Playing the Creative Directors’ Chess.
Ada banyak perubahan yang sedang berlangsung di fashion houses terbesar di dunia. Creative directors are coming and going – in the most literal sense. Dengan berubahnya pimpinan artistik di sebuah rumah mode, identitas rumah mode itu sendiri akan mengalami perombakan dalam berbagai segi, mulai dari desain produk, arahan fashion show, hingga marketing campaigns yang mempromosikan kreasi-kreasi mereka.
Sebagai rekap, inilah beberapa update terbaru dari pergerakan para creative directors: Matthieu Blazy dari Bottega Veneta ke Chanel, Sarah Burton dari Alexander McQueen ke Givenchy. Setelah 20 tahun di Gucci dan tujuh tahun sebagai Creative Director, Alessandro Michele ditunjuk untuk memimpin Valentino pada tahun 2024. Glenn Martens pindah dari Diesel ke Maison Margiela, dan Michael Rider dari Polo Ralph Lauren kembali ke Celine (ia sebelumnya merupakan Design Director di bawah pimpinan Phoebe Philo).
Sementara itu, kami juga belum mengetahui apakah gerakan berikutnya dari Hedi Slimane setelah Celine, John Galliano setelah Maison Margiela. Where would Pierpaolo Piccioli go after Valentino, Kim Jones after Dior Men’s and Fendi, and not to forget Sabato de Sarno after his quick stop at Gucci. Bahkan, hingga penulisan artikel ini, kami masih belum mendapatkan kabar akan siapa yang akan menggantikan Kim Jones di Dior Men’s dan Sabato de Sarno di Gucci.

Dari semua nama tersebut, yang sudah dapat kami saksikan perubahannya adalah Alessandro Michele di Valentino. Komentar yang sering muncul dengan direction Michele untuk Valentino adalah bagaimana kreasi-kreasinya terlihat begitu “Gucci”. Menurut saya, pernyataan tersebut kurang akurat. Valentino yang sekarang memancarkan karakter “Michele”, bukan “Gucci”.
Ketika Michele menjabat sebagai Creative Director di Gucci pada tahun 2015, ia memperkenalkan estetika retro, maksimalis, geek-chic, dan eklektik kepada rumah mode yang pada saat itu, masih lekat dengan karakter pragmatis dari arahan Frida Giannini dan sleek sexiness dari era Tom Ford. Saat Michele memegang kendali kreatif di Valentino, ia turut membawa karakter-karakter yang sama di rumah mode yang berbeda.
Sebagai rumah mode, Gucci dapat dideskripsikan sebagai “bold and glamorous”, sementara Valentino dengan keeleganan dan romansanya. Kedua rumah mode tersebut memiliki heritage, house codes, dan legasi yang berbeda. Sebagai pimpinan artistik di kedua rumah mode, Michele telah membawakan “Michele” yang sama.
Mengapa sebuah rumah mode mengubah direksi kreatifnya? Satu alasan yang straightforward adalah untuk meningkatkan angka penjualan. Fashion is after all, a business with an end goal to generate revenue. Pada tahun 2018, Michele telah meningkatkan penjualan di Gucci sebesar 35% selama lima kuartal berturut-turut. Pencapaian karir tersebut tentu menjadi salah satu konsiderasi dalam penunjukkan Michele sebagai Creative Director di Valentino.

Alasan-alasan lain di balik perubahan direksi kreatif adalah kesempatan untuk sebuah penyegaran. Announcing a new look automatically means that you will gain people’s attention. Selain itu, menjaga dan meningkatkan relevansi juga merupakan tujuan akhir dari pembaharuan creative direction sebuah rumah mode.
Now we have arrived at this question: how do you balance the creative director’s character and soul with a fashion house’s identity and archives? Ketika seorang perancang masuk ke rumah mode baru, mana yang harus lebih kuat: menjelma menjadi brand tersebut, atau memastikan bahwa jiwa kreatif pribadinya akan bernapas bebas di sana? Perubahan memang tidak bisa dihindari, namun hal tersebut harus diikuti dengan keseimbangan antara legasi sang rumah mode, jiwa sang creative director, dan pencapaian yang diinginkan para eksekutif.
For me, the keyword is “desirability”. After all, that is what luxury is all about.