Visi Bali Kharisma Wijaya, Generasi Ke-3 Pionir Hotel Tanah Dewata

Advancing growth, preserving culture.

 

Undoubtedly Bali will soon enough be “spoiled” for those fastidious travellers who abhor all that which they bring with them. No longer will the curious Balinese of the remote mountain villages, still unaccustomed to the sight of whites, crowd around their cars to stare silently at the “exotic” long-nosed, yellow-haired foreigners in their midst. But even when all the Balinese will have learned to wear shirts, to beg, lie, steal, and prostitute themselves to satisfy new needs, the tourists will continue to come to Bali to see the sights, snapping pictures frantically, dashing from temple to temple, back to the hotel for meals, and on to watch rites and dances staged for them,” (Miguel Covarrubias, “Island of Bali”, 1937)

Sungguh mengejutkan ketika membaca penggalan paragraf tersebut saat mencari bahan tambahan untuk menunjang artikel wawancara dengan Ida Bagus Kharisma Wijaya, CEO Udhadi Wijaya yang menaungi hotel historis Segara Village dan restoran Byrd House. Terutama karena kritik sosial itu ditulis hampir seabad lalu. Miguel Covarrubias adalah seorang seniman Meksiko yang pada era 30-an menghabiskan bulan madu di Bali bersamaan dengan masa tinggal antropolog ternama Margaret Mead dan Gregory Bateson, serta musikolog Walter Spies juga Colin McPhee. Paparan mereka mengenai pulau inilah yang secara signifikan membentuk persepsi masyarakat Barat tentang Bali sebagai the paradise.

Bagai sebuah ramalan yang menjadi nyata, Covarrubias menggarisbawahi bahwa keranjingan turis asing akan pesona Bali membawa dampak negatif pada kehidupan masyarakatnya. Komunitas yang mulanya murni kemudian terjangkit oleh “racun-racun” peradaban luar yang nyatanya tidak lebih beradab. Bali dari masa ke masa adalah sebuah kontras antara kelanggengan adat tradisi dan gempuran arus masuk kultur luar via overtourism dan overcommercialisation. Jauh sebelum daerah-daerah lain dipengaruhi kebudayaan lintas negeri lewat media sosial, Bali sudah sejak dulu telah menjadi gerbang nyata dari datangnya nilai-nilai sosial asing yang merasuk melalui jalur pariwisata.

Problem ini menarik untuk ditanyakan kepada Kharisma Wijaya yang keluarganya turut menorehkan jejak awal dari industri hospitality di Bali. Ida Bagus Kompiang sang kakek mendirikan penginapan pada paruh kedua 1950-an, yakni hotel Segara Beach. Memang sebelum hotel itu berdiri, sudah ada Bali Hotel di Denpasar sejak 1928, namun itu berada dalam administrasi pemerintah kolonial Belanda (and Tjampuhan, also established in 1928, was originally a royal guesthouse – owned by the Ubud aristocratic family, yet oriented toward high-profile foreign guests). Oleh karenanya, Segara Beach layak disebut sebagai pionir hospitality industry yang digagas golongan lokal. Lokasi asli Hotel Segara Beach sudah dibeli pemerintah sejak lama dan kini bernama Bali Beach Hotel (menyusul selanjutnya The Meru Sanur) yang saat ini di bawah pengelolaan unit BUMN InJourney Hospitality. Sementara properti milik keluarga Kharisma sendiri menempati lahan lain yang tak jauh dari sana, dan sekarang dikenal sebagai Segara Village.

Di tengah kompleksitas problem yang dialami Bali, Kharisma tak menampik bahwa memang ada faktor kultural yang berkontribusi. “Kultur Bali membuat masyarakatnya lebih warm dan lebih welcoming. Di satu sisi, ini mengandung risiko. When we are over tolerant, of course it can bring a different kind of unwanted things. Itu salah satu downside dari karakter dan culture yang Bali miliki,” ungkapnya kepada The Editors Club. Dalam perspektif Kharisma, Bali kini berada di persimpangan. “Mau di bawa ke mana Bali adalah pertanyaan besar yang harus dijawab generasi sekarang,” ujarnya. Ia menekankan bahwa penting untuk menempatkan pertanyaan tersebut pada konteks masa depan yang panjang, tentang bagaimana Bali akan bertransformasi dalam kurun 30-50 tahun ke depan, mengingat akan bahaya over-commercialisation.

Jika Anda coba riset secara sederhana menggunakan search engine atau asisten AI, bisa diketahui beberapa ancaman terhadap suatu masyarakat yang daerahnya mengalami komersialisasi berlebihan. Mulai dari kearifan lokal dan identitas tradisi yang semakin memudar hingga problem ekonomi akibat gentrifikasi. Pembelian petak-petak tanah untuk bisnis wisata secara masif mengakibatkan harga lahan terus melambung. Fenomena warga Bali yang semakin sulit untuk membeli rumah di buminya sendiri adalah mimpi buruk yang kian menjadi nyata, sebagaimana dilaporkan oleh artikel BBC Indonesia. Apakah pengembangan vertikal menjadi solusi? Sayangnya tidak sesederhana itu. Berdasar Pasal 100 dari Perda Bali No.2 Tahun 2023, ketinggian umumnya bangunan di sana dibatasi sampai 15 meter atas dasar petimbangan kebudayaan dan unique selling point.

Kharisma menjadikan problema tanah tersebut sebagai contoh betapa peliknya untuk bisa terus memajukan Bali sambil tetap menjaga dan melestarikannya. Di satu sisi wajah kultural Bali akan berubah bila skyscrapers diizinkan, di sisi lain ketersediaan tanah bisa lebih cepat menipis akibat kebijakan yang membatasi ketinggian bangunan (dan berdampak pada kelangkaan housing area). “I think we need to sit down together to discuss about what we want; terutama untuk jangka waktu yang lebih panjang agar Bali tetap menjadi impian buat kita semua,” ucap sosok generasi ketiga yang mengelola Segara Village.

Lebih dari itu, dalam wawancara virtual bersama kami, Kharisma juga mengungkap harapannya agar pengusaha-pengusaha Bali bisa lebih kompetitif di ranah lain. Poin ini menjadi penting agar tak terjerat perangkap over-commercialisation dalam hal turisme yang membuat perekonomian Bali bergantung pada satu sektor – and we all witnessed how hard it hit when the COVID-19 pandemic struck. Bali beyond tourism adalah salah satu yang diaspirasikan olehnya. Ia berkata, “Kita perlu lebih kompetitif di sektor-sektor lain, misalnya manufacturing. Untuk merambah ke bidang lain memang pasti ada perasaan berat, but you have to eliminate that and you have to open yourself, work hard, and learn all the time.”

Dalam membahas over-commercialisation, penggemar olahraga bersepeda ini menekankan pentingnya peran pemerintah, baik dalam mengedukasi maupun membuat kebijakan. “Harus ada aturan jelas agar tidak over-commercialized,” tegas Kharisma. Meski sepakat akan bahaya komersialisasi berlebihan, Ia kritis menantang anggapan tentang kondisi overtourism di Pulau Dewata. “Kalau kita bertanya, is it over tourism, is it overcrowded? In terms of Bali in general, sebetulnya tidak. However, if we look at the southern part of Bali, yes it is. It’s congested. Sementara, Bali sebelah Timur, Utara atau Barat masih banyak potensinya,” ungkapnya.

 

“Saya rasa penting untuk pemerintah memberi support infrastruktur bagi pertumbuhan turisme Bali yang tak terkonsentrasi di area tertentu.”

 

Dari sudut pandang seorang Kharisma, konsentrasi turisme di wilayah-wilayah tertentu di Bali bisa diurai bila pemerintah mengambil langkah-langkah strategis. Lulusan Manajemen SDM dan Pemasaran dari Universitas La Trobe, Melbourne, tersebut melihat pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum seperti jalan, rumah sakit, airport, dan lainnya akan mendukung pengembangan turisme di wilayah-wilayah Bali yang belum jamak terjamah. “Saya rasa penting untuk pemerintah memberi support infrastruktur bagi pertumbuhan turisme Bali yang tak terkonsentrasi di area tertentu. Pemerintah juga harus bisa memberikan direction agar tiap destinasi merepresentasikan keunikannya,” ucap sang CEO.

Di atas segala persoalan yang muncul, sangat membanggakan bahwa Bali hingga saat ini terus mendulang kekaguman dan penghargaan dari masyarakat global. Dari premium experience di properti berkelas dunia hingga pengalaman kultur komunal yang menawan, Bali meradiasi pesona magis tersendiri. Meski jelas patut diapresiasi bahwa segala label hospitality internasional berebut untuk menjadi bintang di Bali, perlu juga hal ini menjadi pemantik untuk mempertanyakan daya kompetitif dari pemain-pemain lokal. Akankah nama-nama dalam negeri mampu berada di podium yang sama dengan international hospitality brands? “Saya rasa itu sangat mungkin; mulai dari skala nasional. Untuk melangkahkan kaki [bisnis] keluar dari pulau, tentunya akan muncul keraguan. Akan tetapi kita memang harus terbuka dan harus berani. Itu adalah kunci bisnis,” jawabnya optimis.

Bicara soal tantangan bisnis, perjalanan Segara Village yang kini berada dibawah kendali Kharisma sudah dilalui dengan ragam kondisi. Mulai dari bencana alam seperti gunung meletus atau pandemi penyakit, sampai perubahan teknologi dan kebudayaan. Di antara hal-hal itu, perubahan generasi serta gaya hidup mendapat perhatian tersendiri. “One of the biggest challenges we face is generational change as it affects mindset, technology, and lifestyle. The market keeps evolving, so we have to keep up and adapt. This is definitely one of the toughest,” he said.

Sebagai CEO Udhadi Wijaya, ia berkomitmen untuk menciptakan ruang modern tempat penduduk lokal dan wisatawan dapat berkumpul. Ia memperkenalkan Byrd House Bali, destinasi tepi pantai yang menggabungkan kuliner khas, koktail, dan budaya, serta Segara Village, properti yang terus dijaga heritage value-nya. Ia juga meluncurkan Kejora Suites, resor butik di Sanur yang dirancang untuk mereka yang mencari keintiman elegan. Saat ini, Portofolio bisnis yang dikelola Kharisma telah berkembang mencakup berbagai bidang lifestyle. PT Bapak Roti menaungi beberapa bisnis, termasuk Bapak Bakery, Bapak Catering, Bean of Brothers, dan Multi Food Indo. Divisi ritelnya diwakili oleh XAVI Croissanterie; toko croissant spesialis dan roaster kopi dengan dapur kaca terbuka sebagai pemaandangan.

“Salah satu key factor dari kesuksesan kami sampai sekarang adalah menjaga nilai-nilai kolektif dari tradisi Bali,” ungkap pengusaha kelahiran Denpasar tersebut. Value itu sudah ditanamkan dalam dirinya sejak kecil. Pelajaran awal di meja makan keluarga bukan hanya tentang mengelola bisnis, tetapi juga tentang menghormati orang, menghargai budaya, dan merangkai kisah-kisah yang akan dibawa pulang oleh para tamu. Ini yang membentuk falsafah kepemimpinannya, bahwa baginya, “keramahan adalah tentang menciptakan connection yang bertahan lama setelah tamu meninggalkan sebuah tempat.”

Menutup perbincangan kami, Kharisma menyatakan harapan agar generasi masa depan bisa berkompetisi secara mumpuni dalam era globalisasi “Sekarang adalah era borderless. Everybody can come here, everybody can compete, not only with our fellow Indonesians, but also people from other countries. Saya ingin generasi selanjutnya bisa berkompetisi di tengah kondisi tersebut,” pungkas figur yang suka berpelesir ke Eropa, seperti Vienna maupun Madrid, dan merenungkan pembelajaran yang bisa dipetik dari lestarinya kebudayaan juga arsitektur berusia ribuan tahun di sana.