Harmony within cultural dynamism.
Diperlukan inisiatif terencana dan mendetail untuk melestarikan budaya yang beragam. Cara yang ditempuh Mel Ahyar dalam upaya pelestarian itu adalah dengan menggelar presentasi tunggal perdananya yang bertajuk “Kultulibrasi”. Maknanya adalah menemukan keharmonisan di antara dinamika akulturasi dan regenerasi berimbang antara pelaku dan konsumen budaya. Ia menampilkan kompleksitas tersebut lewat alur lini besutannya, yakni Happa, XY, Mel Ahyar Archipelago, dan lini utama Mel Ahyar.
“Tidak ada generasi muda yang dari lahir sudah serta-merta langsung berbudaya. Kolaborasi menggunakan wastra tidak hanya untuk meregenerasi pengrajinnya, tapi juga meregenerasi customers,” ujar sang desainer. Secara kronologis, show dibuka dengan narasi oleh Anggun yang berbicara mengenai regenerasi budaya.
Mel Ahyar menampilkan koleksi berjudul “RikuRiku” lewat lini Happa dan XY yang terinspirasi oleh passion suku Asmat ketika memahat kayu sebagai bukti eksistensinya di dunia dan persembahan untuk para leluhur. Representasi tersebut hadir berbentuk padu padan blazer, kemeja motif print abstrak dan celana palazzo oversized warna netral pada menswear. Selanjutnya ada midi dress dengan beads detail, rumbai colorful dan belted fabric asimetris yang diperagakan oleh Iko Bustomi.
Lewat lini Mel Ahyar Archipelago, sang desainer berpetualang mengolah tiga wastra. Gedog Tuban diolah dalam judul “Onomatope”. Ia menciptakan coat dengan siluet terkini yang berpotongan asimetris dan dipadu bersama celana clashing motifs. Ada pula “Mulang Tiuh” yang merupakan olahan kain tapis Lampung menjadi kreasi atasan cheongsam dengan rounded shoulder dan lipit asimetris bersama rok. “Medan as the Melting Pot” mengolah ulos menjadi belted coat dengan detail bordir flora yang genderless.
Koleksi utama Mel Ahyar merupakan kumpulan gaya busana lintas generasi dari era 1940-an hingga 2000-an yang begitu dipengaruhi teknologi, geografi dan sosio-ekonomi. Kreasi kebaya didesain dengan gigot sleeve dan detail bunga nan feminin, kreasi transparent coat hadir dengan motif bunga, sleeveless dress mendapat aksen bordir dan rumbai, sementara coat-nya berbordir wordplay yang terkesan sci-fi layaknya karakter digital. Turut memperagakan koleksi ini adalah aktris Mikha Tambayong dan Adinia Wirasti. Legacy in harmony!