StrEIGHT from The Desk of: Madelaine Angelina

The Luxury of Feelings. 

 

Pada suatu malam, saya menemukan sebuah kutipan menarik di media sosial yang diungkapkan oleh seorang DJ radio dari Korea Selatan, berbunyi: “Aku ingin [anak-anakku] juga mengenal the luxury of feelings.” Kutipan tersebut merujuk ke bagaimana ia percaya bahwa dari memahami seni, seseorang dapat memahami orang lain. 

Hal ini membuat saya berpikir, “luxury of feelings” merupakan konsep yang menarik untuk dieksplorasi. Biasanya, hal pertama yang muncul di benak seseorang ketika mendengar kata “luxury” adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan materi. Selain itu, kita juga berpikir tentang intangible luxury seperti waktu, kenyamanan, atau privasi. From those definitions, the luxury of feelings seems to be a fascinating unique universe of its own.

Mari kita mulai dari sudut pandang “feelings” sebagai “perasaan”. In this world, I do find that feelings or emotions are often deemed as less important than logic and reason. Sentimentalitas sering dianggap sebagai kelemahan, dan sensitivitas sebagai sesuatu yang tidak menguntungkan. Dari kecil, kita sering mendengar hal-hal seperti, “Gitu aja nangis?” saat kita jatuh. Ketika kita dewasa dan sedang menghadapi situasi yang susah, kita kerap mendapatkan respon, “Orang lain situasinya lebih parah kok, ngapain kamu gini aja sedih?”. Padahal sebenarnya, kalau mau berjaya sebagai pemimpin, justru memiliki empati adalah kualitas yang langka dan berharga, seperti sebuah luxury

Terkadang, saya merasa bahwa mungkin apa yang saya rasakan hanya menjadi penghalang. Tentu, ada situasi di mana perasaan dapat menutup mata dari kebijaksanaan, tetapi ini adalah topik untuk lain hari. Di sini, saya berbicara dari pengalaman pribadi. Butuh waktu lama untuk menyadari bahwa sensitivitas yang saya miliki merupakan sebuah luxury yang berharga, because I am able to see more of the the beauty that this world has to offer.

Kembali ke interpretasi “feelings” dari sang radio DJ, yaitu “feelings” dalam arti “seni”. Di sini, saya setuju dengan pendapatnya bahwa dengan memahami seni, kita dapat memahami orang lain. Seni di sini bisa dalam bentuk literatur, musik, sinema, atau segala bentuk karya seni lainnya. They reflect the passion, emotions, and capabilities that humans possess. Perasaan senang yang kita dapatkan saat mendengarkan lagu favorit, menonton film yang mengena ke hati, atau menghadiri eksibisi yang membuat kita terkagum-kagum merupakan little luxuries dalam hidup. And we all need that.