful dresses padu spirit etnik maupun nuansa Eropa khas Sapto masa lalu yang akan menjadi favorit? Ataukah high-street pieces darinya yang unik dengan sapuan nafas tradisional yang akan laris manis? Mungkin juga justru wajah baru desain Sapto yang menyodorkan hype logomania dalam monochromatic street style yang akan memberi kontribusi terbesar pada bisnisnya. Ragam varian menu mode yang tersaji dalam koleksi berisi sekitar 70 looks berpalet arctic tersebut, toh justru menjadi keuntungan tersendiri di mana urusan preferensi konsumen bisa disiasati melalui taktik penentuan volume produksi tiap-tiap genre yang disesuaikan dengan animo pasar terhadap masing-masingnya. Artinya, cara ini pun memungkinkannya untuk mempertahankan klien-klien lama dan membuka pintu bagi masuknya peminat-peminat baru dari generasi lebih muda.

 

 

Kalaupun nantinya situasi perubahan zaman (entah pergantian selera maupun aspek lainnya) begitu kuat menuntut pemain-pemain bisnis mode untuk mengutak-atik karakter koleksi mereka secara radikal bahkan meninggalkan identitas lamanya, Sapto terbukti memiliki sikap terbuka untuk mau berdialog dan berevolusi. Hal ini dapat sangat membantu sebuah brand untuk melanjutkan eksistensinya sampai ke masa depan yang jauh. Yang begitu diharap darinya adalah agar sikap dan intelegensinya dalam mempertahankan idealisme mendesain ke dalam diskusi untuk berekonsiliasi dengan selera pasar (sebagaimana yang ia lakukan dalam koleksi terbaru ini) tak kemudian jatuh menjadi pembenaran artificial untuk sekadar mengkopi arus tren demi profit di masa depan nanti.

Lantas bagaimana identitas Saptodjojokartiko pada dua puluh hingga lima puluh atau bahkan ratusan tahun ke depan? “Saya percaya bahwa penting bagi sebuah brand untuk berevolusi dan bila di kemudian hari memang dibutuhkan creative director baru, hal tersebut saya lihat sebagai bagian dari evolusi brand. Ketika nanti saya tak mampu lagi untuk memimpin bisnis ini sendiri ataupun saya menutup usia, saya ingin agar label ini tetap berlanjut,” ucap Sapto pada konferensi pers usai berlangsungnya peragaan busana.

Congratulation for a decade of your contribution in Indonesia’s fashion scene, Sapto Djojokartiko!

Comments are closed here.