Seni Melepas, Seni Memulai.
Because balance only exists when both sides are allowed to be.
Rasanya memang tepat untuk menulis tentang makna kehilangan dan semangat menemukan kembali sesuatu yang baru, sebagai penutup tahun ini. Banyak orang merasa 2025 bukanlah tahun terbaik mereka. Katanya, karena tahun 2025 dilambangkan oleh shio ular, binatang yang dapat berganti kulit, yang sering dimaknai sebagai proses yang menyakitkan. Angkanya pun, jika dijumlah, menjadi sembilan: akhir dari sebuah siklus. Sementara 2026 nanti akan dilambangkan oleh kuda, simbol keanggunan, kecepatan, dan kebebasan. Angkanya, jika dijumlah, menjadi satu: awal yang baru.
Tak dapat saya pungkiri, tahun ini bukan tahun yang mudah. Tahun di mana saya dipaksa berpikir lebih keras dan mengurangi rasa ketika bertindak. Namun tentu, di dalam prosesnya, semangat di dalam diri tak pernah redup. Fall down seven times, get up eight. Right? 😉

Setiap Desember, saya selalu merasakan harapan baru di tahun mendatang. Saya juga bertanya pada diri sendiri: What do we let go, and what do we carry forward? Kini saya mengerti bahwa hidup berjalan dalam konsep dualitas. Hidup selalu hadir berpasangan: kehilangan-menemukan, sedih-gembira, takut-lega, penutup-awal. Tanpa salah satunya, kita tak akan mampu merasakan yang lain. Seperti cahaya yang butuh bayangan untuk terlihat. And in my case, seperti orang yang kuat yang tetap memerlukan sandaran agar tidak collapsed.
Jujur saja, hari-hari yang sibuk membuat saya jarang punya waktu untuk benar-benar berefleksi. Begitu bangun, kepala sudah penuh. Kerjaan, family, self-care, dan kebutuhan jasmani-rohani menyita hampir seluruh hari. Malam tentu untuk snuggle with loved ones dan tidur lebih cepat hanya untuk bangun lagi dan mengulang siklus yang sama. Baru ketika menulis artikel ini saya tersadar: yang paling saya syukuri tahun ini adalah fakta bahwa I am a so much better self now. Saya tahu ke mana saya ingin pergi, dengan siapa saya ingin meluangkan waktu, engage di conversation apa, dan merencanakan what’s next dengan siapa.

Dengan mengedit hidup kita, mengurasi isinya, saya menemukan kebahagiaan di dalam hal-hal kecil setiap hari. Pelukan erat suami di pagi hari, cerita keseharian anak di meja makan, cekikikan dan tawa canda bersama Ibu di sela makan siang, serta uraian kata-kata hangat di WhatsApp group keluarga dan sahabat yang senantiasa mengingatkan, betapa indahnya hidup yang saya jalankan. Penemuan-penemuan kecil itu adalah self-worth, boundaries, small joys, and peace.
Namun, di tengah rasa syukur yang mendalam itu, saya tiba-tiba dikejutkan oleh kabar kehilangan salah satu teman baik saya di awal bulan ini. Konsep dualitas pun kembali hadir. Inilah saatnya kita belajar ikhlas, bukan memaksa diri untuk tidak merasa, tetapi memberi ruang pada perasaan untuk lewat. Di sinilah manusia diajarkan untuk tetap optimis di tengah ketidakpastian. Bahwa ada a greater power. Bahwa ada masa ketika kita harus berserah, namun tetap berharap. Hope is a quiet rebellion, a refusal to let life harden us.

Tahun baru bukan hanya tentang “baru”, tapi tentang ritme antara memegang dan melepas. May the new year be gentle. May it gives us what we need: not too much, not too little. Enough to keep us growing, enough to keep us grateful.