As she breaks the glass ceiling.
Dengan lebih dari 20 tahun pengalaman di hospitality industry, Rubi Garcia kini mendapati dirinya menjadi bagian dari sejarah perjalanan grup COMO. Ia dipercaya menduduki kursi General Manager COMO Metropolitan Singapore, properti pertama COMO di negara tersebut.
Tentu menjadi tantangan menarik baginya untuk menangani sebuah city hotel dari brand yang lekat dengan identitas wellness, dengan sebaran eksistensi di lokasi-lokasi “healing” seperti Bali dan Maldives. Rekam jejaknya yang juga banyak diisi di properti-properti bergaya resort, dari Phulay Bay Ritz-Carlton Reserve Thailand hingga Four Seasons Resort Nevis, pastinya juga akan membawa warna berbeda dalam caranya menangani sebuah city hotel.
Bagaimana Ruby Garcia memainkan perannya kini di COMO Metropolitan Singapore? Berikut adalah wawancara The Editors Club dengannya di mana ia juga berbagi pandangan seputar breaking the glass ceiling di dunia perhotelan sebagai seorang Southeast Asian.

Anda adalah living proof yang berhasil “keluar” dari satu kondisi umum dunia perhotelan, di mana orang Asia Tenggara jarang mencapai posisi puncak. Dari kacamata Anda di posisi yang tinggi saat ini, bagaimana Anda melihat realita tersebut?
Sebagai seseorang yang telah berhasil meruntuhkan batasan atau breaking the glass ceiling dalam industri perhotelan Asia Tenggara, saya menyadari adanya hal-hal yang menghambat keberagaman latar belakang di posisi puncak. Namun, saya percaya kita bisa membuat perubahan nyata dengan mengatasi biases dalam hal perekrutan dan promosi, menawarkan program mentorship untuk talenta-talenta Asia Tenggara, dan mengadvokasi sebuah fair playing field untuk semua orang di industri ini.
Sebelumnya Anda menangani akomodasi tipe resort, tetapi sekarang yang Anda tangani adalah sebuah city hotel. Seberapa besar perbedaan dalam mengelola kedua jenis properti tersebut?
Beralih dari mengelola resorts ke city hotel membawa serangkaian tantangan yang berbeda. Lain halnya dengan resort properties, hotel-hotel di kota beroperasi dalam lingkungan urban yang dinamis dengan gaya hidup cepat dan demografi tamu beragam.
Tantangan yang muncul mencakup bagaimana mengelola ruang yang terbatas secara efisien, berdaptasi dengan kebutuhan business travellers ataupun tamu-tamu yang tinggal dalam jangka waktu singkat. Untuk menghadapinya, saya memprioritaskan adaptabilitas, memanfaatkan teknologi agar sisi operasional lebih streamlined dan menerapkan pendekatan yang berpusat pada kepuasan tamu.

COMO adalah merek yang dikenal menekankan aspek wellness. Di tempat-tempat seperti Bali atau Maldives, konsep tersebut sepertinya sangat bersinergi. Namun, Singapura adalah kota yang sibuk. Bagaimana COMO Metropolitan Singapore menjembatani kontras tersebut?
COMO Metropolitan Singapore mencerminkan perpaduan antara kehidupan perkotaan yang vibran dan holistic wellness, secara mulus mengintegrasikan etos yang berfokus pada wellness tersebut dalam lansekap perkotaan yang sibuk. Kami menciptakan oasis menenangkan di tengah hiruk pikuk perkotaan lewat berbagai hal. Contohnya hyperbaric therapy, contrast therapy, di mana tamu merasakan ice bath dan infra-red sauna, hingga opsi holistic dining dari COMO Shambhala Kitchen.
Singapura sudah dipenuhi banyak hotel dan tampaknya hotel-hotel baru masih akan terus muncul. Apa saja strategi yang diterapkan COMO dalam menghadapi iklim kompetitif di sana?
Hal itu jelas memperketat persaingan di hospitality industry Singapura. To stay ahead, COMO berupaya memberikan exceptional service, inovasi yang terus menerus, dan berbagai strategic partnerships. Kami berupaya menghadirkan identitas berbeda lewat personalised experiences, praktik-praktik sustainable, dan komitmen pada holistic wellness. Hal ini yang menumbuhkan brand loyalty pada pengunjung.

Apakah bisnis hotel di Singapura benar-benar bergantung pada orang asing yang bepergian ke sana untuk urusan bisnis atau liburan? Bagaimana dengan demografi tamu-tamu COMO Metropolitan Singapore?
Meskipun industri hotel di Singapura memang sangat bergantung pada travellers mancanegara, baik di segmen bisnis maupun pariwisata, COMO Metropolitan Singapore melayani beragam demografi tamu. Tak hanya menarik bagi tamu-tamu internasional, kami pun menjadi pilihan warga lokal yang mencari luxury experiences di kotanya sendiri. Our hotel targets individuals who value personalised services, wellness offerings, and immersive cultural experiences.
“Lihat tantangan-tantangan sebagai kesempatan untuk bertumbuh, cari mentorship dari industry leaders, dan jangan berkompromi dengan integritas atau autentisitas dalam usaha yang dilakukan.”
COMO Metropolitan Singapore merupakan bagian dari COMO Orchard yang terdiri dari restoran-restoran dan retail shop. Apakah peran Anda sebagai GM hotel juga terkait dengan komponen lain di COMO Orchard?
Sebagai General Manager COMO Metropolitan Singapore, role saya tak terbatas pada hotel melainkan juga terkait dengan komponen-komponen lain di COMO Orchard. Saya bersinggungan erat dengan manajemen restoran-restoran dan retail outlets untuk memastikan pengalaman tamu yang menyeluruh dan mencerminkan nilai brand yang menekankan holistic wellness serta refined luxury.

Apa visi Anda bagi COMO Metropolitan Singapore? Adakah yang tengah dikembangkan oleh properti ini?
Visi saya untuk COMO Metropolitan Singapore adalah untuk terus meningkatkan pengalaman tamu melalui inovasi, aspek sustainability, dan wellness-centric offerings. Kami terus mengeksplorasi cara-cara baru dalam meningkatkan kepuasan tamu, baik melalui dining concepts, experiential events, wellness partnerships, maupun sustainable initiatives. Meskipun saya tidak dapat mengungkapkan secara spesifik rencana-rencana pengembangan yang akan dilakukan, saya pastikan kami berkomitmen untuk melampaui ekspektasi tamu dan menetapkan standar baru dalam industri ini.
Sepanjang perjalanan karier, apa pelajaran terpenting yang Anda dapat dan apa yang menjadi pencapaian terbesar Anda?
Sepanjang perjalanan karier, hal terpenting yang saya pelajari adalah resilience dan adaptability dalam menghadapi kesulitan. Sementara mengenai pencapaian terbesar, bagi saya hal itu adalah membangun culture of excellence di dalam tim, empowering individuals untuk mewujudkan potensi mereka dan memberikan unparalleled guest experiences.

Apa advice Anda untuk mereka yang meniti karier di bidang perhotelan, khususnya untuk orang-orang Asia Tenggara?
Untuk mereka yang ingin membangun karier di industri hospitality, khususnya Southeast Asians, saya sarankan untuk menumbuhkan strong work ethic, terus belajar, dan punya passion untuk service excellence. Lihat tantangan-tantangan sebagai kesempatan untuk bertumbuh, cari mentorship dari industry leaders, dan jangan berkompromi dengan integritas atau autentisitas dalam usaha yang dilakukan.
Apa lagi yang ingin Anda capai dalam karier Anda?
Looking ahead, saya berharap untuk semakin membawa COMO Metropolitan Singapore sebagai beacon of hospitality excellence, menghasilkan inovasi-inovasi bagi kepuasan tamu, sustainability, dan holistic wellness. Lebih dari itu, saya ingin memberi kontribusi bermakna bagi kemajuan hospitality industry, meningkatkan diversity dan inclusion di setiap levelnya.