A personal definition of women empowerment.
Kolom “StrEIGHT from the Desk of” kali ini jatuh tepat di tanggal yang sama dengan International Women’s Day. On such a serendipitous date, I immediately know what I want to talk about for this month’s feature: women. Para perempuan yang mengagumkan, inspiratif, penuh kasih, dan mempunyai banyak kekuatan.
“Women empowerment” sudah menjadi buzzword yang kerap muncul di hari-hari kita. Media membicarakannya, podcast membahasnya, orang-orang mendiskusikannya. Seeing how much we talk about it, do we see actual progress in terms of women empowerment in the world we live in? It has to be beyond a trend, right?
Ketika Anda mengetik “women empowerment” di search engine, ada banyak definisi yang akan muncul. Secara umum, “pemberdayaan perempuan” dikaitkan dengan pemberian hak, pengakuan, dan kesempatan kepada perempuan. Pada tulisan di bawah ini, saya ingin menjabarkan definisi women empowerment menurut saya.

Dalam pengamatan saya, memang sudah ada pergerakan positif dalam pemberdayaan perempuan di dunia yang saya diami. Perempuan sudah dapat menempati posisi tertinggi di suatu perusahaan, bersinar dalam karir dan pencapaian pribadi mereka. Women have truly shown that they are formidable forces. This is already a good progress from the past.
Perempuan itu kuat. Itu adalah fakta tak terpungkiri yang saya saksikan sendiri. Mereka cerdas dan pandai bekerja. Mereka menemukan kesuksesan di kehidupan yang mereka pilih. Namun, mereka tetap penuh kasih sayang. Kelembutan tersebut merupakan salah satu sumber kekuatan mereka. Like gasoline, love powers up women to reach their dreams. “Love” di sini adalah passion di bidang pekerjaan yang mereka sukai, atau kasih sayang untuk memberikan semua yang mereka bisa untuk keluarganya.
Apakah Anda familiar dengan “Little Women”? Novel klasik karya Louisa May Alcott tersebut kerap mendapatkan adaptasi layar lebar dalam era-era berbeda. Menariknya, setiap film “Little Women” selalu berbeda dari yang sebelumnya, merefleksikan peran, kedudukan, ekspektasi, dan aspirasi perempuan di era di mana film tersebut dibuat. Dalam film Little Women terbaru yang disutradarai oleh Greta Gerwig, kita menyaksikan bagaimana masing-masing dari March bersaudara menempuh kehidupan yang mereka inginkan. Jalan yang berbeda-beda, dengan suka dukanya masing-masing, tetapi sesuai keinginan hati mereka. Ide tersebut tampil lebih menonjol daripada dalam adaptasi “Little Women” sebelum-sebelumnya.

Cerita Little Women memang berlatar belakang tahun 1800-an, tetapi ada hal yang tetap sama dari era tersebut dan era sekarang: women must fight harder to get what they want. Era women empowerment yang kita dapat alami dan nikmati hari ini merupakan hasil perjuangan dari perempuan-perempuan yang hadir sebelum kita. However, the fight is not over. Sementara itu, masih banyak perempuan di luar sana yang belum mendapatkan pengakuan dari lingkungannya, atau bahkan tak sadar akan potensi yang dimiliki dirinya sendiri. We still have a long way to go, but we will reach our goal faster when we, women, empower each other.
I believe that women should be able to forge their own destinies. Kehidupan yang mereka inginkan, mereka bisa dapatkan. Apa yang mereka inginkan akan mereka perjuangkan sampai mereka meraihnya. And other women should lift that up, not take that down. For me, that is (the true meaning of) women empowerment.
Happy International Women’s Day. Let’s fix each other’s crown, Queens!