Seeing “Substance” Beyond Beauty
Untuk saya pribadi, “Substance” adalah movie of the year. Film ini bercerita tentang Elizabeth Sparkle, yang diperankan oleh Demi Moore, yang memutuskan untuk menyuntikkan sebuah substance ke dalam tubuhnya demi tetap muda. Setelahnya, sesosok perempuan muda keluar dari tubuhnya. She is Sue. Dalam perjalanan film ini, diceritakan Sparkle harus hidup secara silih ganti dengan Sue yang diperankan Margaret Qualley untuk kembali merasakan masa mudanya. Imajinasi cerita yang kuat berpadu estetika elemen perfilman yang powerful memang berhasil menyulut kritisisme pikiran mengenai isu-isu terkait.
Pokok masalah yang menjadi sumber pengembangan narasi film ini adalah tema klasik dan bisa ditelusuri ke berbagai fiksi lampau. Mother Gothel di animasi Rapunzel versi Disney menjaga kemudaannya dengan rambut sang Putri. Dalam novel “The Picture of Dorian Gray” (1891) karya Oscar Wilde, tokoh utamanya menjual jiwa kepada kekuatan kegelapan untuk tetap bisa awet muda, sementara proses penuannya dialihkan ke lukisan dirinya. Legenda fountain of youth ataupun elixir of life bisa di temukan di peradaban-peradaban kuno di seluruh penjuru Bumi.

It seems that today’s beauty industry is still heavily driven by and enforces the desire to be forever young – and this is a serious issue. Sebagaimana terkandung dalam film, faktor penyebab dan efek yang timbul dari isu living youthfully ever after tersebut saling terjalin dalam realita yang kompleks. Aspek-aspeknya mencakup pemaknaan kecantikan, basis kepercayaan diri yang hakiki, self-acceptance serta rasa syukur, relasi kapitalisme patriarkis dengan problem feminisme, hingga etika dunia medis dan filosofi kloning.
Akan tetapi, di sini saya ingin menyajikan satu perspektif lain yang tampaknya tak kalah penting untuk direnungkan. Setelah merefleksikan film tersebut untuk sekian lama, saya sampai pada sebuah interpretasi ekologis terhadap karya sutradara Coralie Fargeat tersebut. Saya melihat relasi Sue dengan Sparkle layaknya hubungan manusia dan alam. Sebagaimana Sue yang muncul dari tubuh Sparkle, manusia juga keluar dari alam. Seperti eksistensi Sue yang bergantung pada Sparkle, hidup manusia pun memiliki dependensi akan alamnya.

Now, here comes the tragic part. Sue bukannya tak paham bahwa tubuhnya tidak dapat survive tanpa konsumsi cukup atas sari pati Sparkle. Akan tetapi, ia begitu terbuai sampai terbutakan oleh keglamoran dangkal, ingenuine admiration serta kepuasan duniawi. Akibatnya adalah eksploitasi kompulsif terhadap tubuh Sparkle agar bisa terus menikmati segala superficial pleasures tersebut. Cerminan sikap manusia terhadap alam pun demikian. Segala manfaat alam dikeruk tanpa kontrol bijak demi penikmatan yang abai terhadap prinsip ketergantungan manusia akan alamnya. Tak ubahnya Sue yang menganggap hidupnya mulus menanjak tinggi, padahal sesungguhnya ia berada di jalur self-destruction; manusia modern menilai peradabannya bergerak progresif, walau sesungguhnya merupakan suicidal civilization.
Mendahulukan apa yang memberi kepuasan adalah sebuah konsep yang dikenal sebagai hedonisme. Berasal dari bahasa Yunani “hedone”, kata tersebut juga menjadi nama dari Goddess of Pleasure di Greek mythology. Siapa yang bisa memungkiri bahwa kesenangan itu memang nikmat untuk dirasakan? Akan tetapi, mengorbankan apa yang valuable semata demi yang pleasurable, ini yang disebut dengan ignorant indulgence. Jika kesadaran kolektif masyarakat tak mampu terbangun untuk mengubah bagaimana peradaban berkembang, dapat dipastikan nasibnya akan serupa dengan tragedi seorang Sue.

Dalam film “Substance” dikisahkan bahwa sebenarnya Sparkle punya kendali penuh untuk menghentikan hidup Sue. Ia dapat melanjutkan hidup secara normal tanpa sang kloningan, dengan catatan kondisi dirinya yang sudah dirusak Sue tak bisa dipulihkan. Layaknya Sparkle, alam juga akan terus bereksistensi ketika manusia musnah sekalipun. Bahkan lebih hebat lagi, dalam degree tertentu, nature has its own “self-healing” mechanism. Ketika peradaban manusia punah, bagian alam yang rusak oleh karena ulah manusia bisa mengalami proses restorasi kembali. Untuk contoh sederhana, tengok ke masa lockdown akibat pandemi Covid-19. Laporan PBB menyebut kualitas udara membaik di kala itu.
Waktu terus berdetik. Kita berpacu antara desakan memperkuat kesadaran ekologis secara luas, dan dampak kerusakan lingkungan yang terus berlanjut, terutama akibat simbiosis para penguasa dengan pemain-pemain industrial yang sama maruk dan lalimnya. Aksi-aksi keseharian untuk bergaya hidup lebih “hijau” layak terus diperjuangkan. Mungkin dengan perubahan eco-living secara masif pada masyarakat, haluan industri juga akan masal berubah mengikuti demand yang muncul. Dari dunia fashion, kutipan berikut ini bisa menjadi salah satu wisdom perihal membangun kehidupan personal yang lebih ramah lingkungan.
“Buy less, choose well, make it last.”
Vivienne Westwood