StrEIGHT from The Desk of: Bio In God Bless

Smart in Using Social Media.

 

Sebuah artikel Wall Street Journal pada tahun 2021 sempat menghebohkan publik karena mengungkap riset internal dari Meta (dulu Facebook), induk dari Instagram. Intinya: mereka tahu platform ini bisa berdampak negatif.

Hasil riset tersebut antara lain menyebut bahwa Instagram bisa memperburuk body image, membuat pengguna merasa lebih buruk saat sedang tidak percaya diri, bahkan berkaitan dengan meningkatnya anxiety serta depresi.

Dari temuan ini, ada dua hal penting. Pertama, setidaknya perusahaan teknologi melakukan riset terhadap dampak sosial dari produk mereka, which we should appreciate. Kedua, hasil tersebut menjadi alarm keras bahwa media sosial harus terus berbenah. Tapi mari kita jujur, tanggung jawab ini tidak hanya ada di pihak mereka. Kita sebagai pengguna juga perlu cerdas dan kritis. Inilah yang disebut digital intelligence.

Menurut saya, penting sekali bagi semua pengguna untuk benar-benar memahami apa itu media sosial seperti Instagram dan TikTok. Mereka bukan hadir untuk “menghubungkan dunia” semata, tapi untuk menghasilkan keuntungan dari engagement para penggunanya. Semakin lama kita berinteraksi dengan konten, semakin tinggi nilainya bagi para pengiklan. Itulah kenapa algoritma menjadi senjata utama mereka. It’s indeed a business, dear!

Sistem algoritma bertugas membaca minat kita, lalu menyajikan lebih banyak konten serupa. Kedengarannya sederhana, tapi bisa berbahaya. Misalnya, eksperimen Wall Street Journal dengan bot users di TikTok menunjukkan bahwa hanya dalam waktu kurang dari 40 menit, algoritma sudah mampu mendeteksi minat (termasuk minat terhadap konten depresif) dan membanjiri akun tersebut dengan konten serupa, tanpa filter apakah itu sehat atau justru membahayakan.

Mengetahui cara kerja social media platforms tersebut menyadarkan, bahwa kita tidak bisa terus-terusan menjadi pengguna pasif. Kita harus lebih bijak dan punya kendali lebih kuat. Misalnya, menyadari kapan waktu terbaik untuk detoks digital. Atau saat Explore Instagram dan FYP TikTok mulai terasa toxic, kita bisa dengan sengaja mencari jenis konten berbeda agar algoritma pun ikut menyesuaikan. In other words, outsmarting the system.

Tak kalah penting ialah untuk bisa mengambil “jarak” dari unggahan-unggahan yang kita lihat di media sosial. Gunanya untuk berefleksi tentang apa yang sebenarnya valuable dalam hidup, apa sejatinya kebahagiaan, dan apakah sebuah tren layak untuk diikuti. Kekritisan semacam itu mencegah kita untuk menjadi korban fear-of-missing-out (FOMO), merasa memiliki low-quality life, insecure karena kurang tervalidasi, dan sebagainya. Tentu, ini juga menjadi tanggung jawab besar bagi para orang tua di era digital ini.

Sebagai penutup, saya percaya media sosial adalah salah satu penemuan hebat di era modern. Manfaatnya sangat besar bila digunakan dengan benar. Mulai dari mendapat pengetahuan baru, memperluas network, berwirausaha, atau juga menyegarkan pikiran dengan konten-konten “nyeleneh”. Media sosial bahkan bisa menjadi alat untuk meningkatkan kesadaran publik akan isu krusial serta menggalang pergerakan sosial untuk perubahan bermakna.

As you might already heard: Use social media, but don’t let it use you.