StrEIGHT from the Desk of: Madelaine Angelina

Kidulting: Why Adults are Embracing Childhood Joys

 

Saya termasuk orang yang mengingat cukup banyak momen dari masa kecil. Ketika beranjak masuk SMP, saya pernah mendapatkan komentar dari teman bahwa memakai produk yang cute dan menonton film kartun merupakan hal yang kekanak-kanakan. Mengingat kembali momen tersebut di usia sekarang, saya tertawa kecil. Mengapa anak-anak begitu terburu-buru untuk tumbuh dewasa, namun ketika kami mencapai usia tersebut, timbul keinginan untuk kembali ke masa kecil?

Uniknya, orang “dewasa” sekarang malah mencari hal-hal cute yang mungkin identik dengan anak-anak. Tren boneka lucu, Labubu, produk Sanrio, merchandise Disney, figurin anime, hingga K-pop menjadi hobi-hobi tidak hanya untuk anak-anak dan remaja, tetapi juga orang dewasa. Dalam beberapa kasus, hobi masa dewasa ini menjadi “pelampiasan” dari kesempatan mengoleksi atau membeli barang-barang tersebut yang tidak mereka dapatkan di masa kanak-kanak. 

Ada sebutan khusus untuk fenomena ini: Kidulting. Mengutip dari Tempo, kata tersebut gabungan dari “kid” (anak) dan “adulting” (menjadi dewasa) yang menunjukkan “fenomena sosial orang dewasa yang tumbuh bersenang-senang dengan kenangan dan hal-hal yang menyenangkan dari masa anak-anak.” Hal tersebut bisa berbentuk mainan, media, karakter, dan lain-lain. Fenomena kidulting memang paling banyak ditemukan di milenial dan Gen Z – dua generasi yang memiliki kebutuhan besar untuk ekspresi diri dan sekarang sudah memiliki penghasilan sendiri untuk melakukan (dan membeli) apa yang mereka sukai. 

Alasan di balik fenomena tersebut cukup sederhana, tak jauh berbeda dengan mengapa kita melakukan banyak hal, seperti travelling atau bahkan membeli baju baru: mencari kegembiraan. Di tengah tekanan hidup sebagai orang dewasa, banyak dari kita mendambakan perasaan carefree dan keseruan seperti di masa kecil. Kebahagiaan sederhana tersebut dapat dimiliki dengan membeli sebuah merchandise atau mainan baru. Faktor nostalgia juga memiliki peran yang besar dalam bagaimana hobi kidulting ini memberikan kebahagiaan. 

Sebagai orang dewasa, saya masih menggemari media yang sama seperti yang saya sukai di masa kecil atau masa remaja. Tetapi, perspektif saya telah berubah. Ketika saya menonton Sleeping Beauty lagi, saya tidak lagi takut dengan Maleficent yang berubah menjadi naga. Saya melihat bagaimana indahnya watercolour backgrounds yang dilukis oleh para ahli animasi dan menyadari penggunaan musik balet Tchaikovsky di film tersebut. Tetap menyukai hal-hal yang sama seperti di masa kecil saya tidak membuat dunia saya berhenti di situ, tetapi melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas. 

Menurut saya, bukanlah hal negatif untuk tetap menyukai hal-hal yang kita sukai di masa kecil. Mungkin ada yang tidak suka dengan hal itu, dan berekspektasi bahwa kita harus menjadi “orang dewasa” dengan segala checklist-nya. Ya, seperti semua hal, ada poin yang bisa dipetik dari sana. Kita dapat kabur dari realita melalui hobi-hobi kidulting ini, tetapi keseimbangan tetap diperlukan. Selama kita tidak melupakan tanggung jawab kita sebagai orang dewasa, I think it’s absolutely fine to embrace your inner child and have a little fun

Kembali ke komentar yang saya sebutkan di awal tulisan ini. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Jika mereka berkesempatan untuknya, seorang anak seharusnya tidak terburu-buru menjadi dewasa Hal yang terpenting di waktu sekarang, adalah “waktu sekarang” itu sendiri, menikmati setiap musim dalam hidup kita. Mungkin, saya berbicara tidak hanya kepada orang-orang yang lebih muda, tetapi juga kepada mereka yang memiliki anak seperti teman-teman saya sekarang. Kemudian, bila saya dapat membisikkan suatu hal kepada diri saya di masa lalu, saya ingin berkata: “Let’s live our own lives without caring too much about what others say, okay?