The One where We Question the Wokeness in Our Screens.
Serial sitcom “Friends” mungkin bisa dibilang sebagai ‘the most popular TV show of all time’. Sejak penayangan pertamanya di tahun 1994, penonton dari berbagai bagian dunia telah menyaksikan kisah persahabatan Rachel, Monica, Phoebe, Ross, Chandler, dan Joey yang penuh tawa dan haru. Di era streaming, “Friends” telah menarik perhatian penonton dari generasi baru.
But no one told you life was gonna be this way. Generasi baru ini memberikan reaksi kurang manis terhadap cerita serta humor di serial tersebut. Beberapa mengutarakan bahwa candaannya sudah tidak pantas lagi di konteks masa sekarang, atau karakter-karakternya kurang inklusif. “There’s a whole generation of people, kids, who are now going back to episodes of Friends and find them offensive,” ujar Jennifer Aniston, pemeran karakter Rachel Green, dalam sebuah wawancara dengan Variety.
Mungkin sebagai respon dari para penonton yang menyuarakan ketidaksetujuannya tersebut, saya amati bahwa serial dan film yang tersedia di streaming sekarang memiliki “woke elements” yang dominan. Dalam kehidupan sang karakter utama, harus ada supporting character yang berasal dari latar belakang, seksualitas, atau ras yang bervariasi. Pada satu sisi, ini adalah kemajuan. Tetapi, terkadang saya juga merasa bahwa “representasi” yang dihidangkan di depan mata kita hanyalah pada surface level saja, supaya pihak-pihak “woke” tidak tersinggung ketika menontonnya.

Of course, representation in the media is very important. Sebagai seseorang yang berasal dari Asia, melihat karakter-karakter Asia menjadi tokoh utama di cerita unik mereka juga membuat saya senang. Mungkin 5 tahun lalu, kami bertepuk tangan melihat perkembangan dalam representasi para minoritas di media populer. But, we now live in an entirely different world. Lebih sinis, lebih sensitif, dan lebih kritis. Apakah intensi di baliknya murni untuk menghargai setiap insan seutuhnya, atau ada tujuan lain di balik “inklusivitas” ini? Does it come from a place of sincerity, or just a mere agenda to push?
Dari sudut pandang mereka yang memegang kendali akan media yang kami konsumsi, mungkin salah satu motivasi mereka adalah staying relevant. Mereka paham bahwa penonton di era sekarang sudah berbeda dari ketika “Friends” pertama kali mengudara di tahun 90an. Penonton-penonton masa kini memiliki keinginan dan sarana untuk menyuarakan pendapat mereka. Values-nya pun sudah berbeda. Jadi, agar media yang mereka miliki tetap relevan, maka film dan serial yang mereka produksi pun disesuaikan dengan kehidupan yang melingkupi audiensnya sekarang.
Salah satu skenario yang bisa kita amati adalah bagaimana cerita putri-putri di film Disney telah berubah dari era ke era. Di awal 1900-an, putri seperti Snow White, Sleeping Beauty, dan Cinderella mendapat ‘happy ending’ dengan menemukan pangeran mereka. Tetapi, di film 90-an seperti The Little Mermaid, Beauty and the Beast, dan Aladdin, mereka memiliki mimpi lain yang mereka kejar di luar pernikahan. Contohnya, Ariel yang ingin hidup seperti para manusia di daratan, atau Belle yang ingin kehidupan penuh petualangan di luar kesehariannya di pedesaan. Bahkan, di film-film Disney di tahun 2000a-n, seperti Frozen dan Raya and the Last Dragon, komponen ‘finding prince charming’ dihilangkan sepenuhnya dari kisah mereka. Di sini, Anda dapat melihat bagaimana film-film yang dihadirkan oleh studio yang sama telah berevolusi mengikuti zaman dan apa yang diharapkan dari seorang perempuan di era-era tersebut.

Menariknya, melalui agenda “woke” yang terdapat di film atau televisi sekarang, saya bisa melihat terjadinya power shift antara mereka yang menyediakan media, dan penonton yang mengkonsumsi konten tersebut. Di masa lalu, audiens hanya menonton apa yang disediakan di depan mereka, tetapi sekarang mereka dapat bersuara lebih dari sebelumnya. Para penonton dapat menolak apa yang disajikan di depan mereka dan menyampaikannya lewat media sosial.
More than ever, we now have a bigger control in the creations of films and serieses that will be presented to us. Pertanyaannya adalah, bagaimana kita menggunakan power yang kita miliki itu dengan bijaksana?