StrEIGHT from The Desk of: Hessy Aurelia

Should We Ever Forgive?

Memaafkan itu sebenarnya untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Or, is it?

Semenjak kecil, kita selalu diajarkan untuk memaafkan orang yang berbuat salah kepada kita. Kalau ada yang jahat pun, kita diharapkan untuk memaafkannya. Mungkin dulu kita belum paham, tapi sudah menjadi template hidup anak kecil: lebih baik menurut saja akan semua nasihat yang diberikan. Setelah besar, kita pun mulai menggali ajaran tersebut. Apa benar?

Sudah sewajarnya, manusia hidup tak ada yang sama. Apa yang works untuk seseorang, belum tentu bekerja dengan proses dan hasil yang sama pada orang yang lain. Saya berpikir, tiap orang pasti memiliki limitnya sendiri. Memiliki batasan dan keikhlasan yang berbeda-beda takarannya. Saya pun yakin, dalam hidup, kita perlu mendengar pengalaman orang lain untuk dijadikan referensi atau sebagai bahan pertimbangan. But the decision must based on our own guts. Terdengar egois, tapi tidak hipokrit.

Lalu, kita mulai mendengar dan memahami arti kalimat “memaafkan itu sebenarnya untuk diri sendiri, bukan untuk sang lawan di seberang.” “Maafkanlah ia, maka hidupmu akan menjadi lebih ringan.” Yakin?

Pasti banyak memang yang menyukai hidup ringan, damai dan tenang. Tapi, ada orang yang perlu rasa “berat” itu sebagai amarah yang mampu menjadi bensin dalam meroketkan hidupnya. In this case, they dont forgive, they move on. 

Memaafkan tak bisa dipungkiri merupakan sebuah gestur yang sangat indah. Karena pada hakikatnya, manusia pasti pernah berbuat salah.

Tapi pada intinya, cari tahu dahulu apa yang membuat hatimu lebih tenang dan pikiran makin terang. Apa yang bikin hidupmu lebih maju dan jiwamu lebih sejuk.