A Thought About Futuristic Friendship.
It is as if we were living in a science fiction. Ini yang saya rasakan ketika pikiran menoleh ke belakang dan mengenang bagaimana teknologi berkembang seiring saya bertambah usia.
Saya lahir di akhir dekade 80’an. Beberapa teman SMP saya pada era 90’an sudah punya handphone di tingkat akhir. Meskipun ponsel teman-teman saya bukan yang sistem dibuka-lipat dan tak lagi berantena, tapi tetap tergolong sederhana secara teknologi. HP serba mono: layar monochromatic dan nada dering monophonic. Sementara saya pribadi baru dibelikan telepon genggam oleh orangtua saat menginjak kelas 2 SMA di tahun 2000’an awal. Satu hal yang bikin saya sangat ingin punya alat komunikasi itu adalah fitur kameranya. Tipe candy bar berlayar cukup lebar dengan bentuk bawah setengah bundar dan keypad melingkar – if you know, you know.
Sejauh ingatan saya, from that point onward, teknologi komunikasi meledak, begitu juga dengan teknologi digital, utamanya internet. Terlebih, dari fenomena itu terlihat bahwa dampak teknologi bukan sekadar tentang bagaimana alat-alat tersebut mempermudah hidup manusia, tapi juga membentuk sebuah realita baru dalam berkehidupan. Kultur selfie terkukuhkan oleh perkawinan dunia komunikasi dan area visual digital. Melalui kehadiran virtual social networking platform, aset-aset foto digital bersama username dan profile description menjadi identitas baru kita yang punya impact sangat besar pada bagaimana kita bereksistensi.

The technology interferes in how people see us and most importantly how we see ourselves. Persoalan social approval hingga self-worth terjalin dengan seberapa banyak followers, jumlah likes, verified atau tidaknya sebuah akun, dan sebagainya. Platform sosial di ranah virtual juga memengaruhi cara kita berelasi antar sesama, baik itu dengan orang baru atau yang sudah kita kenal sebelumnya. Ajukan friend request atau tidak, accept or reject friend request, jadi private or public account, following seseorang tapi story di-mute, bikin close friend list, punya first account dan second account (bahkan ada yang lebih), remove friend or block – oops, restrict message request, turn comments off, bikin group chat baru tanpa si ini dan itu, left the group, etc…
Saya tidak sedang judging apakah itu semua buruk atau baik – it’s too complicated to analyse. Poinnya adalah, mode berelasi antar manusia jadi semakin kompleks dengan terbangunnya realita maya tersebut, and so does the psychological impacts.
Kini yang tengah naik daun dan menjadi buah bibir hangat adalah the rise of Artificial Intelligence. Ini pun akhirnya bersentuhan juga dengan urusan companionship. Banyak orang sudah memanfaatkan ChatGPT dari OpenAI bukan cuma untuk cari informasi, membantu membuat proposal atau hal lainnya, tapi juga untuk menjadi teman berbincang. Hal semacam ini tentu saja bukan datang tanpa risiko. Sebagai contoh, seorang laki-laki di Belgia mengakhiri nyawanya sendiri setelah berinteraksi dengan sebuah AI chatbot bernama Chai. Selain itu, chatbot Sydney yang dikembangkan Microsoft Bing pernah menyuruh seorang laki-laki yang berinteraksi dengannya untuk mengakhiri pernikahannya.

Hal-hal seperti itu rasanya semakin membawa kita pada sebuah realita dystopian tentang masa depan yang futurstik namun kelam. Think about episodes of “Black Mirror” or film “M3GAN”. Akan tetapi, saya yakin bahwa pengembangan teknologi pertemanan ala AI akan ditujukan ke arah yang lebih aman dan ramah. Pertanyaannya, sejauh apa “keramahannya”?
Suatu waktu saya menonton sebuah film fiksi ilmiah dari Jerman berjudul “I’m Your Man”. Film itu berkisah tentang uji coba robot-robot sebagai pendamping hidup bagi para single. Wujud robotnya natural seperti lazimnya manusia meskipun memang tindak-tanduknya tetap terasa robotik. Masing-masing robot itu diprogram sangat personalized untuk membahagiakan si penggunanya. Setiap hal yang dilakukan dan yang dibicarakan oleh sang robot ditujukan agar teman manusianya senang. I won’t continue sharing the story. Saya menyarankan Anda untuk menontonnya sendiri. Bagi saya, it’s 7.5 out of 10.
Dari film itu, satu hal yang jadi bahan refleksi adalah apakah robot yang selalu membahagiakan teman manusianya adalah sebuah kebaikan? Langsung terbersit di benak saya, risiko seseorang menjadi self-centered, egocentric, full of themeselves, dengan kepekaan sosial maupun kemampuan interpersonal yang semakin kecil.
“Apa jadinya bila kita secara mentah-mentah mengartikan dan menerapkan masukan ‘jangan dengarkan kata orang’? If we literally did that, we’re feeding our ego. ”
Akan tetapi, kalau dipikir-pikir lagi, ini bukan persoalan baru di wilayah pertemanan atau relasi sosial secara umum. At times, we only hear what we want to hear. Kita bisa dengan mudah menuduh seseorang fake karena suka bermanis-manis di depan, tapi giliran ada yang straight forward menyampaikan kritik atau komplain, kita langsung tersinggung. Lalu kita bersembunyi di balik kalimat “Tak perlu mendengarkan orang lain”, “What matters most is your happiness”, dan sebagainya.
Saya mengerti kalimat-kalimat tersebut adalah kalimat yang baik. Fungsinya adalah menjadi safety net saat kita berada di tengah “badai” yang bisa mengancam diri kita. Yang jadi masalah adalah ketika kalimat-kalimat itu digunakan secara out of context. Dijadikan tameng bagi pelarian diri akan tanggung jawab moral untuk bisa melihat diri sendiri secara kritis dan reflektif – apalagi ketika kita melakukan sebuah kesalahan. Bagaimana bisa dibenarkan secara moral ketika kita kerap melakukan kesalahan, lalu dengan ringannya berkata, “This is me, I am like this, you can’t judge me”. Jelas ini adalah sebuah bentuk pelarian dari kewajiban etis untuk mengevaluasi diri, mengakui bila memang melakukan kesalahan, dan memperbaikinya.
Singkatnya, kita kadang secara semena-mena memakai wejangan-wejangan positivity secara selfish untuk sekadar “membenarkan” sikap kita dan tak mau melakukan introspeksi diri. Kemampuan self-criticism yang kita miliki sengaja kita shut-down karena tak mau terusik dengan rasa tak nyaman. Emotional intelligence untuk merasa bersalah sengaja kita timbun dengan kalimat-kalimat encouragement yang didistorsi makna aslinya karena kita tak mau terbebani dengan perasaan kegundahan.

Apa jadinya bila kita secara mentah-mentah mengartikan dan menerapkan masukan “jangan dengarkan kata orang”? If we literally did that, we’re feeding our ego. Ini justru bisa berbahaya bagi diri kita sendiri, membuat kita jadi orang yang tak improve atau bahkan downgraded.
Manusia dianugerahi kemampuan rasional yang hebat untuk bisa berkontemplasi akan perjalanan hidupnya, melihat hal baik dan hal buruk yang sudah dilakukannya, memikirkan bagaimana cara memperbaiki diri. Begitu juga dengan kecerdasan emosional feeling of guilt yang bisa menjadi kendaraan kita untuk bisa berbenah diri dan bahkan level up. Rasa-rasa tak nyaman atau terbebani akan hal-hal buruk yang kita lakukan adalah mekanisme alamiah agar kita aware akan apa yang harusnya kita lakukan dan tidak lakukan. Saya rasa, manusia dewasa dengan banyak pengalaman hidup sadar bahwa tidak semua yang menyakitkan itu berdampak buruk. Ada kepahitan-kepahitan yang berguna bagi pembelajaran kita. Sebaliknya, tak semua yang memberi kesenangan itu baik bagi kita.
Tentu saja saya pun setuju bahwa manusia punya kerentanan akan overthinking, self-blaming, dan hal-hal negatif lainnya. Ini ranah para ahli psikologi untuk bisa memberi edukasi tentang bagaimana caranya meramu mentalitas dan sikap secara bijak untuk merespon berbagai hal, baik yang negatif maupun yang positif. Pesan esensial yang ingin saya sampaikan lewat tulisan ini adalah bahwa jangan sampai kita menjadi pribadi yang anti introspeksi dan hanya mau mendengar apa yang ego kita ingin dengar, berlindung di balik kalimat positif untuk berhenti memperbaiki diri.

Balik ke sci-fi tentang robot, rasanya teman AI paling ideal bagi saya adalah yang seperti Doraemon. Punya kantong “ajaib” berisi berbagai alat canggih seperti Baling-Baling Bambu atau Pintu Ke Mana Saja. Akan tetapi, lebih substansial dari itu adalah ia tak hanya bisa mengapresiasi saat saya melakukan hal baik, tapi juga secara caring dan genuine mengingatkan ketika saya melakukan kesalahan. Is this something that Elon Musk would ever create?