A Contemplation about Career and Competition.
Cukup refreshing memang melihat video-video lucu di Instagram atau Tiktok saat sedang lowong. Materi candaannya macam-macam, dari yang super-absurd sampai hal-hal keseharian yang sangat terasa relatable; seperti berbagai guyonan yang mengimitasi sifat-sifat buruk manusia. Mungkin Anda pernah lihat juga humor tentang tipe-tipe rekan kerja atau bos maupun juga skit mengenai lingkungan kerja di kantor. Di sana kerap disertakan gambaran oknum-oknum atau environment yang toxic dalam kemasan jenaka. In real life, I’m sure we all agree that it could be such a painful experience.
Here we shouldn’t talk about “ordinary” frictions between working partners or “normal” competitive atmosphere. Naif bila kita tidak bisa melihat dan mengakui bahwa tiap orang punya kepentingan dan golnya sendiri yang tak selalu selaras atau compatible dengan yang lainnya. Sampai pada level tertentu, pergesekan itu rasanya wajar saja terjadi. Perbedaan-perbedaaan dalam ragam aspek, seperti cara berpikir, berkomunikasi, karakter, kematangan emosional, dan sebagainya juga bisa memperumit situasi kerja. Akan tetapi, kondisi kompleks itulah yang merupakan kesempatan bagi kita untuk belajar banyak hal, which brings us to our better self.
Hal yang jadi masalah adalah ketika kondisi tersebut sudah berada di zona tak sehat. Di sini scale dan intensity berperan signifikan. Be grateful jika kita bekerja di lingkungan berisi atasan yang bagus, sedikit anggota problematik, atau minim terjadi situasi toxic. In this case, secara umum situasi lebih bisa terkendali, dan understandable serta tolerable bila bahkan anggota yang paling nice pun ada kalanya khilaf melakukan kesalahan – at the end, we are all human. Lain halnya bila kita berada di bahwa sebuah otoritas yang jauh dari ideal, atau dikelilingi penuh orang beracun dan dengan problem-problem tak sehat yang terjadi berulang kali dan terus-menerus. Situasi seperti ini bukan hanya draining dan damaging tapi juga dangerously infectious.

Apakah Anda pernah melihat orang-orang yang berubah jadi lebih “poisonous” setelah memasuki habitat baru? Mungkin juga kita sendiri tanpa sadar berubah – atau bahkan secara sadar mengubah diri – jadi sosok semacam itu untuk survive maupun mendaki tangga karir di sebuah workplace. Sebuah kenyataan suram ketika akhirnya banyak yang “menormalkan” – meskipun jarang yang mau jujur atau berani secara terbuka mengakui – hal-hal keruh di lingkungan pekerjaan. Sikut-menyikut dan saling mejatuhkan dengan ragam cara diterima secara wajar sebagai that’s the way it works.
Siapa yang tak mau sukses menaiki jenjang karir hingga level teringgi? Akan tetapi apakah valuable untuk mencapai hal-hal itu dengan cara yang tak patut? Bergelut secara ganas tanpa pandang moralitas untuk bisa terus menapaki tangga dunia kerja memang dapat menghantarkan pada posisi yang dinginkan, tapi apakah semua itu sepadan dengan segala efek kerusakan yang terjadi pada diri kita sebagai manusia? Ketika sepanjang pendakian karir kita terus saling menghantam dan menikam, bukankah saat akhirnya kita sampai di puncak kita telah menjadi seorang yang terkoyak, penuh luka, dengan rasa sakit yang membekas? Even worse, mungkin kita sudah berubah jadi monster bengis dengan segala bisa (racun) yang kita biarkan masuk dan menyebar ke dalam diri.
Dengan bertransformasi menjadi monstrous being, jelas kita kehilangan banyak hal precious sebagai manusia yang incomparable dengan segala rewards dalam kesuksesan karir. Apa nikmatnya menjalani hidup penuh sakit hati, luka batin, dihantui kecurigaan dan ketakutan akan serangan atau balasan orang lain, pikiran dan jiwa penuh tekanan, kecemburuan konstan akan pencapaian orang lain, maupun berbagai hal negatif lainnya? Belum lagi kurangnya relasi tulus, damai, dan membahagiakan dengan orang di sekitar. Kehidupan tanpa kasih sayang adalah kekeringan. Implikasi buruk lainnya adalah kita bisa menjadi bagian dari penerus rantai kekerasan. Mengenai apakah kita mau jadi mata rantai kebringasan atau menjadi pemutus rantai itu, ini adalah sebuah pilihan.

Setiap pilihan tentu punya risiko-risikonya sendiri. Now it’s the matter of whether or not we want to take the risks. Kalau di lingkungan kerja kita melawan arus gelap, bukan tak mungkin kita akan dihadang dengan berbagai hal dan terhambat untuk naik ke jenjang lebih tinggi. Pindah kerja bisa jadi salah satu opsi solusi yang reasonable. Kalau memang tak semudah itu memutuskan untuk keluar karena berbagai pertimbangan, berarti kita perlu memikirkan secara matang tentang bagaimana secara bijak menghadapi situasi yang terjadi.
Tentu saja kita tak mau jadi korban dari kondisi yang ada. Oleh karenanya penting mempelajari juga mencari cara untuk memproteksi diri dan stand up for our own self. Most importantly, don’t we ever forget to find moments to reflect. Penting untuk memiliki momen-momen berefleksi tentang apa yang terjadi di hari-hari kita, tentang tindakan-tindakan yang kita buat di dalamnya. Jangan sampai kita tanpa sadar justru tengah terbawa arus yang sesungguhnya tak mau kita ikuti.
Saya percaya bahwa mengupayakan yang baik juga akan mendatangkan yang baik. Walaupun, mungkin apa yang baik itu belum tentu apa yang kita angan-angankan. Pastinya, dengan menanam dan menumbuhkan kebaikan dalam melangkahkan kaki di anak-anak tangga karir, maka sesampainya di puncak, kita akan menjadi leader yang bukan hanya piawai dalam keahlian-keahlian profesional, tapi juga punya kepekaan dan empati pada anggota-anggota tim, serta membentuk iklim kerja yang sehat dan menginspirasi.