StrEIGHT from The Desk of: Madelaine Angelina

What fashion means to me now.

 

Is it just me or did 2024 pass by so fast? Kita sudah berada di penghujung tahun. Dalam mempersiapkan tulisan ini, saya melihat kembali apa saja yang saya alami selama 12 bulan terakhir. Hal tersebut mengerucut pada persoalan fashion. To me, fashion is above all else a functional medium and I realise my perception towards it has changed significantly.

Dulu, ekspresi akan apa yang saya sukai atau pikirkan, saya tunjukkan melalui cara berpakaian. Saya juga pernah berpikir bahwa dengan fashion, saya dapat menjadi sosok yang lebih mudah diingat. Contohnya, menggunakan statement accessories yang mencuri perhatian. Saya pun kadang mengenakan skinny jeans dan topi besar di bandara karena mengagumi bagaimana para idol K-pop tampil dengan begitu “siap kamera” sebelum mereka naik ke pesawat. (Beberapa tahun setelahnya, saya membaca bahwa ternyata setelah berfoto mereka mengganti pakaian dengan yang lebih nyaman.)

Kini saya lebih mengutamakan praktikalitas. Meskipun saya tetap memantau tren terkini, kebanyakan pakaian yang saya beli memiliki satu benang merah: mudah dipadu-padankan dan nyaman dikenakan. Barang-barang yang saya beli juga sering kali merupakan vintage atau classic pieces. Perubahan ini terjadi karena beberapa hal: saya ingin hidup lebih sustainable, semakin malas dengan hal-hal “ribet”, dan merasa saya yang sekarang lebih dapat mengekspresikan diri melalui hal-hal lain, contohnya melalui tulisan ini.

Beberapa tahun lalu, saya pernah membaca bahwa dengan bertambahnya umur, personal style juga akan lebih terdefinisikan karena kita akan lebih mengenali diri sendiri. Apa yang kita kenakan akan berevolusi seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi di hidup. Mungkin, fase di mana saya lebih “playful” dengan fashion merupakan produk dari masa remaja, dan di usia dewasa ini, saya memegang nilai-nilai yang sudah berbeda. Experimenting with style is fun and important. Eventually, you will settle on the styles that most reflect the “you” of the moment.

Beranjak dari pengamatan akan fashion secara personal, saya juga sekilas melihat bagaimana hal tersebut difungsikan dalam relasi sosial. Tampilan memang bukan segalanya, tetapi di banyak kasus, fashion dapat digunakan sebagai satu cara bagi seseorang untuk dapat diterima dan disukai oleh komunitasnya, baik itu circle pertemanan maupun dunia kerja. Honestly, I think there is nothing wrong with that if that is indeed your endgame.

Fenomena lain yang saya rasa menarik adalah “method dressing”. Untuk mempromosikan film, para aktris mengenakan tampilan yang mereferensi karakternya. Contohnya adalah kedua aktris film “Wicked”. Ariana Grande dengan gaya feminin dan serba pink seperti Glinda, lalu Cynthia Erivo dengan tampilan edgy dan sentuhan warna hijau bagaikan Elphaba. Dengan red carpet looks tematik itu, mereka menggunakan fashion sebagai bentuk marketing dari film mereka.

At the end of the day, style is a collage of what you like and what you want to be; your identity and your aspirations.