StrEIGHT from The Desk of: Hessy Aurelia

It’s A Matter of Taste

Orangtua saya mengajarkan, ada dua hal di dalam hidup ini yang tidak dapat diperdebatkan, yaitu: agama dan selera. Selera tinggi versus “tidak punya selera”, bagus atau jelek, siapa yang lebih benar pendapatnya?

Setelah beberapa kali tema dari artikel StrEIGHT from The Desk of adalah sesuatu yang berbau serius, kali ini saya ingin mengajak Anda untuk berpikir lebih santai, membahas soal selera.

Ketika kita bilang, “seleranya norak” atau “rumahnya bagus, seleranya pasti tinggi”, pertanyaannya adalah, apakah selera bisa ada tolak ukurnya? Apakah bisa suatu hal yang melibatkan rasa dituang ke dalam tingkat-tingkatan? In my opinion, the answer is yes!

Untuk bisa berada di titik di mana selera seseorang didengar atau diperhitungkan, ada langkah konkrit yang bisa ditempuh. Mari mengambil contoh dari industri yang saya geluti: fashion dan lifestyle.

Dalam rangka menentukan what’s in or what’s out di dalam tren, tentu saja sekelompok fashion expert telah menyeburkan dirinya di dalam kolam pengetahuan. Dia belajar sejarah, dia tahu apa yang menjual, dia paham norma-norma, apa yang sedang hangat dibicarakan, topik yang sedang sensitif, termasuk juga culture and behaviour manusia pada saat tertentu. Dari sinilah terbentuk sebuah “selera fashion yang baik”. Dan sebaliknya, apa yang dull and tacky.

Orang-orang yang memiliki selera yang baik punya a nice sense of compostion. Soal estetika komposisi inilah yang sejak dulu dipelajari oleh para pelajar seni visual, musik, kuliner, arsitektur, desain interior, makeup, perfume, dan juga fashion. So yes, selera bisa diukur dan dipelajari sehingga bisa dinilai baik dan buruknya.

Namun, ada juga pemahaman lain tentang selera, yaitu ketika selera dijadikan preferensi. Ada yang suka makanan manis tapi ada yang lebih suka makanan yang asin. Ini tergantung dari selera masing-masing. Di sini kata “selera” bermakna “preferensi”, tidak bisa dilihat dengan sudut pandang ranking.

Bicara soal preferensi, akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan, yaitu soal quiet luxury. Menurut saya, pendapat yang bilang old money (atau orang kaya lama/OKL) itu suka dengan quiet luxury dan OKB (orang kaya baru) sukanya dengan yang nama brand-nya “berteriak” atau bling-bling, tidaklah tepat. Bagi saya, itu soal selera dan pilihan.

Bekerja di dunia fashion lebih dari 20 tahun dan berkesempatan hadir di acara-acara paling bergengsi di dunia memungkinkan saya untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang-orang yang berada di lapisan paling atas. Mereka adalah orang-orang paling kaya, paling sukses, paling keren, either yang sudah kaya dari tujuh turunan sebelumnya maupun yang baru saja kaya.

Dari apa yang saya lihat, rumusan bahwa OKL itu suka quiet luxury dan OKB suka loud luxury jelas tidak valid. Ada keluarga penguasa sejak zaman dahulu, memiliki yacht dengan interior full Versace lengkap berhiaskan medusa emas yang melingkar-lingkar. Sementara, ada orang baru kaya bersemangat untuk beli sepatu Loro Piana atau tas dari The Row yang tidak “berteriak” sama sekali. So, again, it’s a matter of taste.

Pada intinya, selera bisa diukur, as in taste, tapi tidak dapat diperdebatkan, as in preference.

Jadi sebaiknya jangan galau hanya gara-gara lihat gaya Gwyneth Paltrow waktu bolak-balik ke pengadilan dengan baju tanpa logo, atau film Succession yang sangat menjunjung tinggi soal quiet luxury (that’s one of my favorite series, btw). Apalagi kalau kalian salah follow orang di Instagram. Those tacky people yang kebetulan suka pamer baju bermerek, tidak dapat mengukuhkan bahwa loud luxury hanyalah untuk OKB. Mereka hanya sebagian kecil dari orang berduit yang tak bisa dijadikan patokan. Jadi jangan salahkan loud luxury-nya, tapi mungkin, coba atur ulang siapa following Anda.