StrEIGHT from The Desk of: Bio In God Bless

Will AI end plagiarism?

 

I don’t think anybody steals anything; all of us borrow.” Kalimat ini terlontar dari B.B. King, sosok legendaris dunia musik yang dikenal akan kehebatannya sebagai blues guitarist. Setujukah Anda dengan apa yang disampaikan oleh African-American musician tersebut? Menurut saya pribadi, untuk saat ini tampaknya tak ada satu karya pun yang murni orisinal. Semua adalah jalinan referensi. Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa plagiarisme adalah konsep kosong. It’s a real thing, at least for certain types of cases.

Memang faktanya, pelik untuk menentukan batas tegas dari definisi plagiarisme. Sebuah karya adalah perwujudan ide yang terdiri dari rangkaian elemen-elemen. Seberapa banyak jumlah elemen dari sebuah karya yang diambil untuk proses pembuatan karya baru akan menentukan sulit mudahnya menyatakan karya baru tersebut sebagai karya plagiat. Semakin banyak elemen yang diambil, maka akan semakin mudah putusan plagiarisme dijatuhkan. Begitupun sebaliknya. Tingkat tertingginya adalah ketika sebuah karya disebut persis atau plek-ketiplek dengan karya lainnya.

Di tulisan ini, saya tidak akan masuk ke wacana definisi plagiarisme yang rumit. Yang lebih menarik perhatian saya adalah bagaimana perkembangan teknologi terjalin dengan isu plagiarisme. Tak dapat dipungkiri bahwa berkembangnya teknologi informasi secara pesat, yang memungkinkan berbagai data dan referensi diakses lebih mudah, kian membuka lebar godaan plagiarisme. Begitu juga dengan teknologi-teknologi dunia kreatif yang mempermudah seseorang untuk menduplikasi sebuah karya. Akan tetapi, dengan kehebatan teknologi informasi dan komunikasi pula, perbincangan akan tuduhan plagiarisme termultiplikasi.

Kini, kecanggihan teknologi Artificial Intelligence (AI) menandai fase baru dari fenomena plagiarisme. Berbagai software pendeteksi karya plagiat telah diciptakan. Lantas, akankah plagiarisme berakhir di tangan AI? Dalam pandangan saya, apa yang mampu dilakukan AI dapat menjadi faktor kuat untuk mendorong tibanya masa the end of plagiarism. Sayangnya, hal itu mungkin terjadi bukan semata karena AI pendeteksi plagiarisme akan semakin mumpuni. Akan tetapi, bahwa teknologi itu juga akan super lihai dalam mengambil potongan-potongan sebuah karya lama untuk diramu sedemikian rupa jadi karya baru hingga tak nampak sebagai jiplakan.

Saya sebut “sayangnya’, karena hal tersebut memfasilitasi akar esensial dari plagiarisme. Yakni tindakan mengklaim suatu ciptaan sebagai hasil daya kreatif sendiri, padahal sesungguhnya buah kreatifitas pihak lain. Satu contoh kasus nyatanya terjadi di ajang Sony World Photography Award 2023. Seperti diberitakan BBC, Boris Eldagsen memenangkan kompetisi itu dengan karya berjudul “Pseudomnesia: The Electrician”. Karya itu menampilkan dua sosok perempuan dalam format hitam-putih. Eldagsen secara terbuka menolak kemenangan tersebut dan mengungkap bahwa karya tersebut sepenuhnya hasil kerja AI. Ini jelas berbeda dengan pemanfaatan AI sebagai “teman” disikusi atau kolaborasi kreatif.

Dengan AI, seseorang tak perlu lagi “bersusah-payah” menghasilkan sebuah karya yang bagus lewat jalan pintas menjiplak. Semakin canggih perkembangan AI, semakin hebat pula hal itu memformulasi dan mengkonstruksi karya-karya menawan tanpa terlihat sebagai copycat dan tanpa kontribusi daya kreatif dari manusia yang memanfaatkannya. The logic: kalau bisa buat karya keren yang tak terlihat sebagai jiplakan, dan tak perlu kerja keras otak, untuk apa melakukan plagiarisme yang punya risiko besar?

So, will AI really end plagiarism? Meskipun menurut saya AI memang dapat mendorong tercapainya kematian plagiarisme, saya masih sangat ragu untuk menyatakan bahwa plagiarisme akan benar-benar ditinggalkan dengan hadirnya teknologi tersebut. Hal ini berkenaan dengan alasan dilakukannya tindak tersebut yang tak sepenuhnya tentang gol kreatif. Di era komersialisasi, wilayah kreatif bersinggungan erat dengan hasrat menghasilkan profit. Ketika seseorang memutuskan untuk membuat karya plagiat, alasannya mungkin bukan karena ia melihat karya lain bagus dan ingin mengimitasinya, ataupun karena ia tak cukup kreatif untuk menghasilkan karya berkualitas setara. Akan tetapi, hal itu dilakukannya karena ia sudah melihat “performa” karya tersebut untuk disukai dan laris di pasar. Sehingga ia tertarik untuk mengecap kesuksesan tersebut.

Apapun alasannya, tak bisa dibenarkan untuk mengklaim sebuah hal sebagai buatan sendiri padahal merupakan sebuah hasil duplikasi. Sama tak etisnya juga untuk menyatakan sebuah karya sebagai buah jerih payah sendiri padahal sepenuhnya hasil kerja AI. Di sini saya tekankan kata “sepenuhnya”. Teknologi akan terus berkembang dan wacana mengenai plagiarisme maupun AI generated works juga akan semakin kompleks dengan segala layers di dalamnya. Akan tetapi, di balik itu semua, saya pikir pada dasarnya teknologi seharusnya digunakan untuk mengasah kreatifitas seseorang, bukan malah menumpulkannya.