StrEIGHT from The Desk Of: Hessy Aurelia

Met Gala 2024

It’s already the 7th of May in Jakarta when I started to write this. Masih tanggal 6 Mei di New York, Amerika Serikat. Artinya, hari Senin pertama di bulan Mei – and that will only mean: It’s time for The Met Gala 2024!

Dari pagi, group chat The Editors Club sudah ramai. Gaun yang dikenakan Gigi Hadid menjadi favoritnya Senior Editor, Bio dan Tama sang Fashion Editor. Maddie, Editor kita, berdua dengan Andin, our Project Manager, rooting for Elle Fanning, pemeran Sleeping Beauty. Bagi saya pribadi, penampilan Harris Reed bersama Demi Moore menghadirkan senyuman kecil karena bisa membawa mood absurd “The Garden of Time”. Sebuah tema untuk tahun ini yang dibuat untuk membuka exhibition di Costume Institute dengan judul, “Sleeping Beauties: Reawakening Fashion.” However, this isn’t a Disney princess reimagining. Ini tentang menghormati dan menjaga pakaian yang sudah tidak mungkin dikenakan lagi karena sudah sangat rapuh dan hanya bisa berada di dalam lemari kaca yang “dihidupkan kembali” dengan bantuan teknologi.

Pada setiap Met Gala, saya selalu mencoba untuk mengingatkan diri bahwa ini merupakan acara penggalangan dana. Met Ball ini digelar untuk melestarikan Metropolitan Museum of Art’s Costume Institute di Manhattan. But oh boy, how they can turn boring “business” into a spectacular event and entertainment.

Pada awalnya, ketika pertama kali digelar di tahun 1948 hingga tahun 1971, acara ini tidak seperti yang kita lihat sekarang. Met Gala atau juga biasa disebut Met Ball diadakan di berbagai lokasi seperti Central Park atau Waldorf Astoria, dan dalam bentuk makan malam yang tiketnya dijual dengan harga $50 per orang. Sekarang, harga per tiketnya, dilaporkan oleh BBC, sekitar $75.000 atau 1,2 miliar rupiah per orang dan untuk company (per table) seharga $350.000 atau sekitar 5,6 miliar rupiah. Meskipun ini masih sangat jauh dari 271 triliun rupiah, tapi sungguh angka yang fantastis untuk berputar di dalam satu malam.

Bisnis di sini tak hanya berlaku untuk keberlangsungan museum saja, namun juga, untuk brand-brand besar yang menjadikan acara ini platform dan kesempatan untuk unjuk gigi. Dengan banyaknya penayangan di media sosial, jangkauan dan exposure Met Gala bersifat global, sehingga kemeriahannya tidak hanya menarik perhatian para tamu selebriti, namun juga mendorong para desainer, penata gaya, hotel, restoran dan segala jenis bisnis untuk lahan mencari keuntungan. Hebat.

 

But oh boy, how they can turn boring “business” into a spectacular event and entertainment.

 

Saya mengakui, sebagai orang kreatif yang memiliki tanggung jawab besar untuk memajukan sebuah perusahaan, kelihaian dalam menyeimbangkan idealisme dalam mencari uang, tidaklah mudah. Sementara, di Met Gala, Anna Wintour telah berhasil menemukan orang-orang yang tepat dan bisa diajak bekerjasama membungkus sebuah acara yang dapat membuat satu dunia berhenti untuk meyaksikannya. Tentu, Andrew Bolton, Head Curator of The Metropolitan Museum of Art, memegang peranan penting. He really is a genius. Saya selalu kagum dengan orang-orang yang bisa menciptakan magic.

Hal ini membuat saya berpikir, apakah acara seperti ini bisa diadopsi di negara kita? Ada berbagai macam elemen yang berkontribusi pada kesuksesan Met Gala. Pertama (dan mungkin merupakan pilar utama) adalah reputasi Vogue sendiri. It is a strong magnet for celebrities and brands. Masuk dalam radar Vogue berarti peningkatan credential. Di Met Gala, bahkan bukan hanya exposure Vogue yang didapat, tapi juga media-media besar berskala internasional.

The second factor is the event concept. Pose dan lenggok di tangga museum itu mungkin hanya sebagian kecil dari acara keseluruhan. Akan tetapi, itulah “pusat gravitasinya”. Di penggalan area itu, hanya nama-nama eksklusif yang berjalan. Di situ pulalah lahan tarung untuk predikat best dresses dan worst dresses yang akan disebarluaskan oleh media konvensional maupun platform kontemporer seperti Instagram.

Vogue adalah ahlinya soal seeing and being seen dan mereka mengkomodifikasinya untuk keperluan amal. Tapi kesuksesan Vogue membuat Met Gala telah melalui jalan panjang yang konsisten. Berbeda dengan dunia mode di tanah air. Untuk menjawab pertanyaan “apakah acara seperti itu bisa diadopsi di negara kita”, jawabannya: bisa. Tapi dengan catatan, industri fashion Indonesia perlu mencari jalannya sendiri. Bukankah yang terpenting adalah semangatnya yang perlu dibakar terlebih dahulu?

“Sleeping Beauties: Reawakening Fashion” yang menjadi tajuk pameran tahun ini semoga berjalan paralel dengan semangat fashion di negeri kita. Jika “reawakening fashion” mengandung arti menghidupkan kembali pakaian-pakaian yang sudah lapuk dan rapuh dari arsip MET, semoga di negeri kita, para insan fashion juga dapat menghembuskan napas dan kehidupan baru untuk fashion Indonesia!