“The Soul Trembles”, Renungan Chiharu Shiota Perihal Ketakutan

A self journey dealing with fear, life, and death.

 

人魂 (hitodama) berarti jiwa manusia. Ini yang sepertinya dimaksud oleh Chiharu Shiota soal bola api saat menjawab pertanyaan The Editors Club tentang apa yang ia percaya saat kecil dulu perihal kematian. “In Japan, it is said that the soul leaves the body like a fireball. It is not a fireball but I don’t know the English translation [of it]. In the countryside, when people died, we could see the fireball after the funeral. It was commonFor once, I saw it with my brother. What I believed as a child, this fireball soul would fly to heaven. Today, we don’t see it. A long time ago, we could see the spirit in the sky. Blue fire from the body,” ujar Shiota.

Pengalaman masa kanak-kanak Shiota terdengar sangat menarik, akan tetapi tampaknya itu tak lebih kuat dibanding perasaan takut yang ia miliki seputar kematian hingga begitu mempengaruhinya dalam berkarya sebagai seorang seniman. Pengembangan karya-karyanya yang berangkat dari penjelajahan lansekap psikis nan kelam itu menjadi salah satu highlight yang bisa ditemukan di “Chiharu Shiota: The Soul Trembles” di Museum MACAN. Eksposisi yang dilakukan pameran ini akan aspek fear dalam perannya membentuk artistic point of view seorang Shiota mengungkap suatu kesinambungan runtutan episode-episode kengerian atau kecemasan di hidup sang seniman.

Where are We Going?
Pada sebuah dinding di ruang pameran diceritakan bagaimana ketakukan Shiota kecil saat mencabut rumput liar makam neneknya di Prefektur Kochi yang selalu ia kunjungi bersama orangtuanya tiap musim panas. “It was horrifying for me to imagine that I might hear the sound of my grandmother breathing as I was pulling up the weeds,” demikian ungkapan seniman kelahiran Osaka itu sebagaimana tertulis di tembok.

Suasana horor di latar mental anak-anak akan imajinasi-imajinasi menakutkan seperti dialami Shiota lumrah terjadi pada individu-individu cilik, tapi seberapa signifikan hal itu akan membekas dan berdampak hingga dewasa bisa berbeda bagi tiap orang. Mungkin Shiota termasuk yang rentan terhantui oleh hal-hal semacam itu. Terlepas dari persoalan ini – yang lebih tepat untuk dibedah oleh disiplin Psikologi ataupun Neuroscience – beberapa penggalan hidup sosok yang lahir di era 70’an itu memang mengguncangkan jiwa. Siapa yang tak tercekam ketakutan akan vonis kanker?

Keruwetan abstrak sebuah tangled needles yang mencuat dari dua telapak tangan di sculpture “In The Hand” (2017) meresonansi getaran ketakutan yang menerpa diri Shiota. Di tahun rilisan artwork itulah ia untuk kedua kalinya dihantam berita akan aktivitas kanker ovarium yang perdana terdeteksi pada 2005 dan sesungguhnya sudah berhasil masuk ke periode remisi (berkurang atau tanpa tanda-tanda) selama 12 tahun. Jika pada kreasi lengan bermaterial perunggu dan kuningan tersebut – karya pembuka di pameran ini – yang terasa adalah suasana ketakutan nan runyam, cita rasa sedih sendu ditemukan pada “Where Are We Going?” (2017). Sulur-sulur benang hitam dan putihnya wujud perahu menjadi simbolisasi inter-relasi konsep kematian, perjalanan, infinity, dan uncertainty.

Lirih bisa dikecap di instalasi “Out of My Body” (2019) di mana potongan-potongan lengan dan kaki tergeletak di bawah gantungan lembaran-lembaran kulit berpola cut out palet merah. Kesadaran akan kematian bagai sebuah koin dengan satu sisinya adalah segala emosi dan impresi frightening, sementara sisi lainnya adalah refleksi filosofis tentang perjalanan dan tujuan hidup. Ini yang terjadi di perjalanan Shiota dan tertuang pada karya seninya. Di balik segala kalut kelabu yang merasuk kalbunya, putusan klinis yang menghantar kesadarannya lebih dekat dengan titik kematian juga berbuah pada kontemplasi mendalam akan life dan soul.

Dalam wawancara ini, ia mengenang pengalamannya menjalani kemoterapi di rumah sakit. Seperti dituturkan Shiota, sistem super steril nan mekanistis itu menstimulasi produksi pertanyaan-pertanyaan di benaknya tentang di mana soul sesungguhnya berada dan akan ke mana setelah kematian (hence the title “Out of My Body”?). Ekspresi sang seniman atas perenungan spiritual itu serasa memainkan peran counterbalance yang lebih serene terhadap luapan keluh hati akan kematian di karya ciptaannya. There’s something tranquil that is silently said about the soul in works like “Where Are We Going?” even though the unsettling enigma of it – of where it would fly to – or the uncertainty persists.

Fear as Fuel
“More connected to the universe,” ungkap Shiota mengenai sudut pandangnya kini mengenai soul setelah bergelut pada persoalan kematian dan ketakutan di sekitarnya; sebuah kacamata berpikir yang bukan hanya mendalam tapi juga bernuansa peacefulprobably she has really made peace with questions on death, life, and soul which disturbed her mind troughout all the harrowing problems. Lantas lewat perspektifnya yang bersifat lebih tenang itu, akankah fear tereliminasi dalam karya-karyanya selanjutnya?

Perubahan pendekatan artistik dari seorang seniman wajar saja terjadi. Akan tetapi, berkaca dari penuturan Shiota mengenai relasinya dengan fear, sepertinya elemen psikis itu akan terus menjadi fuel bagi kreativitasnya. “Existence in the absence is about fear, memory, silence, uncertainty. I wanted to connect these feelings. I want to connect all these kinds of feelings with an invisible line…Art is more about struggle of life and find something newOf course, I personally have a happy side but when I make art, I have more of these feelings,” jelas Shiota perihal landasannya dalam berkesenian.

Art is more about struggle of life and find something new.”

Di eksibisi “Chiharu Shiota: The Soul Trembles” menarik untuk diperhatikan bahwa pieces yang merujuk pada pengalamannya bergumul dengan kanker yang menyangkut isu kematian dan aspek fear serta uncertainty di seputarnya justru tak lebih provoking dibanding ciptaan-ciptaan di bawah situasi hidup lainnya. Seperti sudah disinggung sebelum ini, refleksi akan kematian tampak menjadi penyeimbang menenangkan terhadap emotional turbulence yang muncul. Hal ini sangat berbeda dengan karya-karya lebih dini Shiota yang bereferensi pada kepindahannya dari Jepang ke Jerman. Intensitas emosional artworks tersebut jauh lebih pekat dengan efek nan perturbing atau trigerring. Olahannya akan fear dan uncertainty di kreasi-kreasi itu terasa lebih direct dan raw.

Performance “Try and Go Home” (1997) adalah salah satu contohnya. Karya performance itu dibangun oleh aksi Shiota memanjat gua setelah 4 hari berpuasa sebagai bagian dari workshop Marina Abramović, gurunya di Braunschweig University of Art. Lokakarya yang berlangsung di sebuah kastil di Prancis tersebut sangat eksentrik, di mana kelima belas mahasiswa seni mempraktikkan hal-hal peculiar seperti menulis nama sendiri selama seminggu hingga pulang ke rumah dengan berjalan mundur sambil memegang cermin. Di kasus Shiota,  hasilnya adalah ingatan akan Jepang kampung halamannya. Ia yang dalam keadaan telanjang berulang kali jatuh dan mencoba memanjat kembali gua di performance tersebut merupakan proyeksi sang seniman akan ketidakpastian keberadaannya yang telah jauh dari negara asal.

Shiota lulus dari studi oil painting di Kyoto Seika University pada tahun 1996. “ It was not possible to live as an artist, no gallery or museum took me seriously. I had to continue to study. That’s why I came to Germany,” kisah seniman yang terpengaruh karya-karya Ana Mendieta itu. Migrasinya ke Jerman yang dilakukan tak lama berselang setelah lulus perkuliahan bukan hanya berontribusi pada substansi hasil-hasil karyanya, seperti eksplorasi tema-tema identitas dan ketidakpastian hidup, tapi juga merupakan masa-masa formatif akan peralihannya dari seni lukis ke bentuk artistik lain yang ia tekuni hingga kini. Cikal bakalnya terjadi semasa Shiota menempuh studi lukis dan merasakan kebuntuan pada genre seni itu.

Kesempatan untuk mengeksplorasi art medium berbeda hadir saat ia mengikuti program pertukaran pelajar ke Australian National University School of Art, Canberra. Lahirlah “Becoming Painting” (1994), sebuah performance yang menampilkan dirinya bersimbah cat enamel merah. Baginya proses pengerjaan karya ini bersifat liberating dan membuka mata bahwa dirinya sendiri pun bisa menjadi bagian work of art. Sekembalinya ke kampus di Jepang, Shiota yang telah menemukan landasan artistik baru mengukuhkan hal tersebut melalui instalasi “From DNA to DNA” (1994). “There is certain sense of opennes that jumps out into a non-two-dimensional space. I was born and emerged out of this work,” jelasnya seperti tertulis di penjelasan pameran. Itu adalah karya pertamanya yang melibatkan rangkaian benang.

Beyond The Fear
I always want to weave triangles until the space is full,” jelas Shiota memaparkan secuil aspek teknis pengerjaan karya-karya yang memanfaatkan benang. Menambah sedikit info, ia menyebut bahwa biasanya benang-benang dirangkai mulai dari atap dan dari belakang dinding. Benang dipilihnya dengan alasan tersendiri. “I wanted to be a painter, but when I painted it looked like the work of someone else, it was never original. I wanted to make drawings with my material. I wanted to use string and make three-dimensional drawings…The thread is mirroring the feelings,” terangnya.

Ketika jelas terpampang pada wajah-wajah karya Shiota bahwa feelings yang dimaksud adalah berbagai unsur emosional yang cenderung dark dan dreary, cukup intriguing untuk melihat bagaimana elemen-elemen psikis tersebut sebagiannya juga terkandung dalam memori akan peristiwa yang merentang jauh di masa lalu. “In Silence” (2002) yang begitu poetic berselubung jalinan benang hitam dengan objek piano terbakar menempati center stage di hadapan kursi-kursi kosong adalah hasil interpretasi kenangannya di usia 9 tahun tentang musibah kebakaran yang menimpa rumah tetangga.

Menyaksikan kejadian naas itu secara langsung meninggalkan jejak emosional di dirinya. “An ineffable silence came over me, and over the next few days, whenever the window blew that burning smell into our house, I could feel my voice start to cloud over.” Dampak hal ini terus terbawa dalam dirinya. “There are things that sink deep into the recesses of my mind, and others that fail to take either a physical or verbal form, no matter how hard you try. But they exist as souls without a tangible form,” ungkap seniman yang mewakili Jepang pada perhelatan Venice Biennale 2015.

Memori memang juga menjadi sumber inspirasi Shiota dalam berkarya. Di satu sudut di ruang pameran, ada sebuah karya tentang memori yang rasanya punya karakter berbeda dari segala lainnya. It even seems like an anomaly in the artistic world of the artist. “Connecting Small Memories” (2019) adalah hamparan bidang putih yang ditempati oleh banyak miniatur objek keseharian dan terhubung oleh benang-benang merah. Jujur saja, karya bernapas kawaii (Japanese for ‘cute’) ini begitu relieving layaknya oase di tengah gurun kemurungan. Perhaps this is the only piece of art in the exhibition that can bring smile when you see it. Definitely our favourite.

Pada bagian akhir pameran, peran memori termanifestasi pada sebuah instalasi sekumpulan benang merah yang menjulur ke bawah dengan koper-koper tergantung padanya – dan sebagiannya bergerak-gerak sendiri. Suitcases itu adalah hasil koleksinya dari menyambangi flea market di Berlin. “I am very interested in the memory inside the items, as I can see the existence of the persons,” ujarnya tentang karya berjudul “Accumulation – Searching for The Destination” (2014). Artwork yang tampil pada ajang Art Basel 2016 itu menutup pameran ini dengan menyulut pertanyaan eksistensial nan romantis tentang kaitan memori dan sebuah perjalanan. For us, the questions arise are about what those people left behind, what memories and dreams they carried, what destination they went to, and ultimately: Why?

Adakah nuansa uncertainty terasa pada karya penutup ini? Pastinya. Begitupun dengan fear. However, for certain those people who chose to keep going, people who decided to move forward through a journey were they who went beyond the uncertainty and the fear. Amidst all the questions they couldn’t answer yet in their journey, they lived in strength and faith deep inside. That’s the meaning we opt to build about that artpiece; the more empowering interpretation. Dengan cara itu, penikmatan estetik akan pameran ini bukan hanya membuahkan gumpalan kegundahan yang mengganjal, melainkan menghasilkan sebuah pemaknaan berharga akan cara menjalani hidup.

Dalam hidup Shiota sendiri, aspek makna sebuah karya punya andil penting bagi pertumbuhan minatnya di bidang seni. “My parents received a daily newspaper. Every Sunday, the paper had like a painting and described the meaning of the painting like of Edvard Munch’s The Scream. The paper would describe an analysis and I was fascinated of the meaning of one picture,” ceritanya tentang benih kecintaan pada seni yang mulai tumbuh di usia 12 tahun.

More of Her
Beberapa karya Shiota yang melibatkan jalinan benang berskala besar di pameran ini hadir immersive sehingga membuat penikmatnya seolah memasuki sebuah lansekap surealis (through our interview it’s known that she’s interested in Salvador Dali from the beginning). Sebagian lainnya menunjukkan fase hidupnya sebagai stage designer. For sure, eksibisi tunggal yang menampilkan karya-karya sang seniman selama 25 tahun berkarya ini menunjukkan betapa kuat luapan personalitas Shiota terpancar dengan ciri khas kesan eerie dan gloomy.

 I wanted to make drawings with my material. I wanted to use string and make three-dimensional drawings.”

Meskipun demikian, tidak fair juga bila kreativitas artistik Shiota direduksi semata kepada unsur-unsur ketakutan, ketidakpastian, maupun kematian. Sebagaimana terlihat pada pameran ini, Shiota juga mengangkat berbagai topik krusial lain soal kehidupan. Sebuah performance tanpa judul pada tahun 2001 di Islandia memperlihatkan tubuhnya terbalut benang merah di tengah bentang alam sebagai simbolisasi peleburan manusia dan alam. “During Sleep” (2002) yang menyuguhkan sejumlah tempat tidur dalam jalinan benang hitam bicara tentang pandangannya mengenai persinggungan mimpi dan realita sebagaimana ia terinspirasi gagasan filsuf China Zhuangzi.

Selanjutnya ada “Wall” (2010), hasil pemaknaannya terhadap Tembok Berlin di Jerman dan Tembok Ratapan di Yerusalem yang mewujud pada video dirinya terbaring dilapisi selang pembuluh darah eksternal. Melalui karya ini, ia menjadikan lapisan selang pembuluh darah itu sebagai simbol batasan-batasan etnis, kebangsaan, juga agama dalam kehidupan sosial manusia. Goresan-goresan water-based crayon di atas kertas pada “In The Earth” (2012) mengusung bahasan persepsi kebenaran yang didasarkan hanya kepada apa yang terlihat walau sesungguhnya segala sesuatu terhubung layaknya rhizoma dalam tanah. Gagasan saling keterhubungan itu juga dieksplorasi Shiota pada karya epiknya “Uncertain Journey” (2016) lewat penggunaan benang-benang merah yang rumit terjalin. Hal in memberi konteks komunal bagi ide ketidakpastian perjalanan manusia pada karya tersebut.

Satu karya sangat unik dengan pesan yang juga mendalam adalah “Reflection of Space and Time” (2018). Another favorite for us, this one is made using interesting technical concept. Karya ini berupa kubus yang tampak menampilkan dua gaun putih. Sesungguhnya memang ada 2 white dresses yang “melayang” di antara jalinan-jalinan benang hitam. Akan tetapi, jika diperhatikan saksama, sesungguhnya ketika seseorang melihat isi kubus dari satu sisi, maka orang itu hanya melihat satu gaun ditemani dengan bayangan cerminannya. Begitu pula dengan sisi sebelahnya. Pengecohan ilusi dan realitas dari busana yang dimaksudkan Shiota sebagai kulit ke dua dan ruang sebagai kulit ke tiga merupakan materi refleksi kreasi itu.

Contoh-contoh tersebut patut diperhitungkan sebagai bagian tak terpisahkan dari dunia artistik Shiota sehingga eksistensinya sebagai seniman tak dipandang secara reduktif sebatas pencipta karya-karya afeksi subjektif. Chiharu Shiota jelas adalah seniman yang berbincang dengan fenomena psikisnya, tapi jelas juga bahwa ia berdiskusi tentang bermacam-macam topik bahasan humanitas. Her works are not only soul-trembling but also mind-provoking.