Bringing the newness and excitement to the jewellery enthusiasts of today.
“Kita perlu tahu traceability batunya, asalnya dari mana, apakah batu tersebut conflict-free, apakah berliannya termasuk blood diamonds atau bukan. In Clemence Ellery, we take that seriously. We know where all our gems come from and we work closely with legit miners and suppliers,” ucap Natalie Le, salah satu founder dari Clemence Ellery, jewellery brand tanah air yang tergabung dalam ICA (Interational Colored Gemstone Association). Kalimat tadi sesungguhnya dilontarkan di tengah perbincangan, tapi mengingat begitu pentingnya segi etis dari sebuah perhiasan permata, we decided to open this piece of article with that information.
Perbincangan The Editors Club dengan beberapa pendiri Clemence Ellery beberapa waktu lalu berlangsung di sebuah kafe yang terletak hanya hitungan langkah dari butiknya di Park Hyatt Jakarta. Dari obrolan tersebut terjelaskan bagaimana brand ini bisa menciptakan excitement dengan pieces nan eksploratif. Sebagai contoh, jika Anda buka website-nya, coba tengok koleksi Double Helix yang bentuknya serupa dengan untaian DNA – a fun design hardly to find in other local players.
So here is their story. It all began with boredom.

Being The Fresh Air
Bukan Anda sendiri yang merasa bahwa perhiasan-perhiasan label lokal yang dijajakan dari toko ke toko terlihat serupa. Para pendiri Clemence Ellery pun demikian. Natalie yang menyadari hal tersebut mengkomunikasikannya dengan Hendra Zhou. “I want to achieve something more, so I contacted Hendra,” kisah Natalie. Kedua alumni Gemological Institute of America itu pun sepakat untuk serius menggarap peluang bisnis yang ada. Hendralah yang menyambung tali relasi dengan Jeanice Lie untuk turut membangun Clemence Ellery.
Berbeda dengan Hendra dan Natalie yang memang berkecimpung di dunia jewellery, Jeanice sebelumnya bergerak di bisnis food and beverage bersama temannya Jennifer Patricia. Jennifer yang awalnya agak ragu dengan ajakan Jeanice untuk bergabung karena awam dengan permata, akhirnya yakin untuk membangun usaha bersama karena merasa klik saat bertemu dengan founders lainnya. The last one that joined was Valencia Tanoesoedibjo; Jeanice’s friend who studied at the same university in Sydney, Australia.
“Everybody has a same vision,” ungkap Natalie yang bercerita bahwa di perkuliahan ia mempelajari seluk beluk berlian dan permata berwarna. Visi yang dimaksud adalah untuk membawa napas segar di antara pasar perhiasan lokal yang selama ini menjemukan dengan desain penuh pengulangan dari masa ke masa. “Kita melihat di market ada suatu kekosongan. Ada need yang belum terisi. Tiap kali mau beli jewellery, kita merasa ini bukan taste kita. We want to fill that gap in the market and we see a lot of potential karena banyak juga yang merasa sama; and what differentiates us is our designs,” sambung Jennifer yang in-charge di urusan marketing Clemence Ellery.

Perihal desain, sebagaimana dikatakan oleh Natalie dan Jennifer, Clemence Ellery selalu berupaya menghadirkan sesuatu yang stand out, punya keunikan, tapi juga elegan dan tak lekang zaman. “Progressive yet timeless,” demikian jelas keduanya tentang esensi kreatif Clemence Ellery. Kata kunci untuk mewujudkan hal tersebut adalah eksplorasi, yang tak hanya menyangkut desain tapi juga warna, material, dan sebagainya. Jennifer menceritakan betapa takjub dan senangnya mereka ketika dahulu menyuguhkan koleksi olahan tourmaline saat belum banyak yang bereksperimen dengan semi precious stones dan mendapat sambutan begitu baik. “Koleksinya sold out dalam waktu belasan menit dengan angka sales mencapai 10 digit,” kenang Jennifer. Momen itu menjadi bukti kuat bahwa market untuk visi mereka memang nyata adanya.
Upaya mengulik selera pasar juga dilakukan dengan terus mengikuti update di taraf global. Contoh yang disebut adalah kunjugan rutin ke jewellery fair in Hong Kong. Selain itu, mereka juga menganalisa permintaan-permintaan customization yang datang sejak awal berdiri dan menarik benang merahnya untuk bisa mengetahui apa yang disuka konsumen.
“We want to break that stigma. Jewellery as part of everyday luxury is the core of Clemence Ellery.”
Breaking The Stigma
Sudah coba jelajah lebih jauh website Clemence Ellery? You will find Brasserie there, a super fun and really cute collection inspired by delicacies in a French brasserie. Dengan bentuk-bentuk seperti donat, croissant, botol champagne, gelas wine, cup kopi – and our pick is the strawberry dipped pretzel composed of pink sapphires, glistening diamonds, with pink enamel frosting – jelas terlihat bagaimana brand yang memperkenalkan diri sejak tahun 2017 ini meruntuhkan kebosanan desain jewellery lokal dan menghembuskan angin segar yang meresonansi iklim selera kontemporer.
Dengan menghadirkan ragam pilihan desain, material, warna dengan beragam karakter – mulai dari yang klasik hingga eksperimental – koleksi-koleksi Clemence Ellery dimaksudkan untuk bisa dikenakan sesuai keperluan. Entah untuk menghadiri acara formal hingga penunjang mode keseharian agar tampil elevated, you can always find something from Clemence Ellery. Perombakan mindset masyarakat tentang perhiasan yang begitu sempit, yang kerap mengasosiasikan jewellery hanya kepada pesta atau acara ikatan pertunangan maupun pernikahan, menjadi landasan eksistensi brand tersebut. “We want to break that stigma. Jewellery as part of everyday luxury is the core of Clemence Ellery,” ujar Natalie.

Poin senada pun disampaikan Jennifer, “Jewellery itu bukan hanya untuk ke pesta lho, yang kemudian disimpan di deposit box. Jewellery juga bukan cuma untuk momen engagement, wedding, atau wedding anniversary. Jewellery is a self expression.” Seiring dengan itu, hal lain yang coba ditumbuhkan oleh label ini adalah pembelian kreasi perhiasan sebagai bagian dari gifting culture, seperti misalnya untuk Valentine’s Day, Mother’s Day, atau Christmas. Mereka melihat bahwa di masyarakat Indonesia, pemberian perhiasan sebagai kado masih terasa sebagai konsep yang kurang familiar. Padahal sebagaimana designer shoes or bags, perhiasan pun adalah pilihan hadiah yang tepat untuk banyak momen spesial.
Mungkin barrier orang pada umumnya untuk membeli perhiasan, baik untuk kado maupun bagi diri sendiri, adalah kurangnya pemahaman akan seluk-beluk jewellery. Anda tak perlu khawatir karena Jennifer memastikan untuk hal ini, tim sales Clemence Ellery akan membantu. “Untuk pemilihan koleksi ready-to-wear atau ready stock, sales team kita akan menjelaskan dan memberi informasi yang dibutuhkan; product knowledge yang mencakup aspek style hingga price. Memang kita banyak menemukan customers yang masih awam dengan harga jewellery sehingga tim kita akan beri penjelasan edukatif tentang harga yang bergantung pada banyak faktor. Terutama untuk berlian. Ada guideline internasional untuk harga diamond,” jelas Jennifer. Jeanice yang muncul kemudian di sesi wawancara ini pun menyebut Diamond Report yang dirilis weekly oleh Rapaport sebagai panduan harga berlian sesuai kondisi demand dan supply.
Dari sudut pandang para pendiri Clemence Ellery, ada baiknya untuk para konsumen paham basic knowledge tentang perhiasan untuk bisa memilih jewellery pieces secara lebih optimal. Mereka mencontohkan pengetahuan mendasar soal kriteria 4C (Colour, Clarity, Cut, Carat Weight) untuk berlian, di mana D-colour menempati tingkat tertinggi dari kondisi warna (perfectly colorless), serta kategori Flawless (FL) dan Internally Flawless (IF) sebagai dua terbaik dalam hal clarity.

Going Global
Ada banyak hal yang dibagikan pada satu setengah jam perbincangan dengan para founders Clemence Ellery. Mulai dari bahasan kategori precious gemstones (hanya ada 4, yakni diamond, ruby, blue sapphire, dan emerald; selain keempat tersebut maka tergolong semi-precious yang terbagi lagi menjadi rare dan common) hingga persaingan dengan brand perhiasan luar negeri. Soal keberadaan brand mereka di tengah nama-nama besar pemain asing, Jennifer, Natalie, dan Jeanice mengaku confident bahwa dengan kualitas yang setara, maka pelanggan akan terus datang. “Membuktikan kepada customers bahwa we really know what they want and we deliver it; juga menjaga kepercayaan dan maintain the quality,” demikian penuturan Jennifer tentang langkah Clemence Ellery bertumbuh dan berkembang.
Terkait quality control yang merupakan bidang garapan Natalie, dijelaskan bahwa prosesnya berlangsung baik pada tahap desain maupun sourcing material. Clemence Ellery memasok batu permata dari wilayah yang dikenal bagus akan suatu jenis gemstone tertentu. Contohnya adalah emerald yang berasal dari Kolombia. Beberapa negara lain yang menjadi tempat pasokan permata Clemence Ellery adalah Sri Lanka, Thailand, dan untuk berlian berasal dari Belgia (Antwerp dijuluki sebagai ibukota berlian dunia). Ketersediaan batu permata ini tentunya berkaitan dengan desain perhiasan serta harga. Dalam merancang pieces perhiasan kategori ready-to-wear, tim desain brand ini akan menentukan tema, membuat mood board, menggali referensi, dan sebagainya. Selanjutnya tahap crafting dilakukan di Hong Kong untuk finalnya disuguhkan ke masyarakat Indonesia.
Satu hal yang tak luput dari perhatian terkait desain adalah aspek ergonomis. “In Clemence Ellery, we always make sure produknya bukan sekadar terlihat bagus tapi juga solid atau kokoh dan dipakainya nyaman,” ungkap Jennifer. Quality control pun tak hanya berhenti pada tahap produksi. Berbagai layanan sales dan after-sales juga masuk dalam upaya memberi yang terbaik kepada pelanggan. Misalnya bila seseorang membeli sebuah piece dengan komponen blackened gold dan terjadi pemudaran warna akibat proses alamiah setelah penggunaan selama bertahun-tahun, maka orang tersebut bisa membawanya ke Clemence Ellery untuk mendapat treatment agar komponen perhiasan yang bermaterial blackened gold itu kembali tampak prima tanpa pungutan biaya.

Melalui perjalanan yang telah diarungi selama beberapa tahun dengan fokus pada kualitas di segala aspeknya, Clemence Ellery kini bersiap untuk merambah pasar global. “Gol kita sejak tahun lalu adalah meluncurkan Clemence Ellery di kancah internasional dan negara yang kita pilih adalah USA. Sekarang kita sudah berada di tahap pre-launch dengan campaign berjudul “Seeing Double” yang telah dibuat oleh fotografer David Roemer, menampilkan Bloom Twins sebagai bintangnya,” ungkap Jennifer. Koleksi yang digunakan pada campaign tersebut adalah signature collection Clemence Ellery yang akan selalu ada. Salah satunya adalah Oceanic Highway. Indonesian pearls sourced from Bali Sea take center stage in this collection.
Berbeda dengan perhiasan mutiara pada umumnya, kreasi-kreasi Oceanic Highway memperlihatkan sisi edgy dan kontemporer dengan mengekspos natural shape dari mutiara. Koleksi lainnya yang ditampilkan di campaign adalah Communique yang berjiwa understated dan subtle. Siluet-siluet koleksi ini lebih sleek dan lean namun memiliki twist yang charming. Selain dua koleksi tersebut, Jennifer juga menyebut koleksi Love Roulette yang lebih fun dan flirty dengan memanfaatkan rainbow colour sapphires berbentuk hati berkombinasi diamonds. Ada pula kreasi-kreasi yang tergolong kategori One of A Kind Piece, yaitu koleksi perhiasan yang setelah sold out tak akan diproduksi lagi karena keunikan batu permatanya yang sulit untuk didapat kembali.
“We believe that jewellery is deeply personal, sesuatu yang kita pakai as a form of self reflection.”
Seperti dituturkan para founders, dengan launching yang dilakukan di Amerika diharapkan audience di sana dan belahan dunia lainnya tahu tentang eksistensi brand. “Kenapa ke Amerika karena merupakan trend setter for the global world. If you can make it big in US, semua akan follow. Kita ingin koleksi-koleksi Clemence Ellery bisa di-purchase oleh orang Amerika dan seluruh dunia,” ucap Natalie yang juga menjelaskan bahwa koleksi-koleksi brand-nya tersedia secara online untuk bisa dibeli dari berbagai negara. Menyambung hal tersebut, Jennifer pun mengutarakan, “We hope Clemence Ellery can be the pioneer as Indonesia’s jewellery brand that succeed in international market.”
Customizing Dream
Sembari mempersiapkan perilisan brand di luar negeri, berbagai rencana untuk penciptaan kreasi dan koleksi terus berlangsung di dalam negeri. Stackable earrings menjadi salah satu bocoran tentang upcoming products yang dikerjakan oleh Clemence Ellery. Pieces tersebut diperuntukan bagi mereka yang punya multiple-piercings di area telinga. Seperti telah disinggung oleh Jennifer, jewellry adalah bentuk ekspresi diri. If you wanna go to the next level in this matter, customization is the answer. Ini sesungguhnya merupakan strength dari Clemence Ellery sejak semula.

“Customization is our forte since the beginning. Kita percaya bahwa jewellery is deeply personal, sesuatu yang kita pakai as a form of self reflection,” tutur Jennifer. Tentu saja request personalisasi tersebut juga banyak datang dari keperluan pertunangan maupun pernikahan. “They come to us for a dream engagement or wedding ring yang tak bisa ditemukan di mana pun,” tambahnya. Langkah awal yang menjadi landasan penting dari layanan personalisation ini adalah komunikasi yang optimal dengan klien. Sebelum proses sketching dilakukan, tim brand akan menggali banyak hal tentang calon pengguna, dari personality, momen dipakainya perhiasan, usia, dan masih banyak lagi.
Dengan insight yang sudah dikumpulkan, biasanya akan dibuatkan sekitar 3 sketsa perhiasan. Feedback dari klien mengenai sketsa-sketsa tersebut menjadi panduan lebih spesifik untuk tim kreatif mengolah lebih lanjut desainnya. Pada tahap ini, obrolan mencakup juga soal pilihan dan jumlah gemstones, colours, carat weight, sizing, dan berbagai segi lain. Semua akan diolah di seputar comfortable budget klien. Karena layanan personalisasi ini bisa begitu spesifik seturut keinginan klien, gemstones yang akan digunakan pun terkadang di-request secara khusus ke supplier sesuai specs yang diperlukan (berbeda dengan ranah kreasi ready-to-wear yang biasanya memanfaatkan permata yang tengah tersedia).
Tahap lebih lanjut setelah semua disepakati adalah pembuatan 3D CAD model agar klien bisa melihat gambaran desain berformat tiga dimensi. Pada fase ini juga estimasi harga diberikan. Kesepakatan di langkah itu akan dilanjutkan ke proses moulding. Sampai di titik ini hanya sedikit adjustment yang bisa dilakukan, contohnya penyesuaian ukuran. Crafting yang merupakan akhir proses customization dilakukan secara handmade di Hong Kong. Waktu yang dibutuhkan bergantung pada tingkat kerumitan tiap jewelry piece. Finally the clients get their dream piece.

Tak selalu yang datang untuk mendapat layanan personalisasi ini membebaskan sepenuhnya kepada tim brand perihal ide kreatif. “Ada juga yang datang membawa sebuah piece perhiasan dan minta dibikin persis,” cerita Jennifer tentang salah satu project. Tentu saja apapun yang menjadi aspirasi klien akan disambut hangat oleh Clemence Ellery, namun secara simultan tim kreatif brand juga akan memberi suggestions sebagai referensi agar hasil kreasi tercapai maksimal. Here comes the importance for a client being open and explorative. Sebagaimana dipaparkan Jennifer, sejauh ini memang seperti itulah karakter pelanggan Clemence Ellery.
Hal tersebut pun ditegaskan oleh Jeanice dengan mengatakan bahwa klien mereka merupakan, “jewellery enthusiasts yang open dengan model-model tak biasa.” Ia pun berharap agar masyarakat Indonesia secara umum bisa “have fun with jewellery and can make it as a fashion statement,” agar jewellery scene di Indonesia bisa semakin advance. Ungkapan harapan itu menjadi penutup obrolan dengan tiga founders Clemence Ellery; and we do hope it will happen in the near future.