4 Fashion Authorities in New York, London, Milan, and Paris

They are the ones behind the Big 4 Fashion Weeks.

 

Tak salah jika banyak orang memahami fashion week sebagai ajang promosi dan dagang bagi para brands maupun desainer, baik melalui perantaraan pers, influencers, buyers, ataupun langsung pada konsumen. Akan tetapi, bagi asosiasi mode yang terlibat, partisipasi perancang dan label di event itu bukan semata mengenai kesuksesan bisnis masing-masing pihak. Kesuksesan mereka ditempatkan dalam satu konteks yang lebih luas mengenai bagaimana kondisi industri fashion di negaranya dapat terus ditingkatkan.

Council of Fashion Designer of America mengendalikan jadwal New York Fashion Week. London Fashion Week merupakan garapan British Fashion Council. Di Milan Fashion Week ada Camera Nazionale della Moda Italiana. Fédération de la Haute Couture et de la Mode bertanggung jawab atas Paris Fashion Week.

Bagaimana keempat organisasi penting itu bermula? Apa saja yang menjadi program mereka? Seperti apa visi-misinya? Let’s take a brief look on each of them.

 

Council of Fashion Designers of America (CFDA)

Dunia mode Amerika mungkin tak akan seperti ini tanpa adanya inisiatif Eleanor Lambert dalam menciptakan acara khusus bagi pers pada tahun 1943 yang bertujuan untuk mengangkat nama-nama desainer lokal negara tersebut. Event bernama Press Week itulah cikal bakal dari New York Fashion Week – acara fashion week pertama di dunia. Hampir 20 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1962, Lambert membentuk Council of Fashion Designers of America (CFDA). Keanggotaan CFDA bersifat invitation-only yang diperuntukkan bagi desainer Amerika maupun negara lain yang bisnisnya berbasis di Amerika.

Saat awal terbentuknya, CFDA tak bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan Press Week. Pengaturan jadwal fashion shows dilakukan oleh publikasi bernama Fashion Calendar yang diciptakan oleh Ruth Finley pada tahun 1945. Baru pada tahun 2014, CFDA mengambil alih Fashion Calendar dan sejak saat itu memegang kendali untuk mengatur jadwal resmi acara New York Fashion Week. Setahun kemudian, CFDA meluncurkan New York Fashion Week: Men’s.

Our mission is to strengthen the impact of American fashion in the global economy,” demikian misi CFDA yang tertulis dalam situs resminya. Dalam menjalankan misi tersebut, CFDA telah menghadirkan berbagai macam program. Salah satu program yang terkenal adalah CFDA Fashion Awards yang dirilis perdana pada tahun 1980. Acara tahunan ini merupakan sarana untuk mengapresiasi kontribusi penting para desainer, jurnalis mode, hingga fashion icon bagi kemajuan industri mode Amerika.

Selain CFDA Fashion Awards, program-program lain yang dimiliki oleh organisasi dengan Diane von Furstenberg sebagai chairman itu adalah skema beasiswa seperti Geoffrey Beene Design Scholar Award, Retail Lab yang merupakan program pembinaan bisnis sekaligus pendanaan bagi desainer terpilih untuk memasarkan koleksi di sebuah retail shop khusus, CFDA / Vogue Fashion Fund yang bertujuan membantu emerging American designers dalam meraih kesuksesan melalui hibah dana dan mentorship, serta beberapa program lainnya. CFDA juga memiliki program filantropi bernama Health, Safety, and Diversity yang terbentuk atas refleksi akan kasus-kasus dunia modelling, mulai dari unhealthy-thin models, sexual harassment, dan black models discrimination.

British Fashion Council (BFC)

Organisasi-organisasi mode di Inggris sudah muncul sejak tahun 1940-an. Salah satunya Incorporated Society of London Fashion Designers. Pada tahun 1981, organisasi Fashion Industry Action Group dibentuk dengan tujuan mengkoordinasikan acara-acara eksibisi fashion yang diselenggarakan di kota London. Dari organisasi tersebutlah, British Fashion Council (BFC) kemudian terbentuk pada tahun 1983. Pada tahun berikutnya, yakni 1984, BFC melahirkan London Fashion Week (London Fashion Week Men’s dicetuskan pada tahun 2012) dan Designer of the Year Award. Penghargaan tersebut selanjutnya berkembang hingga pada tahun 1989 menjadi British Fashion Awards (kini disebut Fashion Awards) dengan beragam kategori penghargaan. Termasuk di antaranya adalah Fashion Icon Award dan Special Recognition Award for Innovation.

Dalam situs resmi BFC tertulis bahwa organisasi tersebut “aims to further the interests of the British fashion industry and its designer businesses by harnessing and sharing collective knowledge, experience and resources of the sector.” BFC / Vogue Designer Fashion Fund adalah salah satu skema bantuan bisnis dari BFC yang amat diincar, di mana pemenangnya mendapat bantuan dana serta pembinaan. Selain itu, ada juga Fashion Trust yang bukan hanya memberikan dukungan finansial dan mentorship kepada desainer, tapi juga memfasilitasi mereka dengan tenaga magang selama setahun. Tenaga magang lulusan studi fashion design tersebut akan digaji oleh Fashion Trust melalui program Graduate Traineeships. Program lain dari BFC adalah Newgen dimana emerging talents terpilih akan mendapat pembinaan dan dukungan finansial.

BFC juga mendorong emerging British designers untuk mempromosikan diri di mancanegara melalui program London Show Rooms, di mana sebuah pop-up showroom berisi koleksi mereka hadir di Paris selama perhelatan Paris Fashion Week berlangsung. Bukan hanya memberi support pada bakat-bakat di Inggris, BFC pun mendukung pengembangan talenta-talenta desain fashion di negara-negara lain melalui International Fashion Showcase. Program business development dari London College of Fashion, creative residency di Somerset House Studios, serta kesempatan pameran di Somerset House akan didapat oleh perancang-perancang di International Fashion Showcase. Kegiatan ini didukung oleh British Council.

Di samping memfasilitasi para desainer dengan sejumlah program, BFC pun bekerjasama dengan institusi-institusi pendidikan mode di Inggris untuk mengadakan ragam kompetisi serta skema beasiswa bagi pelajar-pelajar fashion design di Inggris. Perhatian pada isu kebergaman di dunia fashion, kesejahteraan dan kesehatan model, fashion ramah lingkugan, hingga hubungan antara fashion dan seni juga diwujudkan BFC dalam rupa-rupa inisiatif. Dalam melaksanakan program-programnya, BFC mendapat pendanaan dari para patron beragam industri, sponsor komersial, dan pemerintah. Sejak Mei 2018, Stephanie Phair menjabat sebagai Chairman BFC.

Camera Nazionale della Moda Italiana (CNMI)

Berdasarkan penjelasan situs resminya, Camera Nazionale della Moda Italiana (The National Chamber for Italian Fashion) mengemban tugas “disciplines, co-ordinates and promotes the development of Italian Fashion” dengan tujuan “protect, co-ordinate and strengthen its image, both in Italy and abroad.” Pendahulu organisasi ini adalah Camera Sindacale della Moda Italiana yang terbentuk pada tahun 1958. Pada tahun 1962, Centro Romano Alta Moda membentuk Camera Nazionale della Moda Italiana (CNMI) yang tujuan serta strukturnya serupa dengan Camera Sindacale della Moda Italiana. Singkat cerita, CNMI pun menjadi sebuah asosiasi utama bidang mode di Italia yang “mempersatukan” berbagai organisasi fashion di Italia saat itu.

Saat CNMI terbentuk, Milan belum menjadi ibukota mode Italia, melainkan Florence. Perpindahan fashion capital ke Milan dimotori salah satunya oleh desainer Walter Albini yang meninggalkan Florence dan menggelar fashion show di Milan sejak tahun 1971. Menurut sebuah artikel Financial Times pada Februari 2018, Albini adalah salah satu sosok yang mendorong terciptanya Milan Fashion Week pada tahun 1970-an. Kini CNMI mengelola kalender resmi Milan Fashion Week dan Milan Fashion Week Men’s serta menyelenggarakan special events di dalamnya. Salah satu acara khusus yang terdapat di Milan Fashion Week adalah Green Carpet Fashion Awards. Event tersebut merupakan sebuah special project bidang lingkungan yang dibuat oleh kolaborasi antara CNMI dan Eco-Age.

Dalam proyek Green Carpet Fashion Awards yang meluncur perdana pada 2017 itu juga terdapat Green Carpet Talent Competition dimana emerging designers yang menjadi pesertanya berlomba untuk menciptakan inovasi ramah lingkungan. Pemenangnya akan mendapat program mentorship selama satu tahun dan kesempatan mempresentasikan karya-karya di Milan Fashion Week. Sustainability memang menjadi salah satu prioritas bagi CNMI yang terwujud dalam berbagai hal. Contohnya adalah kegiatan International Roundtable on Sustainability dan guideline mengenai management substansi kimia dalam proses produksi mode.

Sementara itu, untuk mendukung pembangunan karier para desainer, CNMI memiliki program Fashion Hub di mana beberapa emerging brands yang menampilkan koleksinya di Milan Fashion Week dipilih untuk mempresentasikan rancangannya kepada pers dan buyers di sebuah area pameran. Bagi para pelajar fashion design, CNMI yang sejak tahun 2015 dipimpin oleh Carlo Capasa selaku chairman menghadirkan Milano Moda Graduate. Bertujuan untuk mendukung talenta-talenta baru, fashion show ini diikuti oleh pelajar-pelajar dari sekolah mode di Italia. Selain itu, peserta Milano Moda Graduate juga diberikan workshop mode. Disamping program dan kegiatan yang berkaitan langsung dengan fashion, CNMI juga menyelenggarakan Milano Moda Design, yakni event yang memberi highlight pada koleksi kolaboratif antara fashion dan interior design.

Fédération de la Haute Couture et de la Mode (FHCM)

Sebagai the ultimate capital of fashion, tak mengherankan Paris sudah memiliki organisasi mode sejak pertengahan era 1800-an. Pada tahun 1868 muncul organisasi fashion bernama Chambre Syndicale de la Couture, des Confectionneurs et des Tailleurs pour Dame. Namanya berganti menjadi Chambre Syndicale de la Couture Parisienne pada tahun 1910. Berkaitan dengan disahkannya mekanisme pemberian predikat Haute Couture pada rumah mode yang memenuhi sejumlah kriteria tertentu pada tahun 1945, nama organisasi pun berubah menjadi Chambre Syndicale de la Haute Couture. Salah satu kriteria yang harus dipenuhi, sebagaimana diinformasikan situs Harper’s Bazaar dalam artikel The History of Haute Couture, adalah menampilkan koleksi kepada pers Paris di tiap musimnya. Inilah cikal bakal Paris Fashion Week.

Seiring semakin bertambahnya fashion designers pada tahun 1960-an yang berelasi dengan para couturier ternama, berdirilah sebuah organisasi baru bernama Chambre Syndicale du Prêt-à-Porter des Couturiers et des Créateurs de Mode pada tahun 1973. Pada saat yang sama juga muncul organisasi lainnya, yakni Chambre Syndicale de la Mode Masculine. Kala itu pula ketiga organisasi tersebut bergabung menjadi Fédération Française de la Couture, du Prêt-à-Porter des Couturiers et des Créateurs de Mode yang kemudian memiliki nama baru Fédération de la Haute Couture et de la Mode (FHCM) pada tahun 2017. Organisasi inilah yang menyelenggarakan Semaine de la Mode (Fashion Week) pada tahun 1973 dan pada masa-masa selanjutnya dikenal dengan nama Paris Fashion Week (dalam perkembangannya dibuat juga Paris Fashion Week Men’s).

Dalam menghelat Paris Fashion Week, selain memastikan kerja accredited journalist berjalan lancar melalui fungsi Paris Fashion Week Center dan ragam fasilitas lainnya (mulai dari shuttles, chilling space, concierge, hingga travel wifi), FHCM membantu urusan negosiasi showroom bagi brand yang terlibat. Lebih dari itu, label baru yang berhasil terseleksi akan mendapat sejumlah dana dari FHCM dan DEFI untuk membantu mempersiapkan show di Paris Fashion Week. Sekitar sepuluh emerging talents yang berhasil terpilih FHCM dan DEFI di tiap musim untuk program Designers Apartment mendapat kesempatan menampilkan koleksi mereka kepada international buyers di sebuah showroom selama Paris Fashion Week berlangsung. Kerjasama antara FHCM dan DEFI untuk mendukung bakat-bakat baru dunia mode juga terwujud dalam program New Now. Ini adalah program yang mengekspos karya-karya desainer terpilih melalui platform gambar dan video yang bisa dilihat melalui Paris Fashion Week app.

Menyelenggarakan Paris Fashion Week merupakan salah satu manifestasi upaya FHCM dalam mencapai tujuannya. Apa yang menjadi tujuan FHCM? Official website dari organisasi itu menyebut bahwa “It seeks to promote French fashion culture, where Haute Couture and creation have a major impact by combining traditional know how and contemporary technology at all times. It contributes to bolstering Paris in its role as worldwide fashion capital.” Usaha untuk meraih tujuan itu pun mewujud dalam rupa-rupa fasilitas yang didapat oleh anggota-anggota FHCM. Kepada para member-nya, FHCM menyediakan informasi dan saran-saran di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, sosial, hingga regulasi Intellectual Property dan Information Technology. Serangkaian layanan untuk membuat elemen-elemen bisnis brand anggota berfungsi optimal tersedia melalui berbagai mekanisme, seperti joint commissions, ad hoc working groups, dan individual meetings.

Perihal kontribusi di bidang pendidikan fashion design, FHCM mengelola sekolah mode Ecole de la Chambre Syndicale de la Couture Parisienne, ikut mendirikan Institut Français de la Mode, serta menyelenggarakan Conference of Fashion Schools untuk membahas isu-isu seputar sekolah mode. Saat ini, FHCM dipimpin oleh Ralph Toledano selaku President dan Pascal Morand sebagai Executive President. Toledano dan Morand merupakan dua dari enam anggota Executive Committee (decision making body di FHCM). Empat anggota lainnya adalah Francesca Belletini (President and Chief Executive Officer of Saint Laurent), Guillaume de Seynes (Executive Vice President of Hermès International), Bruno Pavlovsky (Fashion President of Chanel), dan Sidney Toledano (Chairman & CEO of LVMH Fashion Group). FHCM terdiri dari tiga syndical chambers, yaitu The Chambre Syndicale de la Haute Couture pimpinan Ralph Toledano, The Chambre Syndicale de la Mode Féminine yang diketuai Bruno Pavlovsky, dan The Chambre Syndicale de la Mode Masculine dengan Sidney Toledano sebagai pemimpinnya.

Comments are closed here.