StrEIGHT from The Desk of: Madelaine Angelina

To be a follower or a pioneer?

 

Di sepanjang hidup saya, sering kali saya menemukan situasi di mana saya harus memilih dari kedua pilihan tersebut. Terkadang, pertanyaan itu sesederhana memilih tempat makan yang sedang viral, alih-alih mencari suatu tempat hidden gem yang benar-benar saya sukai. Di sisi yang lebih serius, itu bisa menjadi keputusan untuk memilih hidup childfree di masyarakat yang selalu menanyakan kapan Anda akan memiliki anak. 

Baru-baru ini, saya menemukan sebuah kutipan menarik dari serial “Celebrity” yang saya tonton di Netflix. “Setiap pilihan di dunia ini memiliki konsekuensi, tapi banyak orang yang hidup tanpa mengetahui hal itu.” Dalam sekilas, mengikuti orang lain merupakan opsi aman dengan risiko yang lebih minim. Orang-orang di sekitar kita juga akan lebih menerima keputusan itu. Not that they actually have anything to do with your decision, by the way. Namun, terkadang di tengah jalan, kita menyadari bahwa hasil dari keputusan tersebut bukan yang benar-benar kita inginkan dan butuhkan. Sometimes, what works for everyone else is not the one for you. 

Sementara itu, untuk memilih pilihan unik kita sendiri akan selalu menjadi opsi yang terkesan lebih berbahaya. Orang-orang di sekitar kita juga akan lebih mempertanyakan keputusan tersebut. And since it is the road less travelled, not many people know what the road has in store. Karena itulah, mungkin pilihan ini bukanlah pilihan yang populer. Tetapi, ada beberapa dari kita yang menemukan thrill tersendiri di pilihan yang tidak banyak dilirik oleh orang lain. Mungkin saya adalah salah satu dari mereka. 

Mari kita gunakan tren fashion sebagai contoh. Tidak semua tren akan cocok di semua orang. Mungkin untuk seseorang yang menggemari gaya ladylike yang elegan, tampilan sporty bertabur merek streetwear yang sedang trendi sebenarnya tidak sesuai dengan kepribadiannya. Of course, one can always experiment with different styles, but there are times where we end up regretting our style choices. “Mengapa dulu saya hanya mengikuti tren tanpa memikirkan apakah ini sesuatu yang memang cocok dengan saya, hanya karena orang-orang lain memilihnya?” Hal yang sama berlaku dalam keputusan-keputusan kita juga.

Kembali ke kutipan yang saya sebutkan di awal esai ini, memang benar bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensinya sendiri. Untuk dia yang berani menempuh jalannya sendiri, tentu perjalanan tersebut akan lebih lonely. But as they say, greater risks come with greater rewards and fortune favours the bold. Para trendsetter dan para pengikut – yang mana yang akan lebih mendapat perhatian? Jawabannya adalah tentu sang trendsetter. Untuk para pioneer yang berani menempuh jalan mereka sendiri, ada penghargaan istimewa menanti di dalam perjalanan mereka.⁠ And if they get lucky, mereka dapat melihat jalan yang telah dibuka, diikuti oleh orang lain. I am sure that must be a nice feeling.

Hal yang baru dan berbeda sering kali menjadi sesuatu yang repulsif, terutama di dunia yang berputar dengan konsep “followers” dan “following”. Untuk berpegang pada prinsip Anda yang mungkin tidak sama dengan prinsip orang-orang kebanyakan, membutuhkan keberanian tersendiri. Tetapi, bila pilihan unik tersebut tetap menjadi keputusan Anda setelah me-review hasil yang diinginkan dan menimbangnya dengan konsekuensi dan risiko yang ada, maka pilihan Anda patut dicoba. 

Our choices define who we are. Di begitu banyak keputusan untuk diambil di dunia ini, pilihlah yang paling cocok dengan kebutuhan dan keinginan Anda tanpa terlalu berfokus akan pendapat orang lain. If you are made to be a pioneer, why be a follower?