StrEIGHT from The Desk of: Bio In God Bless

From Inspirations to Aspirations.

 

Saya bersyukur bahwa pekerjaan saya sebagai seorang jurnalis memungkinkan saya untuk mengenal figur-figur dari berbagai bidang, baik lewat pertemuan secara langsung maupun melalui tilikan literatur di buku atau sumber informasi jagad maya. Selalu ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tiap individu yang saya gali kisah hidupnya.

Secara spesifik, saya sangat excited ketika mendengar atau membaca cerita-cerita hidup seseorang yang mampu meraih kesuksesan di luxury world dari titik nol. Ada beberapa hal yang bisa saya sebut terkait alasan di balik hal itu. Pertama, saya passionate dengan wilayah itu. Kedua, kisah-kisah sukses tersebut menunjukkan sebuah transformasi luar biasa layaknya dongeng – and I am fascinated by fairytales since I was a kid. Yang ketiga adalah karena those stories speak to my life as I, my self, don’t come from a “pond of privileges” either.

Salah satu contohnya adalah kisah Louis Vuitton, sebuah nama yang kini identik dengan monogram prestisius. Ia lahir pada tahun 1821 di sebuah desa kecil di bagian timur Prancis. Orang tuanya meninggal ketika dirinya masih kecil dan hubungannya dengan ibu tirinya tidak baik. Vuitton meninggalkan rumah di usia 13 tahun dan hanya mampu berjalan kaki untuk bisa pergi ke Paris. Butuh waktu 2 tahun dalam menempuh perjalanan ratusan mil itu. Sepanjang perjalanan, ia melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana. Singkat cerita, dengan keahlian yang didapat dari pengalamannya bekerja selama belasan tahun untuk atelier Monsieur Maréchal, ia pun berhasil mendirikan usaha boks penyimpanannya sendiri. Dari sinilah cerita suksesnya ia ukir lewat berbagai inovasi.

Di Inggris ada kisah Henry Royce yang juga menginspirasi. Salah satu pendiri Rolls-Royce itu sudah bekerja sejak usia 9 tahun. Beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh sosok asal Peterborough kelahiran tahun 1863 itu adalah penjual koran dan telegram boy. Pada usia 14 tahun, bibinya membiayainya untuk ikut apprenticeship di Great Northern Railway Works. Berbekal pembelajaran di bawah bimbingan engineer hebat dan ketekunannya belajar aljabar, Bahasa Prancis, serta electrical engineering, ia berhasil membangun karir ke tahap yang tinggi dan bertemu dengan Charles Rolls hingga berbuah pada bisnis mobil yang dikenal sebagai label otomotif termewah di dunia.

Kisah-kisah itu menggugah hati saya untuk menggarisbawahi bahwa struggles bisa diatasi dengan willingness dan effort yang sungguh-sungguh. Meskipun demikian, saya juga bisa melihat bahwa setiap perjalanan meraih mimpi memiliki keunikan ceritanya sendiri. Sejauh apa usaha itu akan membawa kita bukanlah poin utamanya. Karena pada hakikatnya, nilai sukses seseorang tak dapat diukur semata-mata hanya dari level pencapaiannya (dari seberapa banyak uang yang diraih, setinggi apa jabatan yang dicapai, atau setenar apa seseorang dikenal).

From my point of view, yang lebih bernilai adalah proses dan pembelajaran yang didapat selama journey tersebut. Sedikit catatan tambahan, dalam menjalani proses itu, tak perlu juga terusik oleh kegundahan membara untuk membuktikan diri kepada orang lain. It might becomes a fuel to drive us but it definitely burns us from the inside.

At the base, rasanya penting untuk memiliki positive perspective tentang segala perjuangan yang kita lakukan dalam hidup. Sebuah kerangka pandang bahwa di semua hal yang kita alami selalu ada sisi-sisi positif untuk dilihat. Maksudnya tentu bukan untuk mengabaikan bad experiences atau bad emotions yang kita rasakan, tapi justru guna menjadi bantalan bagi kita di kala adanya gelombang.

Pandangan saya ini dibuat dengan pendekatan psikologis, dan tak bersangkut paut dengan sisi spiritual ataupun religi. Mungkin dalam melihat kehidupan, ada yang percaya bahwa “rezeki dan persoalan sudah ada yang atur” atau “Tuhan selalu punya maksud baik dan rencana indah di balik semua problem dalam hidup”. Benarkah demkian? Saya biarkan ini untuk dijawab di ruang batin personal tiap-tiap orang.