SukkhaCitta Menginterpretasi Ulang Motif di Dinding Candi Prambanan

A mixture of Java and jalawe.

 

Dahulu kala, Sunan Kalijaga sebagai sosok arif pada zamannya pernah mengajarkan sebuah filosofi mulia. Kalimatnya berbunyi, “urip iku urup” yang artinya “hidup itu menyala”. Hal itu dikembangkan oleh Anastasia Setiobudi, creative director dari SukkhaCitta hingga mewujud pada koleksi terbaru yang bertajuk “Angkasa:Sinar”.

Sebanyak 12 pieces ragam  womenswear maupun menswear tampil dalam siluet unik yang telah melewati proses natural nan panjang. Produksinya yang menggunakan jalawe sebagai komposisi utama yang merupakan pewarna alami.

Dalam peluncuran koleksinya di store SukkhaCitta yang berlokasi di Ashta District 8, Jakarta proses pembuatan koleksi ini digambarkan interaktif lewat sebuah instalasi khusus. Pertama, buah jalawe yang jatuh dari pohon diambil untuk mendapat warna kuning emas, hingga kemudian dilukis dengan tangan. Anastasia menginterpretasi ulang motif Patola, motif kuno yang masyhur dari abad ke-9 dan tergambar di dinding candi Prambanan. Kemudian kain dicelup menggunakan sweet indigo dan melewati wax removal hingga kemudian dijahit. 

Hasilnya hadir dalam rupa kreasi formal seperti sleeveless dress dengan nuansa contrast-fabric warna kuning emas di bagian belakang. Bagian atas dress tampil transparan dari perpaduan organza. Ada pula kreasi top coat yang terinspirasi bentuk kebaya dengan hiasan motif di bagian ujungnya. Sementara untuk nuansa kasual terdapat tunic top bersiluet bateau neckline nan rileks. Draped ribbon top di kreasi itu memberi efek silky nan mewah pada material kain bermotif. Pada kreasi menswear hadir structured shirt dengan bubuhan kombinasi motif di kedua sisi body-nya. Gaya aristokrat Jawa dalam rupa Beskap juga turut tampil.

Mengiringi perilisan koleksi ini adalah narasi audio-visual yang ditembak ke layar tancap. Video tersebut dibintangi aktris Asmara Abigail yang juga hadir di acara peluncuran koleksi.