An interview with
Executive Vice President Civil Aircraft of Dassault Aviation
– From productivity to sustainability –
Tentu melibatkan sebuah pertimbangan serius ketika serangkaian pesawat dibeli untuk kepentingan kenegaraan, baik itu bagi keperluan militer ataupun sipil. Dari 61 unit pesawat angkut TNI-AU Indonesia, 2 di antaranya adalah Falcon 8X buatan Dassault Aviation. Kedua unit buatan perusahaan Prancis tersebut menjadi bagian dari Skadron Udara 17 yang khusus memfasilitasi para VIP dan VVIP pemerintah dalam menjalankan tugas-tugas resminya (serupa dengan Air Force One di USA).
Kehadiran dua business jets itu di Indonesia tak terlepas dari skema penguatan Alutsista TNI, khususnya kontrak pembelian puluhan unit jet tempur Rafale dari Dassault (with this latest purchase, Indonesia has now ordered a total of 66 Rafale jets). Pembelian dalam jumlah signifikan ini menggeser dominasi F-16 buatan Lockheed Martin asal USA dalam komposisi pesawat tempur Indonesia yang keseluruhannya berjumlah 84 unit. Does this move reflect deeper geopolitical dynamics between countries, or is it a technical decision? Probably both, but we wouldn’t go there. Melihat keputusan tersebut dalam kacamata positif – sebagaimana informasi yang kami himpun – pembelian unit aircrafts itu nyatanya turut melibatkan aspek transfer of technology dalam proses produksi yang melibatkan PT Dirgantara Indonesia.

Dassault sendiri merupakan perusahaan manufaktur military aircrafts dan business jets yang hadir sejak 1929 dan telah menjadi kepercayaan berbagai negara untuk kepentingan pertahanan. Expertise di bidang militer tersebut jelas membawa kelebihan tersendiri bagi divisi business jets-nya. Lebih lanjut mengenai hal ini, The Editors Club berkesempatan untuk melakukan korespendonsi elektronik dengan Carlos Brana, Executive Vice President Civil Aircraft of Dassault Aviation.
Trust and Technology
Apa yang sesungguhnya membuat Dassault mampu menjadi pilihan kuat bagi urusan-urusan resmi kenegaraan? Ini yang pertama muncul di benak saat mendapat tawaran wawancara. Pasalnya, hanya segilintir produsen jet pribadi yang mampu menjadi significant player di wilayah tersebut.
Trust menjadi kata kunci yang dilontarkan Brana. Ia memberi contoh Australia, tetangga Indonesia, yang telah lebih dari 60 tahun menjadi pengguna pesawat-pesawat Dassault; dimulai dari Mach 2 Mirage III sebagai jet pertahanan di era 60’an. “You build bonds of trust, and that is true of Dassault and its customers around the region today,” ungkap Brana. Selain kepercayaan, ia juga melihat bahwa aspek teknis pesawat turut berpengaruh dalam memikat para pengguna. Pesawat untuk para VIP pemerintahan dioperasikan oleh angkatan militer udara dan mereka dibuat nyaman dengan jenis-jenis jet binis Dassault yang mengadopsi teknologi jet tempur.

“Their pilots generally prefer Falcons because of their excellent handling (like the fighter jets) and their easy maintenance. Dassault is the only company building fighters and business jets. Advanced fighter technology is transferred to the business jets, and air forces like that, too,” jelas Brana. Tak hanya perihal kemudi, teknikalitas lain dari pesawat-pesawat Dassault pun mendukung produktivitas kinerja para pejabat negara. Sebagai contoh, Falcon 8X yang dimiliki Indonesia memiliki range 11.945 km, yang artinya berkemampuan untuk nonstop flights dari Beijing ke New York, atau dari London ke Singapura. Secara konsumsi bahan bakar, jet ini 15% lebih efisien dibanding aircrafts lain di kelas long-range.
Mengadopsi Digital Flight Control System dari jet tempur Rafale (yang membuatnya lebih aman dan nyaman), Falcon 8X dapat dioperasikan di bandara-bandara yang tak bisa diakses oleh para kompetitornya. Misalnya bandara London City, Lugano, dan La Môle – St-Tropez. Turut dilengkapi fitur FalconEye untuk malam hari, rasa secure dalam menggunakan pesawat ini semakin besar berkat layanan Command Center 24 jam. Para teknisi perusahaan dan pusat suku cadang di seluruh dunia siap siaga untuk menangani masalah teknis yang dihadapi pengguna pesawat.
“Dassault is the only company building fighters and business jets.”
Strong Market, Sustainability-Focused
Ketika menyusuri situs resmi Dassault Falcon, terpampang harga pre-owned 900EX S/N 096 produksi tahun 2001 berada di angka USD 10,75 juta. Meski dijajakan dengan harga yang sky-rocketing, permintaan terhadap jet pribadi disebut tetap kuat. “Interest for new-build business jets remains strong, because business people have realized that flying on a business jet is more efficient and saves time,” ujar Brana. Hingga saat ini, Amerika Utara masih menjadi top market bagi Dassault (dengan USA sebagai pasar terbesar), yang diikuti dengan Eropa dan Asia Pasifik.
Diungkap olehnya bahwa salah satu tantangan dalam menjalankan bisnis ini ialah memenuhi demand para pembeli, khususnya tentang kecepatan delivery. Ia mengatakan, “Customers want their aircraft delivered as soon as possible but, because of backlogs and also because of customization to buyer requests, it takes 18 months to 2 years from the sales contract signature to the delivery of the final product.” Menurut Brana, ke depannya industri jet pribadi akan terus menawarkan kecanggihan di berbagai segi. Ia memprediksi bahwa teknologi baru akan membuat private jets lebih capable kala menerjang berbagai kondisi cuaca, lebih nyaman, lebih efisien bahan bakar, serta lebih compatible dengan Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Jet pribadi memang umumnya dipandang problematik dalam isu dampak lingkungan. Dihadapkan dengan pertanyaan seputar hal tersebut, Brana yang telah bergabung dengan Dassault sejak 1984 sebagai design engineer Rafale memberikan klarifikasi. “Business aviation must play its role, but let’s be clear: it contributes only 2 percent of aviation emissions and only 0.04 percent of all CO2 emissions,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa industri ini terus berupaya untuk menjadi lebih ramah lingkungan. Fokusnya ada di dua hal, yakni fuel efficiency (yang merupakan kekuatan Dassault) dan perluasan penggunaan SAF sebagai Solusi short-term dan middle-term untuk mengurangi jejak karbon.
SAF merupakan bio-fuel dari limbah rumah tangga maupun industri. Beberapa bahan pembuatnya adalah minyak jelantah, sampah kertas dan tekstil, makanan sisa, hingga residu peternakan dan perkebunan. Sumber energi alternatif ini menghasilkan lebih sedikit carbon footprint dibanding bahan bakar fosil konvensional. Menurut Brana, availability dari SAF perlu ditingkatkan agar transisi energi semakin meluas dan mengakar. Keseluruhan armada Falcons telah mengantongi sertifikasi untuk beroperasi dengan campuran 50% SAF dan tengah berjibaku untuk bisa membuatnya jadi 100% SAF. “The 10X will be the first business jet able to fly on 100 percent sustainable aviation fuel,” ucap Brana.
What Consumers Want
Di samping segala fitur yang sudah disebut sebelumnya, pengalaman terbang dari konsumen pastinya memainkan peran penting bagi bisnis ini. Bicara tentang flying experience menggunakan private jet, kata “luxury” mungkin menjadi top of mind bagi banyak orang. Lewat interview bersama kami, Brana memperlebar sudut pandang nan sempit itu. Masing-masing jet punya peruntukan tersendiri dan Falcon adalah tentang produktifitas.

“Luxury really isn’t the right word. These are business tools and our customers understand and value that. What we are aiming for is the comfort and productivity of home or office for senior level executives,” ungkap Brana. Misi Falcon adalah menciptakan environment super-nyaman bagi mereka yang terbang sepanjang malam dan harus kembali meeting di pagi hari. “That is not easy to do at 41.000 feet,” ujarnya.
Untuk bisa deliver kenyamanan di level tersebut, pesawat Falcon 8X berdaya tampung maksimal 16 orang hadir dengan ragam aspek penunjang. Sebagai sarana transportasi yang dibangun untuk memfasilitasi kebutuhan profesional, kecepatan internet menjadi perhatian penting. Jawabannya adalah layanan in-flight internet FalconConnect. Dengan fasilitas digital ini, penumpang dapat melakukan segala aktivitas dunia maya dengan lancar, mulai dari sekadar mengirim email hingga menonton live streaming dan melalukan teleconference.
Keleluasaan juga tak kalah penting. Dengan panjang 13 meter, lebar 2,34 meter, dan tinggi 1,88 meter, kabin Falcon 8X bisa diatur dengan beberapa opsi konfigurasi. Baik itu skema 3-lounge dengan aft shower, standard entryway, atau larger entryway dengan grand galley, ruang dalam pesawat ini akan memungkinkan penumpang berkegiatan secara nyaman. Kehadiran 32 jendela memungkinkan cahaya alami menerangi ruangan dan menyajikan pemandangan menawan di langit. Sistem filtrasi udara yang mutakhir memastikan kualitas udara di kabin. Demikian pula dengan sound-proofing yang menciptakan ambience tenang.

Sebagaimana disebut Brana, perihal comfortable space tersebut nyatanya yang juga menandai perubahan aspirasi konsumen. Hal tersebut berkaitan dengan jarak tempuh para pengguna yang semakin panjang. “Customers are flying farther – up to 15 hours. So, they want more comfortable cabins to work and rest over these distances,” ucapnya. Sampai saat ini, jet Falcon 6x terbaru memiliki kabin terbesar di segmen aviasi bisnis Dassault. Business aircrafts yang kini tengah dikembangkan, yakni Falcon 10X, nantinya akan lebih spacious dan semakin nyaman. Dengan peningkatan flying experience beserta keunggulan teknologi militer, lini Falcon Dassault tampaknya akan terus menjadi pilihan bagi mereka yang mengutamakan seamless productivity, safety, dan reliability.